YULIA

YULIA
BERANGKAT KE PERGURUAN


__ADS_3

"Selamat ya..." ucap Ryu bangga .


"Selamat tuan....!" seru Dolly dengaam bangga .


"Trimakasih...dan aku sekarang akan mencoba mempelajari master yang mendalam ..." ucap Yulia dengan wajah tenang .


"Apa...kau ingi mempelajari Fornasi Guru yang mendalam...?" seru Ryu dan Dolly hampir bersamamu.


"Akan aku coba...bukanya aku sudah memiliki dasar dari ilmu itu..." jawab Yulia. Kedua hewan kontrak Yulia menatapnya dengan wajah tak percaya . Bagaimana bisa di dalam otak sekecil itu masih menginginkan kemampuan ketrampilan di segala bidang. Tapi mereka juga sadar, kalau kekuatan otak wanita ini beda dengan yang lain .


"Di dalam mempelajari fornasi yang mendalam di butuhkan kekuatan mental yang tinggi Lia'er...." ucap Ryu . Mereka segera keluar dari ruang perpustakaan.


'Aku tahu...dan aku mulai melatih itu..." jawab Yulia .


Mereka mulai berjalan keluar menara. Sesampainya di luar menara. Yulia memilih berlati di halaman Menara. Tepatnya di bawah pohon bunga Sakura . Terlihat ke empat hewan Kontrak Yulia duduk agak jauh sambil menatap kearah Yulia. sedangkan burung Kontrak Yulia si Heisi sudah beberapa bulan ini berkultivasi entah di mana diruang Dimensi ini juga. Terlihat Yulia mulai duduk lotus . Dengan kedua tangan berada di atas pangkuan. terlihat mata Yulia mulai terpejam . Dan dengan tenang , Yulia mulai kosentrasi mengeluarkan kekuatan mental Alam fikirannya. Yulia melihat Api merah di atas Dentiannya terlihat tenang. Dengan kesabaran Yulia terus memusatkan Fikiran kearah jari telunjuknya. Dan perlahan, terlihat cahaya Sinar perak samar terlibat di telunjuk tangan kanananya. Dia yang sudah memiliki dasar Kekuatan Mental berusaha memperkuat cahaya putih di telunjuknya . namun cahaya itu masih terlihat redup . walaupun dia sudah mengerti cara membuat Aray , namun tidak mudah mengembunkan kekuatannya di jari tangannya. Satu jam , dua jam. Dan hampit tiga jam kemudian dia bari bisa membuat cahaya di tangannya mulai tetang. Perlahan dia mulai mencoret udara berusaha membuat aray pembatas formasi guru mendalam tingkat pertama yang telah dia baca . Dengan Kekuatan yang baru dia dapatkan, Yulia berusaha memnyempurnakan kekuatan formasi penghalang itu. Namun ternyata dia gagal. Tak putus asa Yulia kembali membuat lagi dan lagi . akhirnya pada pembuatan yang kelingan, Dia merasa gembira. Terlihat penghalang tingkat pertama bisa dia buat dengan sempurnah.Dan itu tanpa dia sadari membutuhkan waktu hampir dua hati . Namun Yulia tersenyum dengan gembira.


"Tidak masalah...untuk formasi yang pertama aku cukup lama membuatnya..." ucap Yulia pelan.


Ryu dan Dolly yang melihat itu, ikut gembira juga.


"Hebat...kau hebat Lia'er...dengan Cepat kau bisa membuat Formasi pertama..." ucap Ryu.


"Selamat tuan...kau memang hebat...kau tidak memiliki guru fornasi. Tapi kau mampu mempelajarinya....!" Seru Dolly.


"Kau semakin hebat Ibu....!" uvap Bai Feng.


"Kami bangga padamu..." kanjut Bai Fan.


"Mulut kaluan memang manis...." ucap Yulia sambil tertawa.


"Tapi aku ucapkan trimakasih. Kalian telah menjagaku..." ucap Yulia .


"Itu memang sudah tigas kami ..." jawab Ryu.


"Berapa hari aku di Sini Kak..." tanya Yulia.


"Kalau di hitung sejak kau masuk, ada Empat hari..." jawab Ryu.


"Kalau begitu aku harus kembali dulu..." ucap Yulia.


