
"Bu silahkan masuk ke dalam..." Panggilan itu ditujukan kepadaku.
"Alhamdulillah,.. iya Bu." Aku bergegas menuju ke dalam ruangan yang berbau khas dan penuh dengan pernak-pernik dunia kesehatan.
"Bagaimana hasilnya Bu dokter?" Ku beranikan diri untuk bertanya lebih dahulu, meskipun rasa dalam hatiku sudah tak karuan.
"Ini hasilnya,.." Bu dokter sambil memberikan kertas yang berisikan hasil tes tadi.
Aku langsung mencari kolom yang letaknya sudah aku ketahui, karena ini bukan kali pertama aku memegang kertas ini.
Aku bahagia bukan main ketika hasilnya baik, tapi sedetik kemudian aku kembali gusar. Bagaimana bisa hasilnya baik-baik saja, terus kenapa punya suamiku malah berbeda.
Masih dalam kebingungan yang sangat, aku memutuskan untuk segera keluar dari ruangan ini.
"Bu, makasih ya." Terimakasih karena telah sabar dan tidak bertanya-tanya tentang hal ini, mengingat ini bukan hal yang pertama.
"Iya sama-sama, hati-hati dan jaga kesehatan ya." Dokter terus tersenyum dan memberikan dukungan dengan tulus.
Setelah keluar dari ruangan, langsung aku foto hasilnya dan ku kirim kepada Mas Teddy.
"Mas ini hasilnya, tapi hasil ku baik-baik aja. Kok bisa yah, harusnya kalau mas kena, aku juga kena." Isi pesan ku kepada Mas Teddy.
Setelah mengirim pesan, aku memutuskan untuk makan soto yang dari beberapa Minggu yang lalu ingin aku makan. Akh rasa yang waktu itu aku rasakan seperti masih terasa, rasanya candu sekali. Kebetulan sotonya tidak jauh, posisinya ada di seberang jalan ini.
Kondisi kehamilan yang udah memasuki lima bulan ini, tapi masih sering menginginkan sesuatu. Bahkan sampai ke bawa mimpi, seperti saat ini ingin sekali makan soto, sepertinya bisa mengobati segala kegundahan dan pening di kepala ku ini.
"Mas, soto yah..." Pesan soto dan kembali mencari tempat duduk yang nyaman untuk ku. Ku lihat ponselku kembali, ternyata pesanku belum di baca oleh suamiku, mungkin dia lagi sibuk sekarang.
Pesanan ku telah datang dan langsung aku memulai meracik bumbu sesuai seleraku. Meskipun kondisiku sedang tidak baik-baik saja, tapi inilah caraku untuk menghibur diriku sendiri. Ya, aku harus membahagiakan diriku sendiri dan tetap berusaha untuk berbaik sangka. Apalagi aku sedang mengandung, tentunya aku harus menjadi kuat untuk semuanya.
Ku santap soto kesukaan ku, tapi tatapanku selalu kesana kemari memperhatikan orang di sekitar yang memang sedang sibuk dengan aktifitasnya.
Tempat penjual soto ini, memang letaknya di depan alun-alun yang memang untuk jam segini sedang ramai sekali. Apalagi disebelah baratnya ada Mesjid yang lumayan megah. Cocok sekali kan untuk menjadi tempat orang-orang melepas lelah dengan bersantai atau bersenda gurau sambil menikmati menu-menu makanan yang tersaji disini.
Ponselku menyala, menandakan ada pesan baru yang masuk. Ku buka dan inilah pesan yang aku tunggu sedari tadi.
"Alhamdulillah ya Allah, mas yakin Ade gak akan kena. Tapi, iya juga sih. Kalau Ade gak kena, ada kemungkinan mas juga gak kena. Bisa saja hasil punya mas itu sebuah kekeliruan."
Aku baca dengan seksama, sungguh aku tersenyum dan berdoa semoga apa yang kita harapkan semuanya menjadi kenyataan. Dan semua mimpi buruk itu hanya sebuah mimpi saja.
Ku balas dengan cepat, saking senangnya dengan hasil yang ku terima.
"Iya mas, hmmm... Gimana mas cek ulang disini, kita pastikan kembali. Semoga hasilnya bisa bagus juga."
"Iya, nanti Mas segera pulang ya dan kita cek ulang. Terimakasih ya sayang, maafkan mas telah membuat Ade sedih. π"
__ADS_1
Akh suamiku, aku tersenyum melihat emoticon yang ia kirimkan dalam pesannya.
"Iya sayang, love youπβ€οΈ"
"Love you too, tetap jaga kesehatan ya, bahagia selalu cintaku sayang ku dunia ku.β€οΈ"
Ku balas dengan singkat. " Siap komandan, mas juga jaga kesehatan dan jangan khawatir ya. Semoga Allah menjaga kita semua. π€²ππ"
Ku tutup ponselku dan melanjutkan acara makan yang tertunda. Segera aku bereskan, mengingat aku meninggalkan Faya sudah terlalu lama.
Sebelum pulang, aku kembali mencari buah tangan agar nanti Faya bisa tersenyum gembira.
