Wulan Di Malam Luka

Wulan Di Malam Luka
Bab 40 Pergi Tak Kembali


__ADS_3

Di belahan lain kota Surabaya, seorang pria tengah berduka. Adit baru saja masuk ke kamarnya setelah seharian berada di pemakaman. Hari ini, Kamis, 27 Februari 2011 anaknya telah berpulang. Menyusul kepergian sang Ibu yang enam bulan lalu telah mendahuluinya...


**Flashback On**


"Mas Adit, hari ini bisa pulang cepat?" tanya Anin pada suaminya.


"Ada apa, sayang? Mas hari ini agak banyak kerjaan" jawab Adit menjawab permintaan istrinya di seberang telepon.


"Seharian ini kepala Anin rasanya pusing terus. Obat tensi pagi tadi terakhir. Anin lupa ga info Mas Adit kemarin"


"Mas usahain ya. Jangan lupa makan, ya! Salam kangen buat calon anak Mas di dalem" kata Adit.


"Hhmm.. Hati-hati kerjanya ya, Mas. Love you"


"Love you too, to the moon and back" jawab Adit.


Adit menutup sambungan telepon dengan istrinya dan kembali menekuni pekerjaannya. Saat ini Adit bekerja sebagai arsitek di sebuah perushaan kontraktor sipil dan bangunan milik BUMN. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 sore. Adit berencana langsung pulang mengingat janjinya pada sang istri.


Sudah hampir maghrib saat Adit memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Rumah hadiah dari orang tuanya sebagai hadiah pernikahannya dengan Anin.


Adit langsung masuk ke dalam rumah dan memanggil-manggil istrinya.


"Anin! Sayang, mas pulang! Tumben ga jemput di depan pintu. Biasa denger suara mobil Mas dateng kamu pasti jemput di depan pintu" kata Adit sambil berjalan mencari-cari sosok istrinya.


Adit tak mendapati istrinya di ruang tamu maupun dapur rumahnya. Akhirnya Adit membuka pintu kamarnya, tapi juga tak mendapati istrinya.


Kemana Anin? Apa mungkin di kamar mandi? Adit membatin.


Perlahan Adit menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ketika pintu dia buka, tampak sesuatu berwarna merah berceceran di lantai. Dan istrinya tergeletak pingsan di lantai juga.


"Anin!" teriak Adit kaget mendapati istrinya berlumuran darah dan pingsan di kamar mandi.


"Anin, bangun sayang! Bangun!" Ditepuk-tepuknya pipi istrinya dengan panik. Dicobanya mendengarkan detak jantung istrinya. Masih berdetak.


Tanpa pikir panjang Adit langsung membopong istrinya dan memasukkannya ke kursi penumpang. Dipasangkannya seat bealt lalu melajukan mobilnya secepat mungkin.


Tak terpikir sama sekali oleh Adit untuk memanggil ambulans. Adit lupa jam-jam ini adalah jam orang pulang bekerja. Rumah sakit yang akan ia tuju berada di tengah kota dan merupakan jalur dimana kendaraan akan memadati jalan di saat jam berangkat dan pulang bekerja. Jalanan padat, kendaraan merayap. Jika saja Adit memanggil ambulans mungkin Adit bisa sampai lebih cepat di rumah sakit.


"Sayang, Anin. Kumohon bertahanlah. Jangan tinggalin Mas, Sayang. Maafin Mas, sayang" gumam Adit sambil meremas tangan istrinya yang duduk pingsan disebelahnya. Darah masih menetes-netes membasahi jok kursi penumpang.


TIIIIINNN TIINN TIIIIIIIIIIIIIINNNNNNN


Adit mulai tak sabar dan berkali-kali menekan klakson. Seakan dengan demikian dapat menyeruak kepadatan di jalan.


Setelah satu jam lebih berkutat dengan kemacetan akhirnya Adit memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk UGD. Adit segera membopong istrinya, dan berteriak-teriak memanggil dokter.


"Dokter! Dokter! Tolong istri saya! Tolong selamatkan istri saya!" teriak Adit seperti orang gila dengan masih membopong istrinya.


Seorang dokter dan perawat tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Silahkan baringkan disana, Pak! Suster, tolong panggil Dokter Erna" seorang dokter pria memberi instruksi dengan tegas.

__ADS_1


Adit membaringkan istrinya di ranjang yang ditunjuk oleh si dokter. Tak dipedulikannya darah yang telah membasahi kemejanya.


"Sudah berapa lama istri Anda pingsan?" tanya dokter sambil memeriksa reaksi pupil Anin.


"Saya kurang tahu, Dok. Saya pulang kerja, lalu mendapati istri saya bersimbah darah dan pingsan di kamar mandi"


Seorang dokter wanita datang.


"Berapa usia kandungannya?" tanya dokter wanita tersebut.


"Jalan 25 minggu, Dok. Anak dan istri saya bisa selamat kan?"


"Kami usahakan yang terbaik", jawab si Dokter pria.


"Suster, segera siapkan ruang OR" kata dokter wanita.


Anin akhirnya digiring menuju ruang operasi. Adit berlari menjajari ranjang pasien yang membawa istrinya, sambil mengenggam tangan dan bergumam. Meminta agar istrinya bertahan.


Beberapa saat kemudian, dokter wanita yang bernama Dokter Erna tadi menghampiri Adit.


"Jangan putus doa ya, Pak. Anak dalam kandungan Ibu Anin kemungkinan besar bisa di selamatkan. Untuk ibunya, kami usahakan semuanya semaksimal kami"


Adit hanya bisa mengangguk getir. Adit segera menghubungi mama dan ibu mertuanya. Mereka berkata akan bergegas menyusul ke rumah sakit.