Yulia segera berdiri dan membersihkan bajunya. Dia kembali kedalam menara untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Setelah itu Yulia segera kembali ke alam nyata, Dan di alam Nyata ternyata hari telah mulai pagi. Empat hari di ruang Dimensi , sama dengan dia hari di alam nyata .Yulia berjalan keluar dari kamarnya . Ketika dia membuka pintu , ternyata kedua bocah kembarnya sedang menunggu di depan Pintu.


"Bunda ... kau sudah selesai berlatih..." ucap Wang Hai dengan wajah berseri .


"Sudah sayang.. Kalian tidak berlatih..?"tanya Yulia lembut sambil membela dua kepala di depannya.


"Bunwang Hai kangen bunda...?" ucap bocil tampan itu .


"Dua hari kau sudah kangen bunda...?" goda Yulia.


"Wang Hao juga Bunda...." ucap si pendiam Wang Hao .


"Benarkah...? Kasihan Putra Bunda...kalau begitu Ayo kita bermain di kebun buah..." ajak Yulia.


"Apa boleh Duo Bai ikut bermain...?aku ingin bermain dengan Duo Bai juga Bunda .." ucap Wang Hai .


"Benar bunda.. kami sudah beberapa hari ini tidak bermain dengan mereka...." tambah Wang Hao.


"Baik. Baik... Mereka akan bermain bersama kita...." ucap Yulia sambil tertawa pelan.


"Yeee... Bunda memang yang terbaik..." seru Wang Hai gembira . Sedangkan Wang Hao terlihat hanya tersenyum sekilas.


Akhirnya Yulia mengeluarkan Bai Fan dan Bai Feng keluar dari ruang Dimensi. Beberapa saat kemudian terlihat ketiga orang itu berjalan menuju kebun buah setelah berpamitan pada tuan Wang yang kebetulan bertemu di depan rumah . Terlihat Kedua pria kembar itu bermain dengan dua singa milik sang Ibu di jalan menuju Kebun buah .


Selama di sana , Nyonya Chu Tianing dan Yura sudah terbiasa dengan wajah tampan si kembar. Walau dia belum tahu kenapa wajah tampan si kembar harus di tutup saat keluar dari Desa Fanrong . Karena dia belum pernah melihat wajah Kaisar Kim secara jelas. dan kini mereka harus di kejutkan dengan dua Singa Putih milik Yulia yang sedang bermain dengan si kembar. Hari ini saat pertama kali Yura bertemu, hampir Saja Yura berteriak dan ingin menyerang dua singa yang sedang berjalan dengan Si kembar . Untunglah dia ceoat sadar kalau ada Yulia bersama mereka. Setelah dia tahu kedua singa itu milik Yulia, dia terlihat keheranan dan semakin kagum Pada Yulia. Tapi tidak bagi rakyat Desa Fanrong . mereka sudah terbiasa dengan si kembar dan dua singa teman mereka itu.


Hari- hari selama menungggu masuk perguruan di pergunakan oleh Yulia untuk berlatih ilmu pengobatan dan memperkuat kekuatan mental dan jiwanya. Jika Yulia tidak keluar dari kamar bersama kedua Putranya atau Dia sendiri, tidak ada yang bertanya. Hanya Yura yang Terkadang bertanya atau heran sendiri.


Dan hari- haripun berlalu dengan cepat . tanpa terasa hari masuk perguruan tinggal empat hari lagi . dalam waktu satu bulan, Kaisar Kim benar- benar tidak datang menemui si Kembar.


Dan hari ini terlihat Yulia dan kawan- kawan sudah bersiap akan berangkat ke kota Malada .


"Lia'er...jaga diri dan Putramu dengan baik. Ingat kau jangan keras pada dirimu sendiri . jangan berlatih terlalu keras.." ucap tuan Wang Yu Ran pada Putrinya.


"Baik Ayah... Yulia akan selalu mengingat nasehat Ayah..." jawab Yulia lebur.


"Dan Kau Han'er... Kau harus menjaga Adik dan keponakanmu.. Mereka sekarang menjadi tanggung jawabmu untuk melindunginya..." ucap tuan Wang pada Putranya.

__ADS_1


"Ayah...apakah ayah tidak salah...bukan Yao Han yang melindungi adik, tapi adiklah yang melindungiku..." ucap Yao Han dengan wajah lucu.


"Kamu ini..." ucap sang Ayah sambil tertawa.


