
Setahun sudah kejadian pahit itu berlalu. Edward dan Gerald terlihat makin akrab. Namun sesekali Edward akan bertanya tentang Dion pada kami.
"Halooo Selamat pagi.."
Aku menyapa Gerald dan Edward yang sudah bermain di teras.
"Ni sarapannya dan ini jus tomatnya".
Ucapku sambil menyodorkan sepiring sandwich.
"Thank you mama Mily."
Ucap Gerald dan Edward bersamaan.
"Ayo mandi, kita mau ke bandara kan hari ini?"
Tanyaku pada Edward.
"Iya mau mau mau."
Edward begitu antusias. Ia langsung melahap sarapannya dan berlari ke kamar mandi.
"Maaa, Ed mau mandi ayo."
Ucapnya dari dalam kamar mandi.
"Haha, dasar Ed kalo udah maunya."
Kataku sambil menggeleng melihatnya semakin aktif.
"Hahaha ya sudah sana mandiin. Saya berangkat ya. Selamat bersenang-senang."
Ucapnya sambil meninggalkanku di teras.
"Oke kak, hati-hati di jalan. Semangat"
Jawabku sambil melambaikan tangan mengiringi kepergiannya.
"Maaaaa, Ed mau mandi nih."
Edward berteriak lagi dari dalam.
__ADS_1
"Iyaa, tunggu jagoan."
Jawabku pada Edward.
Setelah mandi, ia memilih mengenakan baju berwarna kuning katanya supaya terang dan terlihat.
Aku menstater mobilku dan bersiap pergi dengan Edward.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami tiba. Pesawat yang kami tunggu juga sudah nampak.
Lima belas menit kemudian para penumpang berhamburan turun.
"Papa Yoooonnn".
Teriak Edward mengenali wajah seseorang yang kami tunggu.
Dion terkejut dengan kedatangan kami tapi ia tetap memeluk Edward dan menggendongnya. Edward begitu dalam mengeluarkan kerinduannya.
"Dont leave me, papa Yon. Ed miss you."
Ucapnya dipelukan Dion.
"Papa Dion kangen sama Ed."
"Hahaha, stop papa. Geli."
Tawa Edward membuatku ikut tertawa.
"Gerald mana?"
Tanyanya menyadari keberadaanku.
"Pulang. Dia tinggal sama maminya sekarang."
Jawabku.
"Maksudnya tinggal sama maminya?"
Tanya Dion heran.
"Ya dia sama maminya, gak disini. Udah setahun ini dia tinggal disana dan beberapa bulan sekali kesini untuk lihat Edward. Kemarin kesini,lalu tadi pagi sudah pulang lagi, pesawatnya lebih pagi, makanya kami gak berangkat bareng."
__ADS_1
Jawabku sambil mengambil koper miliknya, karena ia terlihat kewalahan dengan Edward.
"Terus pernikahan kalian?"
Tanya Dion masih heran.
"Kalian? aku menikah sendiri."
Jawabku sambil memukul punggungnya.
"Apa lagi sih M maksudmu?"
Dia bertanya lagi sambil menyalakan mesin mobil.
"Aku gak pernah menikah lagi dengan Gerald. Aku membatalkan pemberkatan, lalu langsung ke resepsi. Karena semua persiapan kita sudah 100%, aku gak mau kecewain banyak orang."
Ucapku sambil mendudukkan Edward di pangkuanku.
"Aku sendiri berdiri di pelaminan, untungnya gak semua orang mikir buruk tentangku. Banyak yang tau kalau kamu sakit."
Aku melanjutkan ceritaku.
"M, kenapa kamu gak nikah sama Gerald malah mempermalukan diri kaya gitu?"
Tanya Dion sambil memukul stir.
"Memangnya aku barang kamu pindahtangan seenakmu."
Jawabku ketus.
"Aku sudah tanya Gerald dan dia bilang mau menikah denganmu lagi."
Ucapnya mengingat.
"Iya dia mau, aku yang gak mau. Kami lebih memilih jadi teman untuk menjaga Edward."
Kataku membuatnya menghentikan mobil dan memelukku.
"Maafin aku,M. Aku pasti membuatmu melewati hari-hari yang sulit."
Ucapnya lirih.
__ADS_1
"Gak apa Yon. Kamu udah banyak berkorban buatku dan Edward, ini adalah hal yang udah sepantasnya aku lakukan. Nunggu kamu sembuh dan pulang."
Jawabku sambil melepas pelukannya, takut hal mengerikan itu terjadi lagi.