
"Cukup Chan...kau terlalu banyak omong...kau tidak menghargaiku sebagai kakakmu...! dan kau berani menuduh Kakak iparmu...!" teriak Gan Yo Jin marah.
"Menghargaimu...apakah kau juga menghargai jeri payah kakak iparku...! Kau dengan mudahnya mengusir kakak ipar dari rumah ini demi wanita seperti dia. dan perlu kau tahu...Dia ..Wanita yang ada di sampingmu itu , bukan kakak iparku . Kakak ipar Chu Tianing merupakan Kakak iparku yang sesungguhnya . tidak yang lain...." ucap Si Chen datar .
Mendengar ucapan Si Chen terlihat nyonya Yu mengepalkan tangannya dengan erat, hingga terlihat kuku tajam di jarinya melukai telapak tangannya.
"Mau tidak mau... Dia juga kakak iparmu Chan ...!" seru Gan Yo Jin marah.
"Bukan...Dia bukan Kakak iparku.. Kakak iparku hanya kak Chu Tianning... Dan satu lagi...aku punya bukti kalau Kakak Ipar Chu Tianing tidak bersalah..." ucap Si Chen Dengan dingin.
Dia memanggil seseorang . Tak lama terlihat seorang pria masuk sambil membawa seorang wanita yang tangannya terikat masuk kedalam ruangan itu. Melihat siapa yang datang semua orang kaget.
"Nyonya Mai...!" seru mereka bersamaan. Mereka banyak yang tahu siapa wanita itu. Karena Dia pelayan setia Nyonya Yu sampai sekarang . Di manapun nyonya Yu berada. Pasti wanita itu ada di sampingnya. Dan Kini semua orang menatap Wanita itu di bawa ketengah ruangan dengan tangan terikat.
"Nyonya mai.. ada apa ini Chan....?" kata Tuan Gan Yo Jin heran.
"Kau akan tahu sebentar lagi ..." ucap Si Chan dengan tenang. Dia lalu menatap pada nyonya Yu.
"Kau pasti kenal siapa dia kan...?" ucapnya Pada nyonya Yu.
"Cukup Chan...apa maksud semua ini....!" seru tuan Gan Yo Jin marah.
"Dudahlah dengan tenang kak.. Kau lihat saja semua ini...kau akan tahu nanti..." ucap Si Chan dingin. Ada nada sinis di ucapannya.
"Kau Nyonya Yu....kau kenal kan dengan wanita ini...?" ucap Si Chan lagi sambil menatap Nyonya Yu .
"Tentu saja...dia pelayanku, semua orang tahu itu...." ucapnya dengan nada cemas. Terlihat tangannya mengepal dengan keras di balik lengan bajunya.
" Bagus.... Apakah Dia masih bekerja denganmu....?" tanya Si Chan kembali .
"I..Iya...dia masih bekerja denganku sampai sekarang... " Ucapnya lagi.
"Kak...kau juga tahu kalau dia masih bekerja dengan istrimu kan..?" tanya Si Chan kembali.
"Tentu saja... kau jangan bertele- tele... sekarang katakan dengan jelas apa maksudmu...!" ucap tuan Gan Yo Jin dengan marah dan tak sabar .
"Baiklah...ternyata kau itu orang yang tidak sabaran sekali... " ucapnya sambil berjalan ke tempat pembantu itu.
" Nyonya Mai...sekarang katakan Pada semua orang yang ada di sini. kenyataan yang sebenarnya . Dan aku tidak ingin kau menyembunyikan apapun dari kami. Karena itu, kau harus berkata jujur pada kami. Kau tahu maksudku bukan...." ucap Si Chen dengan wajah tenang.
"Ba...Baik tuan Ke empat...." ucap Wanita itu tergagap. Dia menatap Nyonya Yu dengan tatapan sendu. Sedangkan Nyonya Yu terlihat cemas dan gemetar. Dia merasakan bahaya akan menumpa dirinya .
