
Kami berangkat bersama. Gerald mengendarai mobilnya dan aku merias wajahku di sampingnya.
"Mil, thanks ya untuk dasi dan nasi gorengnya."
Gerald membuka obrolan.
"Iya Kak sama-sama. Makasih juga udah nemenin aku."
Kataku sambil memakai bedak.
"Oh iya Maaf Mil, semalam saya udah berusaha bangunin kamu untuk mengunci pintu karena saya mau pulang.Tapi karena kamu lelap sekali, saya akhirnya memutuskan untuk menginap dirumah mu. Karena saya kuatir jika pintu tidak dikunci. Tetanggamu kan pergi semua."
Jelas Gerald mengenai kejadian semalam. Membuatku teringat sesuatu
"Oh iya, Kenapa saya ada di kamar? "
Tanyaku ,baru ingat soal ini.
"Karena kamu meringkuk kedinginan di ruang tamu, jadi saya menggendongmu sampai kamar. Tapi saya gak ngapa-ngapain kok Mil"
Jelas Gerald tak enak hati.
"Berat ya kak?"
Tanyaku malu.
"Lumayan"
Katanya sembari tertawa.
"Oh ya gimana kak nasi gorengnya? rasanya kurang asin atau mungkin keasinan?"
Tanyaku mengalihkan obrolan yang akan membuatku menjadi rajin olahraga dan diet ketat.
"Enak Mil. Gak ada yang kurang.. Sempurna"
Katanya memuji.
"Tiap hari masakkin gitu ya Mil"
Mintanya padaku.
"Enak aja, emang aku tukang catering?"
__ADS_1
"Ya gak sekarang."
Tutur Gerald lagi.
"Terus kapan?"
Tanyaku bingung.
"Nanti kalo udah jadi nyonya Gerald"
Jawabnya membuatku malu.
"Rasanya pria berumur seperti saya sudah seharusnya dibikinin sarapan dan dipakaikan dasi seperti tadi."
Dia melanjutkan kalimatnya.
Gerald menginjak rem secara mendadak, lampu kuning dengan cepat berubah menjadi merah. Ketika itu terjadi aku sedang memulas lipstik di bibirku. Sehingga berantakan hingga ke pipi.
"Yaaaahhh"
Teriakku kecewa riasanku berantakan
"Hahahahaha"
"Sini"
Menyuruhku mendekat.
Dia mengangkat daguku dan serius membersihkan lipstik yang keluar dari jalurnya.
Wajah kami terasa sangat dekat dan bibir Gerald hampir menyentuh bibirku, sebelum akhirnya mobil dibelakang membunyikan klaksonnya menyadarkan kami bahwa lampu merah tadi sudah berubah warna menjadi hijau.
"Jangan coba-coba lagi ya kak."
Aku mengancam.
"Coba apa?"
Tanya Gerald tak paham.
"Coba mengambil ciuman pertamaku untuk suamiku nanti"
Kataku sambil melotot.
__ADS_1
"Kamu belum pernah ciuman Mil?"
Tanya Gerald terheran.
"Belum . Kasian nanti suamiku kalau dapet bekas."
Kataku sambil memulas kembali lipstik yang tadi dihapus semua oleh Gerald.
"Siap Mil."
Jawab Gerald sambil tersenyum.
"Tapi kan nanti tetap saya juga yang akan menjadi suamimu. Jadi tak apa dong saya sentuh sedikit?"
Gerald menggodaku.
"Kaya cenayang aja kamu nih, kak. Tau darimana kamu bakal jadi suamiku nanti?"
Tanyaku minta bukti.
"Kan saya yang sudah ke rumah mu untuk pertama kali. Berarti saya sudah mematahkan kutukan pintu rumahmu"
Jawab Gerald yakin.
"Huh mana bisa itu jadi jaminan. Sekarang aja hubungan kita tak lebih dari sekedar teman kerja."
Kataku mematahkan keyakinannya.
"Memang kapan kamu siap saya lamar? katamu tunggu umurmu kepala dua"
Tantangnya seraya mengingatkanku obrolan di resepsi pernikahan bu Lea.
Akhirnya kami sampai di parkiran outlet. Artinya obrolan tadi tak usah dilanjutkan sekarang, karena aku harus menghargai perasaan Sisca.
Aku turun duluan bersemangat karena hari ini adalah hari terakhir kerja di tahun ini. Mulai Besok hingga tiga hari kedepan kami akan cuti bersama.
Bipp ..Bipp
Ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk.
Aku menghentikan kesibukanku menata pakaian, mumpung toko belum buka, aku masih bisa bermain ponsel
Pagi Bondol, besok malem tahun baru ke rumah ya. Aku jemput di gang. ~Jero
__ADS_1