
Aku percaya Gerald masih hidup, tapi menurutku tindakannya ini terlalu konyol. Apapun alasannya seharusnya ia bisa terus terang kepada kami. Kini aku tau, yang dilakukannya atas dasar kesadarannya. Ia mempermainkanku.
M, gue udah resmi pisah sama Martha.
Dion mengirim pesan padaku.
Gue harus kasih respon kaya gimana ya Yon?
Balasku bertanya, karena sesungguhnya aku bingung ingin berempati, namun mereka bahagia dengan keputusannya. Ingin ikut berbahagia, itu bukan respon yang tepat.
Gak usah di respon. Gue mau ajak lu sama Ed liburan.
Balas Gerald.
Kemana?
Tanyaku lagi.
Taman safari sekalian sewa penginapan disana. Tiap malam dia nagih ke gue kapan diajak liat singa dan teman-temannya.
Balas Dion.
Oke deh. Makasih ya udah perhatian sama Ed.
Balasku menyetujui.
Sepertinya mulai sekarang, aku tidak bisa menolak kebaikan Dion terus menerus. Dion sungguh berjasa mengurus dan memberi kasih sayang yang penuh untuk Edward.
Sedangkan Gerald yang seharusnya bersama Edward di masa tumbuh kembangnya, malah memilih bersembunyi.
"Ed, kata papa Dion, kita mau liburan ke taman safari loh"
Aku membisiki Ed yang sedang tak mau makan.
"Tapi Ed harus habisin makannya."
Kataku memberi syarat.
Edward langsung semangat menghabisi makannya.
"Mba besok kita mau liburan, mba ikut ya?"
Ajakku.
"Yah bu, justru saya mau minta izin dua hari mulai besok, saya mau lamaran bu."
__ADS_1
Katanya meminta izin dariku.
"Oh iya boleh, selamat yaa mba Susan."
Jawabku senang melihat mba Susan bahagia.
**
Pagi hari kami sudah menunggu kedatangan Dion di teras rumah. Dion membawa masuk koperku kedalam bagasi mobilnya.
"Ayo mba masuk."
Dion mempersilahkan mba Susan masuk ke mobil.
"Gak pak saya gak ikut."
Katanya pada Dion.
"Gak Yon, mba Susan mau lamaran."
Jawabku menggoda mba Susan yang malu-malu.
Lalu kami berpamitan dengan mba Susan.
Satu jam kemudian kami sudah sampai di tujuan.
"Ed mau liat singanya sekarang atau malem-malem aja?"
Tanya Dion
"cekayang daaaann ati ayem"
Jawab Edward cadel.
"Ati ayem? enak dong?"
Timpal Dion membuatku tertawa.
Kami menuruti kemauan Ed. Ed banyak bertanya setiap ia melihat hewan yang diceritakan Dion padanya tiap malam.
Setelah berkeliling, Ed tertidur di pangkuanku.
Kami langsung menuju lodge. Sesampainya disana, Dion membukakan pintu dan mengambil Edward dari pangkuanku kemudian merebahkannya di kasur.
"Thanks ya Yon, dia seneng banget"
__ADS_1
Ucapku pada Dion.
"Sama-sama, gue juga seneng."
Balas Dion.
Edward terbangun dan memanggil kami.
"Ma, pa, bobo cama Ed yah"
Pintanya membuat kami canggung.
Aku tidur di samping kanan Ed dan Dion di samping kiri Ed. Aku mengingat dulu waktu bersama Gerald.
Tak lama, kulihat Dion ikut tertidur. Aku meninggalkan mereka berdua yang sudah pulas.
Andai ini kamu kak, aku sudah pasti bahagia.
Khayalku tak tau diri, Dion sudah banyak membahagiakan kami tapi tak pernah sedikitpun ku buka hatiku untuknya.
Mungkin ini saat yang tepat aku memberi kesempatan padanya.
"M, kenapa duduk di luar? ayo masuk."
Dion mengajakku ke dalam.
"Lu mikirin apaan?"
Tanya Dion padaku.
"Lagi mikir apa dasar lu bahagiain Edward?"
Tanyaku.
"Basically Everything that makes you happy, M"
Jawabnya.
"Jadi, lu gak betul-betul sayang sama Ed? Semuanya cuma soal gue?"
Tanyaku protes
"I Love you both"
Jawabnya membuatku terdiam.
__ADS_1