Merekapun segera berpamitan, dan akhirnya enam kuda terlihat mulai meninggalkan tempat itu. Karena jalanan ke arah desa Tulila sering di lalui kereta dan kuda, kini jalan menuju desa mereka telah halus dan bagus. Dan itu membuat perjalanan mereka semakin lancar dan cepat . Perjalanan yang biasanya memakan waktu hampir tiga hari. Kini bisa di lalui dalam waktu dua hari. Dalam dua hari mereka telah berada di desa Tulila. Mereka berhenti sebentar di Desa Tulila hanya untuk makan dan mengistirahatkan kuda mereka. Setelah itu melanjutkan perjalanan mereka menuju Kota Malada , Ibu Kota kerajaan Dongyan . Saat Sore hari menjelang malam. Mereka telah sampai di kota Malada. Dan ternyata banyak murid yang telah di terima di perguruan Guang Dan telah datang untuk mendaftar ulang dan langsung masuk keperguruan sudah tiba juga di kota itu . untung saja mereka masih mendapatkan kamar di penginapan yang dulu mereka tempati. Karena hari ini mereka merasa kelelahan, akhirnya mereka memilih untuk beristirahat di kamar . Yulia segera membawa kedua putranya masuk kedalam ruang Dimensi. Seperti biasa dia akan memberi pil penyerap Qi pada sang Putra dan menyuruh mereka untuk bermeditasi agar kekuatan dan kesegaran tubuh mereka kembali. Begitu juga dengan dirinya sendiri.


Keesokan harinya , karena hari masuk perguruan masih keesokan harinya, maka kelompok Yulia memilih untuk melihat keindahan kota Malada. Dan juga membeli beberapa keperluan yang mereka butuhkan. Seperti saat ini , terlihat mereka berjalan di tengah keramaian kota sambil melihat keindahan kota itu. Namun perjalanan mereka terganggu. Tiba- tiba sekelompok orang datang dan menghadang jalan mereka . mereka terdiri dari lima pria berotot dan tiga orang wanita dan salah satu dari wanita itu memakai cadar .


"Ck...orang -orang desa yang berlagak dan tak berguna... Serahkan semua barang kalian, dan kembalilah ke Desa kalian. Jangan mengotori tempat kami..." ucap salah satu dari mereka yang berdiri paling depan. Dia pria yang terlihat kasar dan berwajah sinis.


"Siapa kalian...dan untuk apa kalian mengganggu kami..." ucap Cun Ma yang kebetulan berada di depan mereka.


"Manusia seperti kalian, tidak pantas menanyakan siapa kami. Sekarang berikan semua yang kalian punya, dan kembalilah kedesa kalian . Kota tidak membutuhka orang - orang yang tak berguna seperti kalian ini...." seru pria itu kembali.


"Pantas atau tidak pantas, Semua itu bukan urusan kalian. Kami yang orang Desa saja memiliki etika dan sopan santun. Sedangkan kalian yang merasa orang kota tidak memiliki etika sama sekali...apakah seperti ini sikap penduduk kota Malada...sombong dan tak tahu malu..." ucap suara dingin seorang wanita. Kini di depan mereka berjalan seorang wanita cantik dan anggun yang di apit dua anak kecil bertopeng.


"Dia Yulia..." bisik salah satu wanita . Dan kebetulan wanita yang memakai cadar. Telinga Yulia yang tajam bisa mendengar ucapan itu. Melihat kehadiran Yulia, Kelima pria itu terlihat tertegun. Mereka tak pernah bertemu dengan kecantikan seperti yang ada di depan mereka. Kecantikan yang langkah yang dapat mereka temukan. Terlihat wajah mereka bengong. Namun tidak dengan ketiga wanita yang bersama mereka. Ucapan Yulia menyulut kemarahan mereka .


"Dasar wanita J***ng kau terlalu sombong . jangan kau kira dengan kalian bisa menang di pertarungan kemarin, Kerajaan akan diam jika kalian membuat kerusuhan...!" teriak salah satu dari mereka.


"Membuat kerusuhan...? Tunggu dari mana kalian tahu aku si pemenang turnamen...?" ucap Yulia . Walau dalam hati dia tahu kalau salah satu dari mereka adalah Si Nanggo .


"Itu...itu ...Semua orang tahu kalau kau pemenang turnamen itu..." ucap Wanita itu gugup .


