(Im)Perfect

(Im)Perfect
Hari Ketiga (merebut hati papi)


__ADS_3

Pagi ini kami makan bersama lagi, sepertinya semalam Dion sengaja membuatku tak makan semeja dengan ibunya. Ia mengajakku dan Ed berkeliling kota ini pada malam hari.


"Sri, tumben kamu buat gulai kemba'ang ini sempurna. Biasanya kurang berasa. "


Papi Dion memuji masakan Bu Sri.


"Iya nih Sri."


Mami Dion ikut menyetujuinya.


"Yang masak mba Emily pak, bukan saya. Saya cuma bantu bersihin aja tadi."


Jawabnya jujur.


"Pinter masak kamu Em, pantes Dion naksir berat."


Goda Papi Dion.


"Saya bersyukur kalo bapak suka."


Jawabku.


"Dion gak salah milih kan Pi?"


Tanya Dion malu-malu.


"Enggak kok."


Jawab Papi Dion tersenyum.


"Ah ngobrolin apaan sih kalian?"


Mami Dion marah dan lagi- lagi meninggalkan makanannya.


"Sri pesenin saya makanan."


Mami Dion berjalan sambil memberi perintah pada Bu Sri.


"Omaaa... Ed mau cama oma."


Edward berlari memeluk kaki mami Dion.


Seingatku Edward tak pernah sembarangan mendekati orang lain. Ia benar-benar pemilih dan tau mana yang baik baginya. Tapi apa iya kali ini feeling Edward salah?


Gumamku dalam hati.


Aku berdiri dari kursi untuk mengambil Edward, namun papi Dion mengulurkan tangannya, memberi tanda agar aku mengurungkan niatku mengejarnya.


"Biarin aja Em."


Kata papi Dion.


Aku menatap Dion meminta pendapatnya, ia mengangguk menyetujui perintah papinya.


Lalu aku kembali duduk.


Mami Dion melepaskan pelukan Edward di kakinya dan berjalan lagi membiarkan Edward membuntutinya.

__ADS_1


"Makan Em, mami gak sejahat itu. Semalaman ia kepikiran Edward yang kamu marahi. Dia merasa bersalah."


Papi Dion menjelaskan.


Dion memegang tanganku dibawah meja. Ia tersenyum padaku.


Kami melanjutkan makan, setelah itu aku membantu Bu Sri merapikan meja makan.


"Si Ibu baik banget mba orangnya, cuma saklek aja prinsipnya. Saya aja cuma pembantu udah dia anggep sodara di depan temen-temennya."


Bu Sri membeberkan sifat asli majikannya.


"M, sini."


Dion memanggilku yang sedang mencuci piring bersama Bu Sri.


"Kenapa?"


Tanyaku mendekatinya di sofa ruang tamu.


"Kamu mau cincin yang mana?"


Dion menggeser layar hpnya memberikan banyak pilihan gambar padaku.


"Kaya direstui aja kamu."


Kataku meledek sinis.


"Tuh"


"Itu Edward, bukan aku."


Kataku sembari berjalan ke kamar dan merebahkan diri.


"Pilih dong M."


Desaknya ikut merebahkan diri di sampingku.


"Aku aja masih pake cincin ini."


Aku menunjukkan dua buah cincin pemberian Gerald.


"Sini, nanti aku ganti sepuluh".


Katanya sembari menarik tanganku.


Aku membalikkan badan dan menindih tanganku.


Ia lantas memelukku dari belakang mencoba mengambil cincin ini. Aku menertawakan Dion.


Dion berhasil mengambil satu cincin.


"Itu cincin pertama kali jadian. Berarti kamu pacaran aja sama aku. Gak usah nikah."


Ledekku.


Dion berusaha lagi mengambil yang satunya, ketika ia berhasil, ia tertawa puas.

__ADS_1


"Hahahaaa, bisa dong aku gantiin semua posisinya ?"


Tanyanya sambil tertawa.


"Eheeemm,Eheeemm"


Mami Dion sudah berada di muka pintu kamarku.


"Edward mengantuk."


Ia berkata sembari menyerahkan Edward yang digendongnya kepelukanku.


"Terimakasih bu, maaf merepotkan."


Kataku pada Mami Dion.


Mami Dion tak berkata apapun lagi, ia langsung pergi meninggalkan kami.


"Ed senang disini?"


Tanyaku pada Edward yang memainkan rambutku.


"Cenang, oma Eci good."


Jawab Edward lugu.


"Darimana Ed tau nama oma?"


Tanyaku pada Edward yang tentu ia tak mengerti.


"Dari mami kali. kenalan".


Jawab Dion sembari mencium kepala Edward.


"Yon, kalo nanti kita nikah terus punya anak, apa kamu masih sayang sama Ed?"


Tanyaku meragukan hal ini.


"Sayang."


Jawaban singkat yang selalu ia ucapkan padaku semasa sekolah dulu.


"Sama aku?"


Tanyaku.


"Sayang."


Jawabnya lagi singkat.


"Pelit banget sih ungkapin rasa sayang?"


Protesku.


"Aku gak mau umbar, yang penting selalu ada di sisi kalian."


Jawab Dion mengingatkan ku pada Gerald yang tak ada di sisi kami.

__ADS_1


__ADS_2