(Im)Perfect

(Im)Perfect
Edward mencari perhatian


__ADS_3

Ed terus menerus menangisi kepergian Dion sejak tadi


Aku tetap bersikeras membiarkan Ed tak terlalu dekat dengan Dion.


Ia akhirnya tertidur dalam tangisnya yang tak terhenti. Aku dan mba Susan sungguh dibuat kewalahan olehnya.


Pukul sepuluh malam, aku melanjutkan pekerjaan yang belum ku selesaikan tadi siang karena pesta Edward.


"Bu, Ed demam bu"


Mba susan panik.


"Oke mba kasih paracetamol dulu, terus tolong cek suhu tubuhnya."


Kataku meminta tolong.


"Baik bu."


Jawab mba Susan.


Aku kemudian masuk ke kamar Ed lewat koridor kamarku.


"Papaaaa Yoonnn Papaa Yoonn"


Edward mengiggau memanggil Dion.


"Berapa suhunya mba?"


Tanyaku


"40° c bu"


Jawabnya sambil melihat termometer.


"Wah panas banget. Kasih paracetamol. Nanti kalau tak kunjung turun suhunya, kita ke rumah sakit"


Ucapku panik.


Sudah satu jam panas Edward tak kunjung reda.


"Bu, apa gak lebih baik kita telepon pak Dion untuk kesini?"


Tanyanya ragu melihatku yang selalu tak mau membutuhkan Dion.


"Sudah malam mba. Gak enak ganggu."

__ADS_1


Kataku.


"Dicoba dulu deh bu."


Paksa mba Susan.


Lalu aku mengambil ponsel dan menelpon Dion. Aku sebenarnya tidak mau berhubungan terlalu dekat dengannya, karena kami sama-sama sudah berkeluarga. Tapi aku juga tak tega dengan Edward.


"Yon, Ed demam terus ngiggau manggilin elu. Bisa kesini sekarang?"


Tanyaku ragu.


"Iya M. Gue kesana."


Untungnya Dion tak keberatan.


Empat puluh menit berselang, Dion sampai dirumahku.


Ia menggendong Edward. Dan yang membuatku takjub, Edward ceria lagi bahkan suhu tubuhnya berangsur turun.


"Papa Yon bobo cama Ed yah"


Edward meminta Dion.


Dion lagi-lagi menatapku meminta persetujuan.


Ucapku jujur jika Dion harus menginap disini.


"Dia sudah gak di rumah. Kami pisah ranjang beberapa bulan ini."


Kata Dion mengagetkanku.


"Gara-gara gue?"


Tanyaku takut mendengar jawaban ya.


"Bukan! gara-gara gue dan dia sendiri. Sama-sama gak ada rasa. Nikah karena dijodohin."


Jawabnya sedikit membuatku lega.


"Oh, sori kalo gitu."


Ucapku tak enak hati.


Aku mengantar Dion ke kamar Edward yang harus masuk melewati kamarku.

__ADS_1


Ia memperhatikan foto-foto ku dan Gerald yang masih kupajang.


"Ini kamar Edward. Maaf ya Edward ngerepotin lu."


Kataku pada Dion.


"Gak apa-apa dulu kan elu sering gue repotin."


Jawabnya tersenyum.


Aku meninggalkan mereka berdua yang masih bermain di kamar Edward. Aku berjalan dan berdiri di jendela kamarku sambil meratapi nasibku.


Jika Gerald ada, mungkin Edward tak akan kekurangan kasih sayang dan meminta perhatian dari Dion.


Seketika aku melihat dari balik jendela, taksi tadi sore berhenti lagi di depan rumah. Kali ini aku harus bertanya padanya.


Aku berlari dan mendekati taksi, namun sang supir tiba-tiba menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pergi.


"M, lu belum tidur?"


Tanya Dion yang melihatku mematung didepan rumah.


"Belum. Edward udah tidur?"


Tanyaku.


"Udah. Gue pamit ya."


Ucap Dion berpamitan.


"Lah lu bukannya mau nginep?"


Tanyaku bingung.


"Gue juga gak enak sama lu, sama tetangga lu."


Jawabnya.


"Ada mba Susan kok. Tidur sama Edward aja atau kalo sempit di kamar tamu."


Kataku mempersilahkannya.


Aku dan Dion masuk lagi ke dalam rumah. Edward kecilku bangun lagi melihat tak ada Dion di sisinya.


"Hehe Yon, berarti lu harus tidur di kamar Edward."

__ADS_1


Kataku terkekeh.


__ADS_2