"Tuan Gan Yo Jin...." wanita tua itu terlihat terdiam sebentar. Dia menghela nafas panjang , seolah menghilangkan sesak di dalam hatinya .
"Sebenarnya yang menaruh gelang giok di dalam laci meja nyonya Chu itu bukan Nyonya chu sendiri..(dia terdiam sejenak) tapi aku... akulah orang yang menaruh benda itu di dalam laci meja riasnya , Bukan nyonya Chu yang mencuri . dan semua itu atas perintah Nyonya Yu...." ucap Wanita itu demgan wajah ketakutan. Dia menundduk tidak berani menatap Nyonya Yu . Andai saja dia tidak di ancam dengan keselamatan keluarganya , mana mungkin dia mau menuruti semua permintaan tuan keempat . mendengar ucapan wanita tua itu Gan Yo Jin kaget bukan main.
"Kau bohong ,kau ingin memfitnahku...!" Teriak Nyonya Yu ketakutan .
"Nyonya...untuk apa hamba memfitna anda.. hamba adalah pelayan setia anda...!" seru Bibi Mai dengan wajah sedih .
'Sialan ...kau wanita tua tak tahu diri. Kau sudah lama tinggal bersamaku, tapi kau tega ingin memfitnahku...!" teriak Nyonya Yu marah .
"Jadi sebenarnya semua kejadian yang menimpa Nyonya Chu, kaulah pelakunya...!?" seru Gan Yo Jin dengam wajah murka.
"Be...benar tuan...se.semua itu atas perintah .nyonya Yu.. Dia menyuruh hamba untuk menaruh benda itu.. Dengan cara itu, Dia ingin mengusir nyonya Chu keluar dari rumah ini " ucap Wanita tua itu. Gan Yo Jin berdiri dan mendekati pelayan tua itu.
"Kauu bangsat....kau berani melakukan itu.. !" serunya marah. Sebuah tamparan melayang pada pipi pelayan tua itu. Hingga kepala si pelayan memutar kesamping .dan sudut mulutnya terlihat mengeluarkan darah. Namun tak sampai di situ. Kaki panjangnya menghantam tubuh tua itu hingga dia terlempar menghantam tembok rumah. Terlihat wanita tua itu memuntahkan seteguk darah.
"Cukup Kak...kau akan membunuh wanita itu..dia hanya seorang pesuruh... kenapa tidak kau tanyakan pada otak si pelaku. Apakah kau masih akan melindungi dia.. ?" seru Si Chen dengan dingin. Sedangkan nyonya Yu sudah gemetaran dan wajahmu pucat melihat kemarahan dari sang suami. Apalagi Mendengar ucapan dari Gan Si Chan . terlihat tangannya mengepal karena marah. Sedangkan Gan Yo Jin sendiri merasa dadanya bagai tersulut api panas . dia segera menatap nyonya Yu dan berjalan ke arahnya.
"Apa benar ucapan dari pelayan setia mu Yu..?" ucapnya Dingin. Nyonya Yu terdiam karena takut.
"JAWAB....!" teriak Gan Yo Jin marah. Nyonya Yu tersentak karena kaget.
"Ti...tidak Yah...ma..mana mungkin aku melakukannya..itu hanya fitnah...iya aku di Fitnah yah...!" serunya dengan meyakinkan. Namun suara gemetar dan sorot mata ketakutan terlihat di mata nya.
"Fitnah...? Kau katakan ucapan pelayan setia mu Fitnah...?" kata Gan Yo Jin sambil menatap istrinya dengan marah.
"I .iya..pasti dia sengaja memfitnahku . pasti dia bersekongkol dengan adik keempat...!" serunya menyakinkan.
__ADS_1
"KAU FIKIR AKU BODOH HA. " teriak Gan Yo Jin marah. Dan dua tamparan tangannya melayang ke wajah nyonya Yu dengan Keras.