"Sialan Ranci...terlalu bodoh..." sungut Wanita bercadar .


"Ooo...berarti aku terkenal dong..." ucap Yulia narsis . Membuat para sahabatnya ingin memukul kepala wanita cantik itu .


"Sombong....jangan berlagak bodoh...jangan Kau kira kerajaan akan diam saja saat Mereka tahu kau membuat kerusuhan di kota kami.." lanjut wanita itu .


"Ck ck ck..apakah kau tidak salah berucap Nona.. Kalian yang membuat masalah. lalu kami yang akan menanggungnya. Jangan karna di antara kalian ada yang menjadi Putri seorang Mentri lalu kalian akan membuat kami yang menangung kesalahan..." ucap Yulia langsung. Dia tahu wanita yang memakai cadar adalah Si Nanggo Putri dari Mentri Si. Yang kalah di dalam turnamen sebulan yang lalu.


"A...apa maksudmu...?" seru wanita yang berbicara tadi. Sebab dia kaget Kenapa wanita itu tahu kalau ada putri Nanggo yang ada di antara mereka.


" Kau fikir aku tidak tahu siapa kalian..? Dasar bodoh. Walau kau menutupi wajahmu dengan cadar... Kau masih terlihat olehku Putri Nango... Aku ingin tahu , apa yang akan terjadi dengan Ayahmu jika yang Mulia tahu apa yang sekarang kau lakukan, Dan aku yakin semua yang kau lakukan ini karena kau cemburu kan...?" ucap Yulia dengan nada sinis .


"Kauuu...dasar wanita ja***g...bunuh mereka semua...!" seru wanita bercadar marah .


"Ck ck ck..Ternyata karena itu kau melakukan tiga kesalahan yang kau buat, Pertama, membuat kegaduhan di kota, ke dua ... menyerang Rakyat kecil tanpa sebab , tiga... menyerang dan ingin membunuh murid perguruan Guang Dan . Dan aku tidak tahu, hukuman apa Yang akan di dapat Ayahmu..." ucap yulia datar. Mendengar ucapan Yulia, Putri Nanggo sempat bimbang, tapi karena keegoisannya membuat dia pantang mundur.


"Brengsek banyak omong... serang dan habisi mereka semua...!" teriak Putri Nanggo marah.


"Aku juga kak...!"Teriak Yura.


"Baik...tapi hati- hati... Jangan sampai baju kalian kotor...." ucap Yulia yang membuat mereka yang menonton menjadi kesal. Mana bisa dua anak laki- laki dan seorang wanita melawan lima pria kekar. Dan wanita itu malah berkata jangan sampai kotor baju mereka.


"Wanita itu terlalu sombong..sekuat apa sich anak- anak kecil itu...?" batin mereka.


Dan Saat si Kecil bertarung , ternyata kekuatan di dalam tubuh kedua anak kecil itu sangat dasyat. Membuat mereka yang tadinya meremehkan, menjadi ternganga tak percaya . Belum begitu lama mereka bertarung, dua di antara penjahat itu telah jatuh. Kini tinggal tiga lagi yang harus mereka lawan. Dan tak butuh waktu lama ketiga pria kekar itu mulai terdesak .


"Ya ampuun...kekuatan mereka...!" seru salah satu penonton .


"Tak salah kalau gadis itu berucap seperti tadi...!" ucap yang lain .


Melihat kejadian itu, Putri Nanggo sangat marah. Hingga dia langsung masuk dalam pertarungan bersama kedua rekannya. melihat itu, Yulia segera melompat menghalangi mereka bertiga.


Dengan cambuk di tangan dia menghalau serangan Putri Nanggo dam kedua kawannya .


"Kalian bukan lawan mereka... akulah lawan kalian..!" seru Yulia dingin.


Cambukan dari cambuk petir menghalangi langkah ketiga orang yang ingin menyerang Si kembar dan Yura yang mendesak ketiga lawan mereka. Mendapat serangan cambuk dari Yulia, mau tak mau mereka bertiga menghindar dari serangan cambuk petir. Sedangkan si kembar dan Yura kini sudah melumpuhkan ketiga orang itu. Dan mereka menatap Yulia yang menghadapi tiga orang wanita.


"Bun...apa perlu bantuan...?!" seru Wang Hao.


"Tidak perlu...kalian bertiga beristirahatlah...!" seru Yulia sambil menatap sekilas pada mereka bertiga .


