
Kami melewati hari-hari dengan penuh semangat, karena semakin bertambah hari artinya semakin cepat bayi mungil ini berada di antara kami.
"Mil, udah kelihatan tuh baby bump lu"
Kata Grace yang makin cantik setelah beberapa lama tak bertemu secara langsung.
"iya udah lima bulan nih. Gak sabar sebentar lagi Gerald mungil lahir"
Kataku sambil terbuai khayalan bayi ini akan mirip ayahnya.
"Emang cowo mil?"
Tanya Grace lagi
"Iya, menurut dokter begitu"
Ucapku sambil mengingat kejadian waktu dokter mengatakan prediksinya, Gerald begitu bahagia anak pertama kami laki-laki.
Aku, Grace dan Olin banyak bercerita sambil menunggu Ria dan Felix masuk ke ruangan.
"Mil, pengantinnya sudah datang"
Gerald memberitahuku bahwa Ria dan Felix sudah mulai berjalan ke altar
Kami menyaksikan prosesi pernikahan yang begitu sakral hingga selesai. Setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri, segera kami semua yang hadir berpindah ke tempat resepsi yang akan di gelar.
Tak butuh waktu lama kami pun sudah sampai.
"Selamat ya Ri, semoga bahagia terus"
Ucapku menyelamati kedua pasangan yang berbahagia.
"Selamat ya Ri, Fel, nanti malam kalau gak ngerti jangan nelpon Emily"
Kata Gerald sambil melirik ke arahku.
__ADS_1
"Emang Emily gitu?"
Kata Ria membuat kami tertawa.
Ku cubit perut Gerald.
"Maaf ya sayang"
Kata Gerald sambil mengelus rambutku.
"Mon maaf ini pengantinnya yang mana?"
Tanya Olin menggoda kami yang bermesraan di samping Ria.
Olin datang dengan memperkenalkan pacar barunya Glen, tentunya Olin sudah benar-benar terlepas dari hubungan beracun yang pernah ia alami.
Kami begitu bahagia berkumpul bersama, Aku dan tiga sahabatku juga dengan pasangan kami, kecuali Grace ia belum memikirkan memiliki pasangan hingga saat ini, menurutku itu karena ia sangat fokus dengan kuliahnya.
Resepsi yang berlangsung selama dua jam ini akhirnya selesai juga. Kami berpamitan untuk pulang.
"MILY"
Gerald memelukku.
Tidak tahu kalau sampai ia tak menarik dan memelukku, aku takut terjadi hal buruk dengan kandunganku.
"Kamu gak apa-apa Kak?"
Tanyaku panik.
"Gak apa, kamu gimana? perut mu sakit?"
Gerald balik bertanya.
"Gak kak. Aku baik. Tapi tanganmu lecet."
__ADS_1
Kataku sambil membersihkan luka ditangan Gerald.
"Gak apa- apa Mil asal kamu dan anak kita baik-baik aja".
Jawab Gerald sambil membawaku masuk ke mobil.
Didalam mobil ia memintaku agar lebih hati-hati dan tak keluar rumah tanpanya.
"Ada yang kamu sembunyiin Kak? kok aku ngerasa khawatirmu berlebihan"
Tanyaku sambil menatap matanya
"Mil, saya berlebihan gimana? Apa tadi kurang cukup, kamu hampir celaka?"
Gerald membentakku.
"Maaf"
Aku diam dan kesal terhadap Gerald tak seharusnya ia berbicara sekencang itu padaku.
Kami sampai di rumah dengan hening, setelah obrolan terakhir di mobil tadi, tak satupun kami berbicara. Aku langsung mandi dan tidur tanpa berbicara padanya.
"Mil, maafin saya"
Gerald mendekatiku di atas kasur. Dan aku memilih berpura-pura tidur.
"Jagoan, jaga mama mu."
Gerald berbicara pada anak di perutku.
Lalu ia turun lagi dari kasur dan mengeluarkan laptopnya.
Aku tak tau apa yang ia kerjakan di laptopnya setiap malam.
Rasanya ingin sesekali aku melihatnya tetapi aku tak ada keberanian mengganggu privasinya.
__ADS_1
Walaupun aku sudah menjadi istrinya, privasinya tak ku usik. Apalagi menyangkut pekerjaannya.