Terlihat nyonya Yu sampai terjatuh karena kerasnya tamparan tangan tuan Yo Jin.
"Ibuuu....!" seru Yiyi kaget. Dia berlari kearah sang ibu. Namun sebelum tubuhnya menyentu sang ibu. Teihat tubuh sang ibu melayang dan menghamtam tembok ruangan itu. Dan jatuh tidak terlaku jauh dari sang Pelayan. karena mendapat tendang dari sang Ayah .
"Ternyata kau wanita busuk . Kenapa aku bisa percaya akan semua kata- katamu itu. Aku tak percaya. Aku bisa hidup dengan wanita licik dan serakah sepertimu... Dengan kebaikan Chu , dia mau menerima dirimu walaupun aku tahu dia melakukan dengan terpaksa. Namun kau masih tidak puas... Ya Dewa...dosa apa yang telah aku lakukan... " Dia terlihat menutup mukanya dengan kedua tangannya. Dan tak lama terlihat dia membuka lagi telapak tangannya. Dan menatap pada nyonya Yu.
"Mulai sekarang kau aku ceraikan. Dan kau mendapatkan hukuman di ruang perenungan. Renungkan semua kesalahanmu. Dan aku pastikan kau tidak akan bisa keluar dari sana..." ucap Gan Yo Jin dingin. Mendengar ucapan dari sang Suami. Nyonya Yu kaget bukan main. Dia langsung berteriak.
"Ayah...ayah..tolong ampunkan aku...aku tidak mau hidup di ruang perenungan. Tolong Ayah..!" seru Nyonya Yu panik. Dia melangkah dan memeluk kaki tuan Gan Yo Jin . namun sebuah tendangan mendarat di tubuhnya kembali . hingga dia jatuh terkapar ddi lantai .
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu... Mulai sekarang, tidak ada lagi hubungan di antara kita ..." dia segera memanggil pelayan untuk membawa wanita itu pergi keruang perenungan dia tak perduli dengan tangisa Yiyi yang meminta sang Ayah membebaskan hukuman sang ibu .
Sedangkan untuk pelayan Tua Mai segera di tangkap dan di bawa ke pengadilan. Melihat semua yang terjadi, Si Chen berkata pada sang Ayah.
"Ayah aku pergi. Maaf aku tidak bisa hidup bersama kepala keluarga yang bodoh seperti dia. Aku berharap dia bisa menyesali apa yang pernah dia perbuat pada Kakak Ipar Chu. Walaupun Aku yakin penyesalannya sudah terlambat.... Maaf Ayah...aku pergi ..." ucap Gan Si Chen dengan datar . Dia segera melangkah keluar dari ruang tamu milik sang Kakak .
"Chen tunggu...!" seru serak seorang wanita. Langkah Kaki Si Chen terhenti saat mendengar suara itu. Dia menengok kearah suara. Terlibat sang Ibu menatapnya dengan wajah sedih.
"Apakah kau akan pergi lagi nak..." tanya wanita tua yang telah menyayangi dirinya selama ini.
"Maaf ibu...Chem harus pergi. Nanti setelah urusan Chen selesai, Chen akan kembali lagi..." ucap si Chen dengan lembut.
"Apakah itu masih lama...?" kata sang Ibu.
"Chen tidak tahu bu...Tapi nanti akan chen usahakan secepatnya" jawab pria itu lembut. Doa segera pergi dari tempat itu.
Sebenarnya dia ingin mencari keberadaan sang Kakak. Sebab tadi pagi setelah dia selesai menangani bibi Mai dia datang kerumah sang Kakak ipar yang ada di pinggiran kota, namun ternyata rumah itu kosong. Sepertinya baru saja di tinggalkan. Saat dia mengejar sampai di perbatasan kota, dia tidak bisa menemukan mereka berdua. Dia yakin kalau kakak ipar dan keponakannya telah pergi untuk selamanya dari kota ini. Dan dia bertekat akan mencari keberadaan mereka. Dan tujuan pertama adalah Kerajaan Dongyan. tempat sang Keponakan akan menimba ilmu.