"Baik ....!" seru Wang Hai.


Mereka segera melangkah ke arah ke empat paman yang menonton pertarungan . Melihat pertarungan di pinggir jalan kota, Para penduduk yang ingin bepergian segera berkumpul di sekitar tempat pertarungan, untuk melihat tontonan gratis itu.


"Kau sombong sekali Nona Yulia...di atas langit masih ada langit..." ucap Putri Nanggo.


"Kau mengatakan aku sombong, apakah kau tidak berkaca pada dirimu sendiri . Gadis sombong dan angkuh...masih bisa mengatakan orang lain sombong . karena itu Untuk menghadapi wanita sepertimu , tidak perlu kami berbasa basi,..." jawab Yulia datar.


"Sombong....kau fikir karena kau sudah menjadi pemenang utama dari turnamen itu, kau mampu menghadapi kami seorang diri.." ucap putri Nanggo marah.


"Kita lihat saja, aku yang mampu menghadapi kalian, atau kalian yang bisa menjatuhkan diriku...." jawab Yulia dingin.

__ADS_1


Setelah Ucapan Yulia berhenti , terlihat Putri Nanggo sudah menyerang Yulia dengan sengit. Serangan Pedangnya langsung menyerang kearah dada Yulia. Namun sebelum pegang mengenai tubuh Yulia. Sebuah benda mengkilat menahan serang pegang Putri Nanggo. Ternyata Yulia menangkis pedang milik gadis Nanggo dengan belati Linglong miliknya. Belati putih mengkilat telah berada di tangan Kiri Yulia. sedangkan tangan kanannya memegang cambuk Petir. Dan hasil pertemuan pedang dan belati Linglong menghasilkan percikan cahaya terang di udara. Sebelum gadis Nanggo sadar, sebuah tendangan menghantam dadanya hingga dia terpental dan jatuh. Namun langkah Yulia tidak berhenti. Tangan kanannya Terlihat memainkan cambuk petir nya. Ternyata kedua wanita teman gadis Nanggo ikut juga menyerang. Terlihat kilat petir menyerang tangan kedua gadis itu. Salah satu wanita bisa menghindari serangan cambuk, tapi tidak untuk gadis yang lain. Pertemuan antara cambuk dan pedang, menghasilkan pedang miliknya patah menjadi dua . gadis itu tertegun melihat pedang kesayangannya patah. Sedangkan Si Nanggo marah saat dia terjatuh. dadanya terasa sesak .


"Kau.. Kau berani melukaiku....!" seru Nanggo dengan marah.


"Dalam perkelahian tidak ada yang namanya berani atau tidak melukai lawan Putri Nanggo... !" seru Yulia dengan tersenyum sinis .


"Si..siapa Putri Nanggo... " ucapnya dengan cepat.


"Kau masih tidak mau mengaku....?" ucap Yulia.


"Dasar wanita gila...!trimalah kematianmu...!" teriak Putri Nanggo dengan marah. Dia kembali menyerang Yulia. Begitu juga dengan sang Teman. Terlihat pertarungan tiga lawan satu terjadi di Jalan kota Malada . Setelah cukup lama bertarung dengan mereka. Yulia berkata .


"Cukup sudah permainan kita, dan sekarang trimalah ini..." Yulia segera mempercepat gerakannya . Terlibat cahaya dari cambuk Petir seperti seekor ular Putih yang menari di udara. Namun Tak lama terdengar teriakan kesakitan dari salah satu wanita yang menyerang Yulia. Terlihat salah satu dari mereka jatuh dengan dada terluka. Dan tak lama di susul temannya dengan lengan yang terluka dan pedang lepas dari gengaman tangannya. Dia memuntahkan seteguk darah. Kini tinggal Putri Nanggo yang menghadapi Yulia. Namun tak membutuhkan waktu lama terdengar teriakan nya .


"Aaaa...." terlihat cadar yang menutupi wajahnya terbuka . memperlihatkan wajah aslinya .


"Putri Si Nanggo...." seru penonton .


Terlihat Ada goresan do pipinya yang mrngeluarkan darah . karena terkena cambuk Yulia . Tak cukup itu saja, sebuah tendangan mendarat dengan mudah di dadanya . hingga dia terlempar dan jatuh menghantam tanah dengan keras. Seteguk darah keluar dari mulutnya . Dan Yulia terlihat berdiri tak jauh dari mereka.


