
Kami berempat makin mengenal satu sama lain. Grace si super cuek pun tak luput dari bagian kisah kami. Grace mengajakku ke toilet ada yang akan dia sampaikan sepertinya. Dan benar saja dia mengatakan sesuatu.
"Mil, lu gak mau kasih kesempatan sama Eric? Dia sangat peduli loh sm lu. Waktu hujan kemarin dia ngejar lu bawain payung tapi lu gak kekejar. Gue jadi saksi betapa sayangnya Eric sm lu. Dan Eric pun akhirnya mau cerita sama gue tentang sesuatu" Jelas Grace panjang lebar.
"Gue kira lu gak peduli tentang gitu-gituan. Ternyata lu merhatiin ya? Tapi apa yang jadi alesan gue untuk balik sama Eric?"
Tanyaku bingung berharap Grace dapat meyakinkanku, karena sejujurnya masih ada rasa sayang untuk Eric, tapi aku terlalu kecewa.
"Gue gak bisa cerita apa yang udah Eric ceritain ke gue. Tapi Eric minta 1 hal untuk gue sampein ke lu. Eric kasih waktu lu 10 hari untuk berpikir dan nerima dia lagi"
Jawab Grace sambil mengajakku kembali ke kelas.
Belakangan ini aku lagi- lagi di sibukkan ekskul paskibra. Bukan karena mau lomba, tapi kakak senior kami sedang ada pekerjaan lain. Sehingga kami ditugaskan ekstra untuk mengajar adik kelas.
Dion menelponku dan memarahiku
"Lu sombong ya M udah punya temen baru, gue dilupain"
"Gue gak sombong Yon. Gue cuma kasih lu dan Meli waktu untuk makin deket." Jawabku menenangkan Dion dan ternyata tidak berhasil.
__ADS_1
"Gue ini apa di mata lu?" tanya Dion serius.
"Sahabat gue lah" jawabku
"Terus Grace, Olin dan Ria apa keberadaan mereka untuk lu?" tanyanya lagi.
"Ya sahabat gue juga" jawabku jujur.
"Jadi lu samain gue sama mereka?" tanya Dion dengan nada tidak suka.
"Ya terus lu maunya gimana?" tanyaku lagi masih dan makin bingung.
"Perasaan lu ke gue kaya gimana sih M?" tanya dia makin membuat ku heran dan canggung.
"Sayang kaya gimana?" Dion tetap bertanya.
"Sayang sebagai sahabat" Kurasa jawaban ini paling tepat dan paling jujur.
"Ke mereka lu juga sayang?" Dion masih mencecarku.
__ADS_1
"Iyalah" ku jawab setiap pertanyaan Dion dengan sabar.
"Gue cuma minta kadar sayangnya dibedain. Kalo gue sahabat lu ya jadiin mereka hanya temen lu"
Minta Dion tanpa menerima alasan dariku.
"Besok pagi lu gue jemput di gang. Jangan naik angkot"
Perintah Dion bak raja yang tak dapat ditolak.
Seperti janjinya, Dion menjemputku pukul 05.45, karena jalanan daerah rumahku sangat macet kalau pagi. Belum lagi rumahnya yang berbeda arah dariku. Untuk sampai menjemputku, Dion harus melewati sekolah. Jadi bisa dibilang letak sekolah ada di tengah- tengah jalan ke rumah kami.
"M, pegangan nanti"
kata Dion sambil memberikan helm kepadaku.
"iya".
Setelah itu kupegang baju seragamnya di bagian pinggang. Dia membawa motor dengan kecepatan tinggi tapi aku merasa aman. Biasanya ayahku bawa pelan saja aku ketakutan. Mungkin Dion sudah menguasai motornya pikirku.
__ADS_1
Sampai di gerbang Dion menurunkanku. Dia tidak ikut turun bersamaku. Aku tidak tau dia kemana. Yang pasti selama 3 hari aku dijemput olehnya, Dia selalu masuk kelas tepat beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi malah kadang terlambat.
Hari ini aku baru mengerti kemana dia setelah menurunkan ku di gerbang. Setelah kuletakkan tas ku di kursi, aku keluar lagi dari kelas dan berdiri di gerbang. Aku sengaja menunggunya datang. Dan ternyata ia menjemput Melisa setelah mengantarku.