Sedangkan di rumah keluarga Gan, terlihat Yiyi menangis dia berusaha meminta sang Ayah membebaskan hukuman untuk sang Ibu. Namun sang Ayah semakin marah mendengar permintaan Yiyi .
"Kau bisa Diam...? Atau kau akan ku hukum seperti ibumu itu...!" teriak Gan Yo Jin dengan marah.
Seketika Yiyi Terdiam karena takut. Dia tidak pernah melihat sang Ayah semarah itu.
Tok tok tok...
Dengan hati berdebar dia mengetuk pintu. Namun tidak ada suara apapun dari dalam rumah. Dia kembali mengetuk pintu sambil memanggil nama istri dan anaknya. Tapi tetap saja, hanya kesunyian yang dia dapatkan. Setelah tiga kali dia mengetuk pintu. Dia memegang gagang pintu. Dan ternyata pintu tidak di kunci. Perlahan dia membukanya sambil memanggil nama sang istri dan putrinya , Namun tetap tidak ada jawaban. Dengan nekat dia masuk kedalam rumah. Ternyata rumah dalam keadaan sepi dan kosong. Dia nekat masuk kekamar yang dia perkirakan kamar sang istri. Dan saat membuka almari, ternyata alamat kosong. Dia segera melihat kamar sebelah. dan ternyata sama. Seketika dia lemas.
"Apakah mereka telah pergi...lalu pergi kemana...?" teriaknya putus asa.
Dia segera keluar rumah. Dan kembali ke rumah besarnya. Dan dia menyuruh orang untuk mencari keberadaan istri dan putrimya.Kini dia mulai ketakutan akan kehilangan mereka. Tanpa di sadarinya, sang Ayah melihat tingkah lakunya yang terlihat bingung.
"Ada apa Yo...kenapa kau kebingungan...?" kata sang Ayah yang tiba- tiba berada di depannya. Melihat wajah sang Ayah, Gan Yo Jin terlihat ingin menangis .
"Mereka tidak ada di rumah itu Yah..." ucap Guan Yo Jin dengan wajah cemas dan sedih .
"Kau sudah kesana....?" tanya tuan Gan dengan wajah kaget.
"Sudah... Dan mereka tidak ada lagi di rumah itu.." ucap GanbYo Jinbketakutan.
"Mungkin mereka sedang pergi keluar..." ucap tuan Gan menghibur . Walau begitu dia juga merasa cemas mendengar menantu dan cucunya tidak ada di rumahnya.
"Semua barang yang mereka miliki tidak ada lagi di rumah itu... " ucap Gan Yo Jin lagi. Tuan Gan terlihat sangat bersedih. Namun dia teringat pada putra ke empatnya.
"Apakah Chan pergi karena ingin mencari mereka...apakah dia sudah tahu kalau Kakak iparnya telah pergi dari sana..." batin Tuan Gan Su Lin. Tak lama terlihat dua pria datang menemui mereka.
"Bagaimana..?.apakah kalian menemukan mereka...?" tanya Gan Yo Jin. saat mereka baru saja masuk .
"Tidak Tuan...hanya saja hamba mendengar dari salah satu tetangga,.. mereka melihat kalau Nona muda kemarin datang bersama beberapa pria dan seorang wanita muda . sepertinya mereka bermalam di sana. Sebab sampai malam mereka masih berada di sana.." ucap Salah datu dari pria yang baru datang.
"Beberapa pria...? Siapa mereka...?" kata Gan Yo Jin keheranan . tapi ada nada cemas di ucapannya.
"Mereka juga tidak tahu Tuan... tapi kata tetangga Nona, mereka pria- pria gagah dan tampan. Apalagi wanita yang bersama mereka... katanya wanita itu sangat cantik..." ucap salah satu dari merekam
"Lalu kemana mereka pergi..?" Kata Yo Jin lagi .