"Maaf kau yang meminta semua ini terjadi...." ucap Yulia sambil memasukkan kedua senjatanya kembali ke cincin ruangnya.


"Kauuu.....!" seru Putri Nanggo kesal dan marah.


"Kalau kau masih penasaran, datanglah ke perguruan Guang Dan.. aku akan menunggumu..." ucap Yulia datar .


Putri Nanggo hanya bisa mengepalkan tangannya dengan marah. Bagaimana pun juga banyak orang yang tahu kalau dia yang memulai pertarungan ini. Dia hanya bisa menatap kelompok Yulia pergi dengan penuh kemarahan dan benci .


"Kak...kau hebat...!" seru Yura dengan bangga dan gembira. saat mereka berjalan kembali ke penginapan .


"Kau juga bisa seperti itu..." jawab Yulia.


"Benarkah...kalau begitu aku akan lebih giat berlatih...!" seru Yura .


"Lia'er...kau tidak takut dengan Ayahnya...?" kata Yao Han lembut.


"Metri Si Kerajaan Dongyan...?" kata Yulia .


""Yao...apa kau tidak salah...siapa yang takut dan tidak takut. Yulia atau Mentri itu..." ucap Cun Ma sambil tertawa. Mendengar ucapan Cun Ma , Yung Si dan Yao Han tertawa. Sedangkan Yura heran .


"Lo...kenapa Ayah Putri Nanggo mesti takut pada Kak Yulia ...?" ucapnya tak mengerti .


"Kau akan tahu nanti Yora kecil..." goda Yung Si. Yura memang sudah semakin akrab dengan kakak dan sahabat Yulia. Apalagi seringnya mereka berlatih bersama dalam sebulan ini. Mereka berjalan kembali ke penginapan.


###


Sedangkan di jalan yang menuju Desa Fanrong. Terlihat Dua pria paruh baya Sedang berjalan dengan tenang menuju Arah desa itu. Namun langkah mereka tak biasa. Langkah mereka seperti orang jalan biasa , namun sekali melangkah menghasilkan kecepatan lima kali langkah orang biasa. Dan terkadang mereka seperti melayang di udara . Setinggi apakah ilmu orang itu .


"Kak...untuk apa kita pergi ketanah tak bertuan..." kata salah satu pria itu.


"Menemui seseorang ...." jawab Pria yang berada di depan .


"Seseorang....? Di tanah tak bertuan...? " kata Pria yang berada selangkah di belakangnya.


"Hmm...." gumam pria yang di depan.


"Siapa...?" tanya Pria di belakang penasaran.


"Kau lihat saja nanti... Aku mengendengar kalau tanah tak bertuan sudah menjadi sebuah desa subur...' ucap Pria di depan.


"Benarkah..?mungkin kau salah dengar... mana mungkin , tanah tak bertuan sudah bepuluh tahun tak dapat menumbuhkan sebatang rumput pun... dan kini menjadi Desa subur ...? mana mungkin...." ucap Pria di belakangnya tak percaya .


"Lihat saja tanah di Sini...mereka terpengaruh oleh tanah tak bertuan walau jarak tanah di sini cukup jauh, Namun masih terpengaruh juga . Itu saja bisa membuktikan kalau kabar itu bohong kak...." lanjutnya .


"Kita akan melihat kebenaran jika kita sampai di sana..".jawab Pria di depan dengan wajah tenang. Mereka melangkah bagai melayang di atas tanah.


"Tapi memang ada keanehan kak..


Jalan di sini agak lebar dan bersih. seperti sering di lalui kuda dan kereta..." ucap pria di belakang . namun langkahnya hampir sejajar dengan sang Kakak.


"Aku sudah merasakan sejak awal kita keluar dari Desa Tulali..." ucap sang Kakak.


"Aku semakin penasaran Kak...jika itu suatu kebenaran, lalu siapa yang bisa membuat tanah tak bertuan menjadi daerah berpenduduk dan subur...?" ucap sang adik lagi. Sang Kakak terlihat tersenyum tipis .


Sekian dulu ceritanya ya...aku lanjut besok. Maaf jika ada typo yang membuat kalian tedak enak membaca. 🙏🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya author tunggu.

__ADS_1


Bersambung .


__ADS_2