
Aku tidak bertanya detail apa dan bagaimana soal penyakit itu. Karena, ku lihat Mas Teddy jelas sekali sangat terpukul dengan vonis itu. Hanya kata "Maaf,.." yang terucap darinya untukku.
Saat itu, aku mencoba menerima semuanya. Mencoba kuat dan mengalihkan fokusku pada langkah apa yang akan kita ambil.
Namun, kondisi kesehatan Mas Teddy terus down dan begitupun dengan ku yang juga terkena efeknya.
Akhirnya Mas Teddy menyarankan aku untuk tinggal sementara dengan orangtuaku, mengingat kondisi aku yang tengah hamil dan sakit juga. Butuh perawatan dan penjagaan yang ekstra, sedangkan Mas Teddy juga sedang sakit.
"De... Sebaiknya, adek tinggal sementara sama mama di Bogor ya. Biar nanti adek ada yang merawat, kalau mas disini ada mama dan banyak yang merawat juga."
Ku ikuti saran dari Mas Teddy, karena memang kondisi kami sedang tidak baik-baik saja. Menyelamatkan diri masing-masing, menjaga diri masing-masing. Akh entahlah, aku benar-benar ingin pergi dahulu.
Mungkin banyak yang mengira dan menyangka yang aneh tentang kepergian ku, tapi ini adalah permintaan dari Mas Teddy sendiri.
Mas Teddy mengantar kepergian ku di balik jendela mobil.
"Maaf, mas gak bisa mengantar sampai rumah mama ya."
"Iya mas, gak apa-apa. Mas jaga kesehatan ya?"
__ADS_1
Pak supir melajukan kendaraan roda empat dengan kecepatan yang normal. Suasana masih hening tanpa pembahasan apapun.
Perjalanan yang memakan waktu yang lumayan lama, Faya sudah kesana kemari membetulkan posisinya. "Lumayan juga ya, dengan kondisi hamil besar begini. Pergi jauh-jauh begini.." Lirih ku sendiri dalam keheningan.
Ku kabarkan keberangkatan ku pada orang rumah, agar mama disana tidak kaget jika aku sudah sampai disana.
Hari ini sudah tidak ada air mata seperti sebelumnya, tapi diriku masih terdiam dan entah apa yang ada dalam pikiranku.
Setelah perjalanan 5 Jam, karena jalanan lumayan cukup ramai. Sampailah di rumah mama dan ku rebahkan tubuh ini di tempat kesayanganku. Benar, rumah ternyaman adalah rumah orangtua sendiri.
Komunikasi antara aku dan Mas Teddy masih lancar dan hampir setiap hari kami saling mengirim pesan bahkan sesekali kami menelepon.
Dua yang kemudian, Mas Teddy menyarankan aku untuk segera pergi ke Rumah Sakit untuk di periksa lebih lanjut.
keesokan harinya, aku langsung mencari Rumah Sakit di daerah kami yang bisa menerima kondisiku dan akhirnya ku menemukannya.
Melewati serangkaian prosedur meski yang ku lalui terasa alot, bahkan aku bisa dibilang seperti tidak di pedulikan setelah mereka tahu aku Pasien dengan kondisi special dan belum mendapatkan perawatan sama sekali.
Jelas aku sedih, karena sejelek apapun kondisiku. Jelas mereka tidak ada hak untuk memberikan penghakiman untuk ku sedikit pun, karena aku sendiri tidak tahu menahu tentang penyakit ini, penyebabnya apa dan dimana terpaparnya.
__ADS_1
Aku bukan merasa sok suci, namun aku tak pernah neko-neko dalam menjalani pergaulan. Bahkan, aku menjaga diri dengan baik sampai sekarang sekalipun. Hanya Mas Teddy yang menyentuhku, itu pun setelah kami menjadi suami istri yang sah di mata hukum dan agama.
Ku hembuskan nafasku, entah prosesnya membuat aku benar-benar merasa lelah. Aku ingin menangis, tapi bukan salah mereka juga jika mereka mengira yang aneh-aneh. Iya, itu hak mereka sebetulnya. Namun, agak aneh karena mereka adalah orang-orang yang paham dengan dunia kesehatan dan tentunya mereka juga punya kode etik kesehatan yang sudah mereka pegang.
Akh, namanya juga manusia biasa. Lagi-lagi aku mencoba mengalah dengan diskriminasi yang terjadi. Daftar awal tapi dapat giliran yang terakhir. Ke yang lain responnya manis, berbeda dengan aku mereka jutek dan seolah gak suka. Akh, kayaknya mereka punya dendam dengan ku. Aku mencoba menghibur diri.
.
.
.
.
.
.....
Nantikan episode selanjutnya, Novel YULIA akan update setiap Senin-Jumat di jam 16.00 wib ya.
__ADS_1
Maaf untuk kali ini, tidak bisa setiap hari di karenakan jadwal sudah kembali padat merayap.
Terimakasih atas perhatiannya,.. 🤗❤️