"Si Tetangga tidak melihat kepergian mereka. Mungkin mereka pergi saat dini hari..." ucap Orang suruhan Yo Jin . Mendengar semua ucapan yang di katakan orang suruannya, terlihat Gan Yo Jin terduduk lemas.
__ADS_1
Dia bingung haris kemana mencari mereka.
"Kau hanya bisa menunggu saat para murid perguruan mulai masuk Yo..." kata tuan Gan menghibur .
"Benar kata Ayah....aku bisa menemui Yura saat dia mulai masuk ke perguruan.
Diapun sedikit tenang memikirkan itu.
Sedanfkan di tempat Yulia , Terlihat mereka sedang beristirahat . Dan keesokan harinya Yulia dan rombongan segera berangkat melanjutkan perjalanan Mereka menuju kota kerajaan Dongyan. Mereka berjalan tanpa hambatan sama sekali. Tiga hari kemudian, mereka telah sampai di Kota Malada saat hari menjelang sore . Namun Yulia tidak ingin bermalam di kota itu . mereka meneruskan perjalanan ke Desa Fanrong . Namun saat sampai di desa Tulila, ternyata hari sudah semakin malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam di desa itu terlebih dahulu .
"Nak.. Bukankah ini desa terdekat dengan tanah tak bertuan...?" kata Nyonya Chu Tianing. saat mereka sedang makan malam di restoran dekat penginapan.
"Benar Bibi...ini desa terdekat dengan tanah tak bertuan...setelah ini kita akan melintasi hutan dan tanah tandus..." jawab Yulia.
"Ibu pernah datang ke desa ini...?" tanya Yura. Gadis cantik ini memang terlihat sangat perduli pada sang Ibu.
"Dulu ibu pernah singga di tempat ini bersama sahabat Ibu. Tapi entah di mana sekarang dia berada..." ucapnya sambil tersenyum mengenang masa lalunya.
"Ibu punya sahabat...? Apakah dia juga secantik ibu...?" tanya Yura sambil menatap sang Ibu dengan tatapan menggoda.
"Tentu saja...sahabat ibu sangat cantik sekali... Dia lembut dan baik hati. Tapi dia juga kuat dan tegas. Tak perduli siapapun musuhnya, dia pantang takut..." ucap Nyonya Chu dengan senyuman di bibirnya.
"Sepertinya bibi memuja sahabat Bibi..." goda Yulia sambil tersenyum .
"Sangat....karena dia wanita yang baik hati...." ucap nyonya Chu . Dia menatap
Yulia dengan tatapan lembut.
"Ibu...apakah dia sebaik Kak Yulia...?" kata Yura dengan tatapan bangga menatap Yulia yang duduk bersama kedua Putra dan si kakak ipar .
" Benar...sepertinya Nak Yulia memiliki sifat yang hampir sama dengan sahabat ibu..." ucap Nyonya Chu dengan senyum di bibirnya . mendengar ucapan Nyonya Chu, semua orang tertawa. Setelah makan mereka segera kembali kekamar yang sudah di pesan mereka. mereka harus beristirahat untuk perjalanan besok. dan Yulia segera membawa kedua putranya untuk masuk keruang Dimensi. namun sebelum mereka masuk, terdengar ketukan di daun pintu. Saat Yulia membuka pintu, ternyata Kuda yang ada di depan pintu .
"Boleh aku ikut keruang Dimensimu..." ucapnya lembut. Karena rengekan si Kembar , Akhirnya mau tak mau Yulia membawa pria ini masuk kedalam ruang Dimensinya bersama sang Putra.
