YULIA

YULIA
Kok tidak Sama


__ADS_3

"Mas Akbar,.. Yuli boleh tanya sesuatu?". Aku beranikan diri untuk bertanya tentang sesuatu hal yang selama 4 tahun setelah kepergian Mas Teddy, belum aku tanyakan. Karena, kita entah kapan akan bertemu kembali.


Hal ini sangat mengganggu aku, aku bingung dan cukup takut untuk mengetahui dan mencari tahunya.


"Kenapa Yul, kok diem aja.. Aku dari tadi memperhatikan. Mau tanya apa?". Akbar melambaikan tangannya di depan wajahku, menyadari bahwa pikiranku sudah jauh berkelana.


"Ekh, iya... Hmmm, gimana yah,... Mas, dulu kenal dengan almarhum Mas Teddy dimana?". Aku sudah akrab tapi nyatanya aku belum mengetahui detail tentang Mas Teddy dan Mas Akbar awal bertemu, apakah jawaban Mas Akbar sama dengan penuturan Almarhum?.


"Hm... Dulu kita bertemu pas dia udah keluar dari Zolea dan menanyakan pabrik pembuatan sepatu di daerah sini dimana." Jelasnya dengan seperti biasa, namun ada raut kelegaan yang terpancar di wajahnya ketika mengatakan hal itu.


Lanjutnya... "Aku lega sekarang, karena kamu menanyakan hal ini kepada ku".


Dibalik kelegaan Mas Akbar, nyatanya aku mengerutkan kening ku dan mencocokan jawaban Mas Akbar dan Mas Teddy ternyata tidak sama.


"Kenapa mas, merasa lega?". Aku menyelidiki hal yang ingin aku ketahui.


"Iya, rasanya lega bisa cerita sama kamu seperti ini". Jelasnya singkat dan Mas Akbar menyadari raut wajah ku yang mulai berubah.

__ADS_1


"Oh begitu..." Aku bingung harus berkata apa, bingung karena jawaban keduanya berbeda. Jelas mas Akbar bercerita yang sebenarnya, karena itu yang ku ketahui dahulu.


Mas Teddy dan Mas Akbar mulai bersahabat belum lama ini, tapi dari penuturan Teddy mereka sudah mengenal sejak lama alias teman lama.


Aku mematung dan semakin bertanya-tanya dalam diri sendiri, "kenapa mas Teddy membohongiku?. Apa yang ia sembunyikan?".


Akh, segala tanya yang aku khawatirkan terasa berat untuk aku telan. Karena, kemana lagi aku bertanya?. Mas Teddy sudah berbeda alam.


"Teddy itu orangnya gak suka cerita hal-hal yang lain, dia lebih banyak cerita soal usaha dan cara mengembangkan usahanya. Aku sebagai sahabatnya tentunya harus mendukung apa yang menjadi impian dan planningnya. Aku tak pernah bertanya lebih detail di luar konteks kerjaan." Lanjut Akbar, melihat reaksiku yang masih terdiam sedari tadi.


"Hm.. Iya mas,.." Aku hanya mengiyakan, sebetulnya masih banyak tanda tanya. Tapi, rasanya Mas Akbar terlihat tidak menyembunyikan apapun seperti yang di duga kebanyakan orang.


Mas Akbar, ada apa sebenarnya... Aku ingin bertanya lebih lanjut tapi pertanyaan ini kurang tepat untuk mu.


"Mas, aku ijin ke toilet yah sebentar bisa tolong jaga anak-anak dulu?". Pinta ku pada Mas Akbar.


"Iya boleh..." Jawabnya singkat.

__ADS_1


....


Aku membasuh wajah ku dengan air, sedikit menyegarkan pikiran ku yang entah makin berasa aneh. Kenapa almarhum suami ku berbohong, apa yang ia sembunyikan. Apa hal ini ada kaitannya dengan sebab penyakit ini muncul? Akh mas, kenapa semuanya makin menakutkan untuk ku?


Ingatan ku kembali ke sebuah episode yang sangat kelam untuk ku.


Dering ponsel berbunyi dan itu dari Mas Teddy, seseorang yang sedang aku tunggu kabarnya dari tadi.


"Sayang, mas sudah di Rumah Sakit ini tapi hasil cek labnya seperti ini. Ini maksudnya apa ya, aku gak ngerti.."


"Maksudnya bagaimana Ayy, apanya yang gak ngerti? coba kirim ke aku ya. Biar aku liat hasilnya kayak gimana." Penasaran dengan hasil lab nya, kenapa mas Teddy sepertinya terdengar aneh.


Tinggg...


Bunyi notifikasi pesan singkat yang aku tunggu sudah terdengar, langsung ku buka dan isinya membuat aku mematung dan sedetik kemudian berurai air mata.


"Mas...." Aku memanggil namanya dengan lirih, terduduk dan menangis di keheningan pagi itu.

__ADS_1


....


Apa isi pesan dari mas Teddy bagaimana hasil labnya? Kenapa Yulia terlihat terpukul seperti itu? Nantikan episode selanjutnya ya.


__ADS_2