Setelah dapat, aku langsung mencari angkutan umum dan pulang dengan perasaan yang sedikit lega. Setidaknya ini untuk sementara.
...
Dua hari kemudian, hari yang aku tunggu akhirnya tiba.
"Assalamualaikum..." Terdengar suara yang sudah tak asing untuk ku, aku langsung ke depan untuk membukan pintu.
"Wa'alaikummussalam..." Sosok yang selalu ku rindukan itu kini telah ada disini.
"Waaah, Faya cantik sekali, wangi lagi.... Kangen ayah gak nih? Ayah kangeeun bangeeet." Emmmm baru datang yang langsung di peluk malah anaknya, aku cemberut di balik pintu. Suamiku sudah tahu kalau aku akan merajuk seperti ini, dia senang menggodaku.
Mas Teddy membalikkan badannya yang sedang menggendong Faya. Dan memeluk ku sangat erat.
"Mas juga sangat sayang dan cinta sama istriku yang pencemburu ini."
Mendengarnya merayuku, sungguh aku sangat bahagia dan sedikit melupakan kesedihanku beberapa hari ini.
"Ayo kita duduk mas, aku ambilkan air hangat dulu ya. Mas mau langsung makan atau mandi?" Seperti biasa, aku memberikan pelayananku sepenuh hati untuk kunci surga ku ini.
"Nanti dulu dek, mas mau minum dan istirahat dulu disini." Mas Teddy merebahkan tubuhnya di sofa dan bermain dengan anaknya sambil berbaring.
Terdengar suara riang ayah dan anak di dalam sana. Aku tersenyum dan merasa bersyukur. "Ya Allah, jagalah kami di dunia dan di akhirat, jangan berikan kami ujian yang tidak bisa kami memikulnya. Bahagiakan kami ya Allah." Aku berdoa dengan lirih sembari berjalan membawa segelas air hangat kesukaan Mas Teddy.
....
Matahari telah kembali ke peraduannya, memberikan kesempatan pada sang rembulan untuk memberikan keindahannya pada penduduk bumi.
"Besok pagi kita berangkat kesana ya, sekalian kita jalan-jalan juga." Mas Teddy membuka pembicaraan sebelum tidur.
"Iya mas, semoga hasilnya baik-baik saja ya. "
Saat itu, Mas Teddy bercerita tentang kejadian beberapa waktu lalu saat di Rumah Sakit.
__ADS_1
Aku bisa menangkap bahwa Mas Teddy memang sangat kaget dan bingung apa yang harus dilakukannya.
Aku hanya memeluknya tanpa berbicara apapun, entah aku hanya ingin memeluknya. Hingga akhirnya kita sama tertidur sampai suara azan subuh terdengar.
....
Tibalah saatnya kita pergi ke tempat yang beberapa hari ini menjadi topik pembicaraan.
"Mas aja yang daftar ya, antriannya lumayan panjang. Kasian Ade lagi hamil dan faya masih kecil."
Setelah semua administrasi beres, kita langsung menuju ruangan terhoror. Akh aku menyebutnya horor karena disinilah kita bisa menyaksikan sebagian orang ada yang menangis dan ada yang bahagia.
Lama sekali Mas Teddy di dalam ruangan itu, karena aku dan faya memang menunggu di luar.
"Kenapa ayah lama sekali yah,.." aku bertanya pada Faya agar ia tidak cepat bosan.
"Ayah lagi di periksa dokter, biar gak sakit lagi Bu." Memang Faya anak yang sudah fasih berbahasa, meskipun usianya belum genap 3 tahun. Alhamdulillah itu salah satu nikmat yang harus kami syukuri sebagai orangtuanya.
"Dek, sini..." Tiba-tiba Mas Teddy memanggil dan mengintruksikan kami untuk masuk ke dalam.
Aku mengernyitkan dahiku karena tidak biasanya prosesnya lama seperti ini. Ada apa sebenarnya?
Ku langkahkan kaki ku sembari memegang tangan Faya yang mungil.
"Oh ini istrinya, silahkan Bu duduk..." Dokter menginstruksikan aku untuk duduk.
Aku memperhatikan dengan seksama, sebetulnya apa yang terjadi.
"Begini Bu,... Kita ambil sample ibu juga ya dan anaknya." Lanjut dokternya berbicara sembari mempersiapkan peralatannya.
Aku mengangguk menandakan aku setuju dan menunggu hasilnya dengan perasaan yang masih berkecamuk.
Mas Teddy juga tidak banyak berbicara, ia menggendong Faya dan menenangkannya karena ia juga sudah di ambil samplenya.
Ku tatap wajah suamiku, namun tak ada jawaban.
Bu dokter kembali dan memberikan hasilnya.
....
Apa hasilnya? Kenapa prosesnya begitu terasa lamban?
Nantikan kelanjutkan ceritanya hanya di NovelToon kesayangan anda, update setiap hari di jam 16.00 wib.
Terimakasih atas apresiasinya, terimakasih yang sudah like, comment dan subscribe ya. Jika Novel Perahu Kehidupan Yulia ini banyak kebaikannya, silahkan di share ya. βΊοΈ
__ADS_1