
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan di pintu kamarku. "Wulan, tolong buka pintunya. Ibu mau bicara", kata ibu dari balik pintu.
Aku melirik jam dindingku, pukul sembilan lewat. Seharusnya ibu sudah berangkat kerja jam segini, pikirku.
Aku beranjak dari ranjangku dan membuka pintu. Kami berdua duduk di bibir ranjang.Ibuku adalah tipe orang yang sulit mengekspresikan kasih sayang dan cenderung berpikir praktis, sehingga pagi itu tanpa basa-basi ibu langsung berbicara pokok permasalahan padaku.
"Deni berubah pikiran. Dia tidak mau menikahimu karena kamu hamil", ujar ibuku.
Aku tidak merasa terkejut atas penuturan ibuku. Sudah jelas Deni pria brengsek, tak mungkin dia mau jadi seorang ayah di usia muda. Aku diam menunggu ibu melanjutkan pembicaraannya.
"Ibu juga sudah di PHK dari pabrik Pak Darma. Ibu sudah terima pesangon juga kemarin. Ibu sudah tua tak tahu lagi harus bekerja apa. Satu-satunya pekerjaan yang memungkinkan buat ibu ya jadi pembantu. Ibu tak mau jadi pembantu disini, malu sarjana hukum tapi jadi pembantu. Mending ibu jadi TKW, jadi pembantu orang luar sana gajinya lebih banyak. Kamu masih mau lanjut kuliah?", kata ibuku.
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Kalau begitu, besok pagi ikut Ibu ke Bangil. Disana ibu punya kenalan bidan, teman sekolah ibu dulu. Ibu pernah minta bantuan sama teman ibu itu untuk menggugurkan kandungan. Ibu baru tahu bahwa ibu mengandung 2 bulan saat kabar kematian ayahmu datang. Sudah tidak ada yang mencarikan nafkah, tak mungkin ibu membesarkan seorang bayi. Siapa yang mau merawat? Kalau ibu cerita keadaan kamu, dia pasti mau bantu. Apalagi usia kehamilan kamu masih sangat muda", ujar ibuku.
"Terserah," jawabku pasrah.
__ADS_1
"Sebenarnya kalau kamu ga lanjut kuliah ibu mau menitipkan kamu sama Pakdhe Bowo di Lumajang. Rumah ini mau ibu jual saja"
"Jangan dijual, Bu. Ini peninggalan ayah satu-satunya. Wulan tidak rela", ujarku menolak.
"Siapa yang mau nempati rumah ini? Ibu jadi TKW, kamu kuliah di Surabaya", tanya ibuku.
"Dikontrakkan saja beserta perabotannya. Setidaknya kita tidak kehilangan rumah ini", usulku.
"Baiklah, ibu terima usulmu. Sebentar lagi ibu akan pasang tanda di depan pagar. Kamu segeralah makan. Ibu mau ke agen penyalur lalu mengurus paspor dan lain-lain", kata ibuku sambil beranjak dari kamarku.
Sepeninggal ibuku, aku tercenung. Ibu pernah menggugurkan kandungan, kenyataan baru yang sebenarnya cukup menghantamku. Seharusnya aku punya adik sekarang. Hatiku menghangat sekaligus pedih membayangkan adik yang mungkin akan menjadi teman mainku saat ini. Tapi aku juga memahami ibu. Sisi kepraktisan ibu membuatnya memilih jalan itu. Ibu harus bekerja menghidupi aku dan dirinya sepeninggal ayah. Kakek dan nenekku dari pihak ayah atau ibu sudah tiada, saudara-saudara ibu tinggal saling berjauhan. Bahkan ada yang tinggal di Kalimantan, sehingga tentu ibu tak akan bisa meminta tolong untuk menjaga anak-anaknya.
Aku bingung. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil makanan di dapur. Lambungku terasa perih, mungkin karena beberapa hari ini aku tidak makan dengan teratur. Seringnya sehari sekali, bahkan pernah tidak makan sama sekali. Hanya minum beberapa gelas air putih.
Di meja makan aku memakan makanan yang dimasak ibuku. Hanya masakan sederhana, opor ayam dan kerupuk udang. Ibuku dulu suka memasak dan membuat kue. Rasanya masih sama seperti ingatanku saat kecil.
Aku makan perlahan, menimbang berbagai kemungkinan yang aku miliki. Terbiasa mandiri sedari kecil membuat diriku menjadi orang yang logis dan penuh pertimbangan. Walaupun aku tidak dibesarkan menjadi orang yang religius, tapi aku masih percaya akan pahala dan dosa. Aku takut dosa dan neraka, jelas. Haruskah aku menggugurkan janin yang tak bersalah ini? Apakah pihak universitas mengizinkan mahasiswi yang hamil untuk tetap menjalankan kuliah?
Di satu sisi aku juga pasti akan malu akan pandangan orang jika aku mempertahankan kehamilan ini. Orang tidak akan peduli bagaimana aku bisa hamil tanpa seorang suami. Pandangan dan omongan miring pasti akan aku terima. Aku takut.
__ADS_1
Ibuku pulang saat menjelang maghrib. Tepat saat aku baru selesai memasak nasi goreng pedas dengan campuran teri kering dan ebi.
Saat makan malam dengan ibu aku menyuarakan kegalauanku sepanjang hari ini. "Bu, tidak apa-apakah aborsi? Apa tidak ada efek samping nantinya? Bukankah itu dosa, Bu?" tanyaku bertubi-tubi.
"Tak perlu berpikir dosa atau tidak. Apa Tuhan juga memikirkan bagaimana malunya ibu dan dirimu yang hamil tanpa seorang suami", jawab ibuku ringan.
"Tapi aku takut, Bu", kataku merana.
"Tak perlu takut. Semua ini demi masa depanmu. Kamu juga pasti tidak mau kuliah dengan perut membuncit. Besok jam delapan pagi kita berangkat ke Bangil naik motor. Dekat, tidak sampai satu jam perlananan", kata ibuku.
Aku hanya mengigit bibirku, menunjukkan bahwa aku tengah gundah. Setelah makan malam, ibu kembali ke kamarnya. Sementara aku membereskan meja makan lalu mencuci piring serta peralatan memasak yang tadi aku gunakan.
Aku kembali ke kamar. Berusaha tidur dengan perasaan resah. Aku nyaris tak dapat memejamkan mata malam ini. Aku mengambil ponsel yang tergeletak di nakas samping tempat tidurku. Ponsel yang tak pernah kubuka sejak kejadian malam itu, dan hanya aku sambungkan ke charger saat kulihat dayanya lemah.
Ada banyak pesan, bahkan sampai ada notifikasi bahwa ponselku tak mampu menerima pesan baru akibat banyaknya pesan pada kotak masukku.
Sebagian besar dari Ryo. Menanyakan kabar, meminta maaf, mengatakan dia masih mencintaiku. Aku tak tahu dia akan berubah atau tidak jika mengetahui tentang kehamilanku.
Aku mencampakkan ponsel di ranjang. Membaca pesan-pesan Ryo membuatku semakin resah. Memikirkan kembali semua kemungkinan dan kesempatan yang aku miliki sebelum aku mengambil keputusan. Aku mencoba memejamkan mata. Dan seperti biasa, mimpi buruk selalu mendatangiku setelah aku terlelap.
__ADS_1
Keputusan apa yang akan diambil oleh Wulan? Apakah ia akan mengugurkan janin yang sedang bertumbuh dalam rahimnya?