
Aku hendak pulang ketika Sisca mendorong tubuhku hingga jatuh di depan butik.
"Gak tau malu lu ya Mil, jadi temen kok makan temen?"
Sisca mencaciku di depan banyak orang
"Ada apa Sis?"
Tanyaku sambil mencoba berdiri.
"Lu godain Gerald kan? gue tau."
Dia terus menuduhku.
"Gue liat di layar beranda hp Gerald ada foto kalian."
Sisca terus meracau dan mendorong-dorong tubuhku.
"Kamu kenapa sih Sis?"
Richard datang menahan gencatan Sisca padaku.
"Ini Emily kaya gak laku godain pacar orang."
Kata Sisca pada Richard.
"Dia gak godain Gerald. Kamu yang ngerebut Gerald dari dia."
Richard akhirnya mengemukakan kenyataan.
"Gak mungkin. Dia yang berusaha deketin Gerald"
Sisca masih bersikukuh dengan pendapatnya.
"Emily itu pacar Gerald sebelum akhirnya Gerald terpaksa nerima kamu, Sis. Emily kurang ngalah bagaimana denganmu? sudah merelakan Gerald untukmu. Lepasin dia"
Richard terus membeberkan kebenaran.
"Lu peduli sama gue Mil?"
Sisca bertanya padaku.
"Iya, gue akan jauhin Gerald."
__ADS_1
Kataku sambil menenangkan diri. Takut Sisca melakukan hal diluar nalar lagi.
"Itu aja gak cukup. Buat Gerald ngelupain lu. Lu harus cari pacar atau resign dari sini. Kalau enggak, gue akan celakain Gerald. Kalo gue gak bisa milikin Gerald, lu juga gak akan bisa."
Ancam Sisca padaku kemudian ia pergi.
Sepanjang jalan pulang, aku memikirkan ancaman Sisca, bagaimana kalau ia benar nekat mencelakai Gerald. Omongan Sisca tak bisa diacuhkan, waktu ia bilang itu hanya ancaman pertama saja, selanjutnya ia melakukan hal yang lebih nekat lagi.
**
Tok..tok..
Aku datang ke ruangan Gerald lagi untuk interview.
Hari ini aku benar-benar menjaga jarak dengannya, takut jika Sisca tau, ia akan melukai Gerald.
Gerald memberikanku banyak pertanyaan mengenai perusahaan, aku menjawabnya sebisaku.
"Pertanyaan selanjutnya, apa yang Sisca perbuat padamu kemarin?"
Tanya Gerald padaku.
"Maaf Kak, kembali pada topik interview saja"
"Oke, saya mendengarnya dari Richard, Sisca mencelakaimu. Bagaimana saya hanya bisa diam mendengar kabar seperti ini?"
Tanya Gerald masih seperti saat ia menginterview ku tadi. Tak ada mimik wajah yang berubah. Hanya pertanyaannya yang keluar jalur.
"Kalau sudah selesai, saya izin keluar ."
Jawabku mengancam.
Gerald berdiri menuju jendelanya, lalu ia menurunkan tirai, sehingga kami tak dapat melihat keluar begitupun sebaliknya.
"Mil, jawab saya. Apa saya harus terus diam?"
Tanyanya padaku
"Iya, diam dan jauhi aku."
Jawabku .
"Kenapa? kamu takut dengan ancaman Sisca yang akan mencelakai saya? Saya bisa menjaga diri."
__ADS_1
Gerald terus bertanya.
"Iya. kenapa? Apakah hanya dengan selalu bersama maka kita akan saling menjaga?"
Tanyaku pada Gerald.
"Maksudmu?"
Gerald balik bertanya.
"Terkadang menjauhi orang yang kita cintai adalah salah satu cara menjaga yang terbaik."
Jelasku.
"Jadi, Apa kamu akan menjauhi saya Emily Anandita?"
Tanyanya serius.
"Bukan hanya aku. Kamu juga. Kamu tidak mau melihatku dipermalukan seperti kemarin bukan? Begitupun aku, aku tak ingin ada satu orangpun melukaimu"
Kataku berusaha tegar.
"Kalau saya tidak mampu?"
Tanyanya lagi.
"Saya aku keluar dari perusahaan ini."
Jawabku menahan tangis.
"Kamu melakukan itu atas dasar apa Emily?"
Dia masih bertanya sesuatu yang sudah ia temukan jawabannya.
"Cinta kak. Cintaku padamu Ka Gerald! Aku rela melakukan apa saja."
Jawabku sambil berdiri menyudahi percakapan ini.
Namun Gerald mencegahku membuka kenop pintunya. Kami berpelukan dan berciuman seperti kehausan. Kami terbakar kerinduan dan kesedihan.
Setelah sepuluh menit berlalu, aku mendorong Gerald perlahan agar melepaskanku. Aku membetulkan baju dan rambutku yang berantakan akibat kejadian tadi.
"Terimakasih . Aku harap kita saling melupakan"
__ADS_1
Aku dan Gerald sepakat menjauh agar Sisca tak menyakitiku atau Gerald.