
Lana datang membawakan sepucuk surat dari Eric untukku. Semenjak putus darinya, aku mengubah nomer handphoneku. Membuat Eric tidak dapat menghubungiku. Hingga saat ini jika aku mengingat aku pun masih kecewa dengan tindakan Eric terhadap Lana. Bukan hanya itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk fokus sekolah.
Mil, Boleh nanti kita ketemu di danau? ada yang mau aku bicarakan. Maaf aku terlalu cemburu waktu itu, sehingga tidak dapat menahan amarahku. Sekarang aku baru mengerti, ternyata kamu memang gak ada hubungan apa-apa dengan dia.
"Gimana Mil, Lu bisa kan?" Tanya Lana memecahkan lamunanku seolah mengerti isi surat yang sedang kubaca.
"Gak Lan, gue harus pulang cepet hari ini" Aku beralasan agar tidak perlu memenuhi ajakannya.
"Plis lah Mil sebentar aja. Kasian Eric. Gue gak tega. Semenjak lu putusin dia jadi pemurung. Biasanya dia selalu buat kita ketawa sekarang jadi PR gue sama Olan buat dia ketawa."
Rayu Lana kepadaku.
"Gak habis pikir gue Lan, hati lu terbuat dari apa? gue aja masih belum terima lu digituin.Ini lu malah bantuin dia mohon ke gue. Sorry Lan, gue tetep gak bisa! Sampein aja ke dia". Tegasku agar Lana paham.
Sudah jam pulang sekolah, aku sengaja memesan ojek untuk cepat sampai rumah dan tak berpapasan dengan Eric.
Hari ini betul-betul sepi tidak ada pesan dari Dion di ponselku. Biasanya sesampainya aku ke rumah dia selalu mengirim pesan sekedar bertanya apakah aku sudah sampai. Memang orang yang kasmaran sama teman sendiri bisa lupa. Aku memakluminya.
__ADS_1
Tapi tak bertahan lama, Menjelang malam Dion sudah menelponku lagi. Aku terheran, memangnya dia tidak bertukar kabar atau bertukar cerita dengan pacar barunya?.
"Lu gak kangen sama gue? kan hari ini gue gak kontek lu seharian"
Tanya Dion memulai obrolan.
"Sedikit sih. Biasanya ada yang bawel message gue sekarang gak ada. Tapi gak apalah ntar kalo udah putus, lu juga nyari gue lagi"
Jawabku meledek.
"Ih parah lu, kok gitu sih. Baru juga jadian udah disumpahin putus. Lu cemburu ya?"
"Ish ngapain cemburu? ikut senenglah gue kalo temen terbaik gue seneng".
Jawabku membagi kebahagiaan kami merayakan hari jadinya dengan Meli.
Obrolan kami berlanjut hingga aku tertidur seperti biasanya. Dia mengucapkan sebuah kalimat yang tidak pernah jelas terdengar olehku. Karena aku ditengah alam mimpi dan alam sadarku mendengar dia berkata
__ADS_1
"M, tidur ya?"
lalu jika aku tak menjawab ia seperti berkata sesuatu. Kuanggap itu mantra.
Sesampainya di sekolah Lana mencecarku
"M, lu tega banget gak dateng. Eric kemarin nunggu lu sampe malem."
"Kan gue udah sampein sama lu, gue gak bisa. kenapa gak lu sampein?"
Jawabku sewot karena melihat mimik wajah Lana yang agak ngeselin.
"Gue sampein tapi dia keras kepala, dia bilang lu pasti dateng"
Jawab Lana keras hingga membuatku sedikit menyesal.
Tapi ya sudahlah, Jika didalam hubungan sudah tidak ada rasa percaya untuk apa dikembalikan? menurutku.
__ADS_1
Hari demi hari berganti, sudah jarang aku mengobrol di sekolah dengan Dion. waktu istirahat Dion pergunakan untuk bersantai dengan Meli di kantin. Aku pun makin akrab dengan Olin, Grace dan Ria. Kami seperti 4 sahabat yang tak terpisahkan. Olin si gadis yang jago di semua bidang akademis. Dia salah satu saingan terberat Dion, Grace perempuan yang hobi menggambar, Ria si super bucinnya Felix, dan gue yang selalu sibuk mendengarkan cerita-cerita hidup mereka.