Adit merasa sangat bersalah. Seandainya tadi siang dia tidak mengecilkan keluhan Anin, dan pulang begitu Anin meneleponnya, kejadiannya tak mungkin seperti ini. Adit mengusal rambutnya kasar.


Sejak awal, kehamilan Anin memang bermasalah. Pada masa-masa awal kehamilan tekanan darah Anin selalu di atas normal. Bahkan mendekati angka 150/100 saat kontrol terakhir seminggu yang lalu. Dokter Ibrahim mengatakan kehamilan Anin harus diawasi dengan ketat.


Hampir dua jam operasi berlangsung, akhirnya Dokter Erna keluar dari OR. Kedua orang tua Adit dan Anin sudah datang sejam yang lalu.


"Istri saya, Dok?"


"Anak saya, Dok?


Tanya Mama Anin dan Adit bersamaan.


Dokter Erna menggeleng sedih.


"Maafkan saya. Perdarahan yang terjadi saat sudah sampai disini sudah tidak terkontrol"


Adit dan kedua orang tua Anin langsung terduduk lemas. Menangis tersedu seolah tak percaya bahwa Anin dipanggil oleh Tuhan begitu cepat.


"Bayinya lahir hanya dengan berat 1550 gram. Kami akan mengusahakan yang terbaik. Saat ini kami akan membawanya ke NICU"


Adit merasa dunianya runtuh. Menyalahkan diri atas kebodohannya. Atas keteledorannya. Seandainya saja. Seandainya saja. Begitu banyak 'seandainya' yang dipikirkan Adit.


.


.


.

__ADS_1


.


#Enam bulan kemudian#


Setelah kepergian Anin, Adit nyaris tak pernah pulang ke rumah. Pulang hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah bekerja, Adit pulang kerumah sebentar kemudian langsung berangkat menuju rumah sakit, tempat Aluna berjuang antara hidup dan mati. Aluna, nama yang dipilihkan Anin saat dia mengetahui bahwa anak yang dikandungnya seorang perempuan.


Kondisi Aluna semakin parah. Berat badannya tidak bisa meningkat secara signifikan. Bahkan saat ini Aluna terserang pneumonia.


Adit baru saja menyelesaikan gambar desainnya untuk proyek baru saat ponselnya bergetar, dan memunculkan nama "Mama" pada layarnya.


"Ya ada apa, Ma?"


"Ke rumah sakit sekarang, Dit! Kondisi Aluna menurun drastis" kata Mama dari seberang sambungan.


Tanpa banyak kata, Adit langsung meminta izin pada atasannya yang lansung diizinkan.


Adit melajukan mobil seperti orang kesetanan. Sampai di rumah sakit Adit berlari di sepanjang lorong yang rasanya sangat panjang menuju ruang NICU. Sampai di ruang NICU adit langsung mengenakan seragam steril dan disposable hair net, disposable face mask.


Adit menghampiri anaknya. Menyentuh tangan mungil yang rapuh itu. Dada Aluna naik turun dengan cepat. Seolah berlomba dengan malaikat maut yang ingin menjemputnya.


"Aluna, bertahan ya, Nak. Kasihani Papa. Papa sudah tidak ada yang menemani" kata Adit tersedu.


Nafas Aluna semakin cepat. Adit tak tega melihat kondisi putrinya yang semakin kepayahan.


"Nak, mau nemenin Mama di surga kah? Kalau itu yang terbaik untuk Aluna, Papa ikhlas. Maafin Papa ya, Nak. Papa tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Aluna"


Bertepatan dengan itu dada Aluna berhenti bergerak, dan monitor jantung yang mengawasi aktifitas jantung Aluna menunjukkan segaris panjang.


Tiiiiiiiitttttt


Aluna telah menyusul sang Ibunda.


*Flashback Off*


Sudah hampir tengah malam. Tadi Adit berada di pemakaman Aluna sampai matahari condong ke ufuk barat dan nyaris tak terlihat. Aluna dimakamkan tepat disisi sang Ibunda. Setelah dari pemakaman Adit menyempatkan bertemu dengan para pelayat yang menyampaikan ucapan duka dan bela sungkawa.


Adit berbaring dikamarnya dengan lengan menutupi mata. Lengan kemejanya basah oleh air mata.


Diambilnya ponselnya dan dibuka galeri. Dia memandangi foto-foto dirinya dan Anin. Membangkitkan kenangan, membuat hatinya kembali teriris.


Tiba-tiba Adit tersadar hanya ada satu foto Aluna dalam galerinya, foto saat Aluna baru lahir. Dipandanginya foto Aluna yang terbaring dengan berbagai alat yang terpasang pada tubuh mungilnya yang prematur. Adit menyadari, dia tidak memiliki foto bersama putri kecilnya. Adit menangis penuh sesal.


Di tempat ini, seorang pria sedang menangis tergugu kehilangan putri dan istrinya pada saat yang nyaris bersamaan. Putri yang bahkan belum sempat dia dekap.


Di tempat yang lain, seorang wanita sedang berjuang melahirkan seorang bayi laki-laki.


********************************************


~ *PDA singkatan Patent Ductus Arterious, merupakan kondisi cacat jantung yang disebabkan oleh masalah pada perkembangan jantung.


~ Sepsis, merupakan suatu komplikasi infeksi yang mengancam jiwa.

__ADS_1


~ NICU singkatan Neonatal Intensive Care Unit, ruang perawatan intensif di rumah sakit yang disediakan khusus untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan.


~Pneumonia adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi*.


__ADS_2