
Membaca pesan dari Mas Teddy membuat aku seperti di sambar petir di pagi hari yang cerah.
Aku masih mematung dengan kondisi sudah duduk di lantai, hp masih ku pegang namun pandanganku entah kemana.
Segera aku sadarkan diri, karena tahu Mas Teddy jelas lebih terpukul dibandingkan aku. Ku balas pesan dari Mas Teddy dan mencoba memberikan motivasi agar tetap tenang dalam menyikapi kondisi ini.
"Mas,.. Itu hasilnya Reaktif tandanya sudah terinfeksi virus itu." Aku balas pesannya dengan rasa khawatir, andai ia dekat dengan ku. Ingin sekali aku memeluknya, menguatkannya. Lama menunggu balasannya, akhirnya balasan yang ku tunggu datang juga.
"Iya de, mas masih syok.. Gak tahu harus bagaimana dengan hasil itu. Mas, mau tidur dulu ya." Balasan singkat yang membuat aku hanya bisa menunggu kedatangannya. Aku merasakan betapa terpukulnya kamu disana.
Malam kembali menyapa namun pikiranku tak bisa tenang, berharap besok pagi semuanya hanya sebuah mimpi yang ketika berganti hari semuanya menghilang.
Apa yang terjadi, bagaimana bisa Mas Teddy di diagnosa memiliki virus yang menjijikan seperti itu. Penyakit yang sungguh aku tak ingin ada padanya, penyakit yang hanya dengan mendengarnya saja orang sudah berasumsi negatif, bagaimana bisa ya Allah.
Bagaimana ini bisa terjadi, suami ku tidak mungkin 'jajan' di luar kan? Akh dengan memikirkannya saja aku sudah takut. Memang kami setahun ini LDR, dia di kota dan aku di desa. Tapi, sungguh hal itu rasanya sangat tidak mungkin.
Bagaimana denganku, padahal baru beberapa bulan kemarin aku pun di cek karena menjadi salah satu pengecekan yang wajib untuk ibu hamil dan ternyata hasilnya Non Reaktif. Dan ini, kok bisa hasil Mas Teddy jadi Reaktif.
Ini pasti ada yang keliru, iya pasti ini keliru. Jika memang benar Mas Teddy kena, aku pun sama.
Masih dengan pikiran yang gelap tanpa menemukan cahaya. Aku tertidur dengan kebingungan atas apa yang terjadi.
....
__ADS_1
Adzan subuh telah berkumandang, namun rasanya badan terasa berat dan mata masih terasa perih untuk terbuka. Aku paksakan diri ini, berjalan gontai ke kamar mandi. Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian hari kemarin.
"Akh, andai ini hanya mimpi... Ternyata ini bukan mimpi,.." Aku menangis di kamar mandi menumpahkan segala asa yang masih gelap gulita.
Dalam sholat, terasa begitu syahdu karena kepada siapa lagi aku mengadukan semua ini jika bukan kepada Sang Pemilik alam semesta ini.
"Ya Allah,.. Ampuni hamba ya Allah, jangan tinggalkan hamba dalam kondisi apapun. Ya Allah, tiada daya dan upaya kecuali atas pertolonganMu, tolong hamba ya Allah..." Air mata yang menetes seakan tak bisa berhenti, bersujud dan berdoa.
Ku yakinkan pada diriku sendiri bahwa apapun yang telah Allah tetapkan adalah yang terbaik untuk hambaNya. Jadi, aku harus semangat karena ada mereka yang membutuhkan ku.
Ku pegang ponsel dan mengirim pesan singkat kepada Mas Teddy.
"Assalamualaikum Ayy.. Gimana kabarnya sekarang? Mas, baik-baik saja kan? Apa aku harus menyusul kesana?"
"Wa'alaikummussalam de,.. Alhamdulillah, mas baik. Jangan, Ade jangan kesini. Perjalannya jauh dan adek lagi hamil. Nanti mas, pulang hari Senin ya. Disini lagi banyak kerjaan yang belum beres." Pesan singkat dari Mas Teddy.
Aku menghela nafas, menghitung hari sampai ke hari Senin, masih tiga hari lagi.
"Iya ayy, jaga diri baik-baik disana ya. Oh iya, kok bisa hasilnya positif yah. Padahal baru dua bulan yang lalu Ade juga di cek dan hasilnya negatif. Apa mungkin ada kesalahan?"
Aku mencoba bertanya, kemungkinan yang aku harapkan itu benar. Bagaimana pun, hal ini bukan masalah yang sepele.
"Entahlah de, mas juga gak ngerti. Coba sekarang Ade periksa lagi ke Faskes, kalau hasilnya masih sama seperti dua bulan yang lalu nanti mas juga cek disana juga untuk benar-benar memastikan." Balasan dari Mas Teddy.
__ADS_1
"Iya, Ade siap siap dulu ya.. Selagi masih pagi, jadi masih ada waktu untuk kesana." Aku ijin keluar untuk memastikan kembali.
"Iya, semoga Ade gak kena ya. Jangan sampe Ade kena juga, Ade adalah wanita baik dan sholiha gak mungkin kena juga. Kalau sudah keluar hasilnya infokan ke mas ya. Maaf mas gak bisa anter untuk cek ke Faskes nya."
Membaca pesan dari Mas Teddy membuat aku bertambah bingung, bagaimana ini.
"Iya mas, mas jangan khawatir Ade bisa sendiri nanti Faya Ade titip ke mama di rumah. Doakan semoga hasilnya tidak seperti yang kita takutkan ya."
Sementara aku sibuk mengurus keperluan Faya, agar selama di titip ke mama, Faya tetap kondusif dan tidak merepotkan dan ketika semuanya sudah beres, aku langsung menuju tempat yang beberapa bulan kemarin sering aku kunjungi.
Di sepanjang jalan, aku menangis. Akh entah kenapa air mata serasa gak mau berhenti. Kan jadi malu di liatin penumpang lain, karena ini bukan mobil pribadi alias angkutan sejuta umat (angkot).
Sampai di tempat yang ku tuju, mengatur kembali segala hal agar semuanya terlihat baik-baik saja. Akh ternyata hari ini, antriannya panjang sekali.
Saatnya giliran ku untuk masuk ke ruangan dan petugas kesehatannya kaget melihat aku yang ingin di cek kembali dan bertanya "Hasil yang kemarin, baik-baik saja kan? Kok kenapa datang lagi."
Aku tersenyum dan mengatakan semua ini biar memastikan kembali. Tidak banyak drama, segala prosedur dilakukan lumayan menguras waktu karena antriannya banyak juga.
Setelah selesai di ambil sample darahku. Aku keluar untuk menunggu hasilnya. Akh mulai bertambah rasa takut ku dan ternyata hasilnya NON REAKTIF.
Aku masih mematung dengan melihat hasilnya, ada perasaan bingung dan bahagia. Tapi, bagaimana bisa hasil Mas Teddy reaktif?
....
__ADS_1
Apa yang sebenarnya terjadi? Nantikan di episode berikutnya, ini plot paling panjang khusus untuk penggemar setia ku. ☺️