
Dion sudah tertidur di sofa, padahal sudah kusiapkan kamar tamu untuknya. Aku mengintip lagi dari jendela kamar tapi taksi itu tidak ada.
Aku memutuskan untuk tidur.
Tok..tok..tok
"M, bangun".
Dion mengetuk pintu kamar membangunkanku. Kulihat sudah jam lima.
"Lu mau sarapan apa?"
Tanyaku pada Dion yang juga baru bangun dan bersiap berangkat kerja.
"Apa ajalah."
Jawabnya sambil memberikan kecupan di keningku dan berlalu ke kamar mandi.
Aku bergegas ke dapur dan membuatkan waffle dengan saus stroberi sebagai sarapan untuknya.
Selesai membuat sarapan, aku juga bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk bekerja.
Aku sedang bercermin dan memulas bedak agak tebal di bagian yang lebam bersamaan Dion mengetuk pintu kamarku.
"M"
Panggilnya
"Ya yon?"
Jawabku sambil membuka pintu.
"Gue lupa bawa dasi."
Katanya yang sudah rapi memakai kemeja berwarna biru tua.
__ADS_1
"Ada punya Kak Gerald. Gue ambilin ya."
kataku sambil membuka lemari pakaian milik Gerald.
Sudah lama lemari ini tak ku buka, wangi parfum khas Gerald menyeruak dari dalam lemari ini. Ku ambilkan dasi berwarna kuning milik Gerald yang match jika dipadukan dengan kemeja biru tua milik Dion.
Kukenakan dasi ini di kerah kemeja Dion, kemudian wajah Gerald muncul dalam ingatanku, saat pertama kali ku pakaikan dasi ini dengan kemeja yang sama dengan yang Dion kenakan saat ini.
"M..M..Haloo"
Dion memanggilku yang terbuai khayalan.
Aku tidak menggubrisnya sedikitpun, aku merasa Gerald didepanku saat ini.
Aku mendekatkan bibirku ke bibirnya, dia membalas kecupanku dengan hangat dan lembut, Dasi yang tadi kupakaikan, ku lepas kembali, tangannya pun tak kalah sibuk membuka setiap kancing kemeja maroon ku, kami terbuai oleh rayuan setan. Kami melakukannya tanpa ingat status kami, kami melakukannya tanpa ingat tujuan kami yang ingin segera bekerja. Aku dan dia saling memeluk dan bekerja keras mengeluarkan hasrat yang telah lama kami pendam. Lalu setelah lelah, aku tertidur dalam pelukannya.
"M, are you okay?"
Suara itu menyapaku yang sedang mengumpulkan tenaga.
"M, Ada apa?"
Dion bertanya kebingungan.
Aku memang menikmatinya tadi. Tapi dengan Gerald bukan dengannya. Aku menangis ketakutan oleh perbuatanku sendiri.
"M, Everything is fine. Gue akan nikahin elu. "
Dion berdiri mendekat dan mendekapku. Aku menangis dalam pelukannya.
"Ayo berpakaian yang rapi, kita udah telat."
Ucap Dion sambil melihat jam dinding kamar ku yang menunjukkan pukul tujuh.
Aku memakai pakaian yang terlepas tadi akibat ulah Dion.
__ADS_1
"M, gue anter aja ya."
Kata Dion menawarkan diri.
"Kan udah telat, nanti makin telat."
Jawabku yang masih malu-malu mengingat kejadian tadi.
"Gak apa-apa."
Dion meyakinkanku.
"Tadi sarapannya udah di makan?"
Tanyaku.
"Belum. Bawa aja M, nanti gue makan di jalan."
Katanya sambil memasang dasi.
Aku membungkusnya kemudian segera berjalan masuk ke dalam mobil Dion.
"Laper juga ternyata".
Keluh Dion yang tangan kanannya memegang stir dan tangan kirinya mengusap perut.
Kuambilkan waffle buatanku tadi, ku suapkan ke mulut Dion.
"Makasih ya M."
Ucap Dion sambil mengunyah.
"Sama-sama."
Balasku.
__ADS_1
Aku tak banyak berkata lagi di dalam mobil, aku malu terhadap persahabatan kami.