
Masih dengan kebingungan yang mengundang segala kegundahan. Aku memperhatikan dokter yang telah membawa hasil yang ku tunggu sejak tadi dan menyimak dengan seksama apa yang Dokter sampaikan.
"Baik, ini hasilnya...." Sambil memberikan alat yang aku sama sekali tidak tahu. Karena, beberapa kali aku datang kesini belum pernah melihat alat ini. Dokter selalu memberikan hasil akhirnya, tapi berbeda untuk kali ini.
Aku mengernyitkan dahi dan menajamkan penglihatan ku ketika melihat benda itu.
"Begini Bu, ini hasilnya menunjukan ibu dan bapak sudah terinfeksi virus ini. Dan Alhamdulillah untuk si adek hasilnya baik." Dokter menjelaskan dengan singkat, karena melihat ekspresi aku yang mungkin masih bingung. Akhirnya dokter melanjutkan penjelasannya.
"Ini alat nya baru datang hari ini, mungkin pas waktu kemarin-kemarin alatnya sudah tidak akurat. Jadi, ketika saya cek yang punya si bapak tadi. Hasilnya menunjukan reaktif, untuk itu saya meminta ibu dan adek di periksa juga. Dan inilah hasilnya sekarang."
Aku langsung menangis, dadaku terasa sesak dan pikiranku entah tak bisa aku kondisikan.
Air mata seolah-olah lupa kapan ia harus meluncur keluar, Bu dokter langsung memeluk ku dengan erat dan membiarkan aku untuk mengeluarkan keterkejutan ku saat itu.
Masih dalam posisi yang entah bagaimana, aku bingung hanya air mata yang berbicara.
Bu dokter memberikan empatinya dengan memberikan semangat dan berprasangka baik kepada kami. Tapi, aku masih syok, bener sesakit itu.
Setelah beberapa waktu, aku mulai tenang dan memutuskan untuk pulang. Akhirnya kami pulang dan meninggalkan ruangan yang menakutkan itu.
....
"Ibuuuuuu...." Suara Raya terdengar sangat nyaring, aku terbangun dari masa kelam itu.
__ADS_1
"Waaaah, anak kesayangan ibu udah bangun. Nyenyak sekali tidurnya, ini kira-kira tidurnya jam berapa?"
Ku goda anak bungsu ku, yang suka tidur di sore hari dan Bagun setelah Isya. MasyaAllah, masih jadi PR ini mengkondisikan tidurnya biar normal seperti kebanyakan anak lainnya.
Anak-anak menjadi penghibur diriku yang rapuh ini dan mereka menjadi salah satu alasan aku untuk terus maju walau aku merasakan kesakitan yang tidak bisa aku jelaskan.
Tentang darimana bisa terkena penyakit seperti itu? Tentang kepergian suami? Dan tentunya semuanya terasa datang secara bertubi-tubi.
Apakah aku sakit? Iya, aku sakit tapi aku masih dan akan terus berusaha untuk tidak kalah dengan kondisiku, karena aku tahu ada Allah bersamaku.
Tiga tahun berlalu, aku melakukan berbagai cara agar luka ku tak semakin membesar. Bukan luka fisik, tapi luka batin ku yang jika di biarkan akan berakibat fatal.
Sebelum kelahiran anak bungsuku Raya, beberapa kali aku ingin menggugurkannya. Tidak bukan ingin, tapi hanya selintas bisikan agar aku menggugurkannya. Hanya karena aku takut anak-anak ku merasakan yang sama seperti aku.
Selama tiga tahun itu, perjuangan di mulai. Perjuangan yang di iringi air mata untuk bisa kembali seperti semula. Bahkan aku ingin menjadi lebih baik, mengubah ujian menjadi anugerah terindah.
Terimakasih anak-anak ku, keluargaku dan semuanya. Support kalian tentunya Allah kirim untuk menjadi bagian penyembuhan luka ku.
.....
Ku raih ponsel ku, menatap kembali Inbox yang belum sempat aku balas.
Akh, biarlah jika memang ia jodohku tentunya tak akan kemana. Untuk saat ini, aku hanya ingin menyembuhkan luka ku tanpa orang baru.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
........
Nantikan kelanjutan ceritanya hanya di NovelToon kesayangan anda, update setiap hari di jam 16.00 wib.
Terimakasih atas apresiasinya, terimakasih yang sudah like, comment dan subscribe ya. Jika Novel Perahu Kehidupan Yulia ini banyak kebaikannya, silahkan di share ya. ☺️
Ijinkan saya untuk melanjutkan menuliskan kisah Yulia sampai akhir, sejatinya sebagian dari kisah ini adalah real.
__ADS_1
Biarkan saya menulis seperti apa takdir Yulia kedepannya, agar Yulia benar-benar bisa bahagia. Karena ia berhak untuk bahagia, ia berhak untuk tersenyum kembali meski dunianya sudah tidak sama lagi.