Dan saat hari mulai pagi, Rombongan itu segera melanjutkan perjalanan mereka setelah makan dan membeli perbekalan untuk perjalanan mereka selanjutnya. Membutuhkan lebih dari dua hari untuk mereka sampai di Desa Fanrong. Saat mereka mulai masuk wilayah Desa Fanrong Di dire hari, nyonya Chu Tianing sangat kaget. Tanah tandus yang merupakan tanah tak bertuan, Kini terlihat hijau subur. Banyak tanah sawah terbentang di kejauhan. Rumah penduduk yang berderet terlihat di pinggir jalan menuju ke pusat desa. Tak berapa lama mereka telah sampai di depan gerbang Rumah yang terlihat lebih besar dan indah dari rumah yang lain . Terlihat beberapa orang menyambut kedatangan mereka. Yulia dan rombongan segera turun dari kuda mereka. Dan Nyonya Chu Tianing melihat beberapa orang sedang mengambil kuda milik Yulia dan Suaminya serta yang lain. terlihat Yura mendekati gerbang kereta yang di naik sang ibu.
"Bu kita telah sampai...ayo keluar..." ucap Yura lembut.
Perlahan nyonya Chu Tianing turun dari kereta. mereka berjalan kearah rumah Yulia. Di sana terlihat Yulia sedang menunggu kedatangan Nyonya Chu dan Yura bersama kedua orang tuanya dan juga kakak dan sahabatnya. sedangkan Kaisar Kim dan Si kembar serta kedua pengawalnya entah pergi kemana setelah menyapa kedua orang tua Yulia. Yura berjalan mendekati Yulia dan kedua orang tuanya. Dan Saat nyonya Chu sampai di depan Tuan Wang Yu Ran dan nyonya Lin Sauly. ketiganya tertegun. dan akhirnya terdengar suara nyonya Lin Saoly.
"Chu Tianing....kau kah itu...!' serunya sambil berjalan kearah Ibu Yura.
"Linlin....itu kau...!" seru nyonya Chu tak percaya . dan dalam sekejap keduanya sudah saling berpelukan. sedangkan Yura dan Yulia hanya bisa menatap keduanya dalam kebingungan.
"Ayah apa maksud semua ini...apakah kalian saling mengenal...?" tanya Yulia keheranan.
"Mereka dua sahabat yang saling menyayangi mereka bagai dua saudara kembar ..." ucap Ayah Yulia. tak lama terlihat mereka mengurai pelukannya. namun wajah mereka terlihat sedang menangis.
"Apa kabarmu Tian...kau sangat kurus dan tak terawat..." ucap Nyonya Lin dengan wajah harunya .
"Ceritanya panjang Lin...Aah..aku hampir lupa menyapa Kakak ipar..." nyonya Chu melepas pelukannya dan Dia berjalan mendekati tuan Wang Yu Ran.
"Salam Kakak ipar...apa kabar..." ucapnya lembut nyonya Chu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada .
"Kami baik saja nyonya Chu...apa kabar denganmu...?" ucap tuan Wang Yu Ran lembut.
"Kami baik - baik saja Kak..." ucap Nyonya Chu .
"Tian...perkenalkan ini putra dan Putriku..dan mereka bertiga Putra Angkatku..." ucap Nyonya Lin Sanly memperkenalkan Yulia Dan Kawan- kawan.
"Oo..jadi Yulia Putrimu...pantas saja wajahnya hampir mirip denganmu...Kau juga mrmiliki Putra dam Putra angkat Lin...aku senang melihat mereka..dan ini Putriku Yura .?" ucap Nyonya Chu sambil menatap Yulia dan mperkenalkan Yura.
"Putrimu cantik...Ya sudah ayo kita masuk kedalam dulu..." ajak Nyonya Lin Sanly. Merekapun segera masuk kedalam rumah. Yulia sempat mencari Kaisar dan keduan Putranya yang ternyata sudah pergi entah kemana bersama kedua pengawalnya.
udahan dulu ya....aku lanjut besok.
Jangan lupa like, vote dan komennya.
Bersambung.
__ADS_1