
Paginya aku diantar oleh Reza, seperti biasa kami tertawa terus diatas motor. Tak terasa sudah sampai didepan gerbang. Aku berpapasan dengan Eric. Eric menatap Reza dengan tajam. Reza menatap balik. Tidak ada ketakutan di wajah Reza. Aku memberikan helm kepada Reza
"Nih Res, thank u yah. hati-hati dijalan. Jangan lupa kasih kabar kalo udah sampe".
"Iya Mil. Aku jalan dulu"
Reza berlalu sambil meninggalkan tatapan sinis kepada Eric yang sedari tadi menatap kami di sebrang.
Aku berjalan menyusuri lorong kelas. Dibelakangku Eric dan Ara yang bergandengan menyusul langkahku. Mereka mendahuluiku dengan memperlihatkan keromantisan mereka sebagai pasangan.
Aku sempat bergumam dalam hati dulu waktu jadi pacarnya, Eric gak sealay itu ah sampe gandengan di sekolah. hahaa norak.
Entah aku iri atau benar-benar nyinyir melihat tingkah mereka. Tapi rasanya tak ada lagi cemburu. Semua terasa biasa saja.
Sampai dikelas aku berbisik pada Dion.
"Yon tadi gue liat Eric sm Ara gandengan di lorong. Tapi kok gue gak kenapa-napa ya? kan sebelumnya liat Eric aja gue bisa melow. Ini enggak. Amaze gak sih Yon?"
"Ya bagus dong namanya lu udah move on. Lu udah yakin emang sama temen lu?" tanya Dion
"Ya gatau Yon. Dia aja gak ada tanda-tanda nembak gue." Jawabku jujur.
"Ya emang dia gak boleh jadi pacar lu sebelum ketemu gue. Gue harus kualifikasi orang-orang yang mau jadi pacar lu"
Jawab Dion selalu bikin jengkel.
"I dont care Yon. Bagi PR dong. Gue belum" Pintaku pada Dion sembari mengeluarkan buku pelajaran Kimia.
"Kebiasaan lu ngerjain di sekolah. Lu di rumah ngapain emang?"
__ADS_1
Tanya Dion yang jengkel dengan kebiasaanku.
"Yakan gue harus nemenin lu di telepon jadi sekretaris pribadi lu, jadi psikolog gratisan buat lu. gak sempet kerjain PR"
Jawabku mengajak memorinya kembali bekerja.
"Lu jangan alesan M. Dari awal gue baru masuk sini. Lu udah begitu"
Balas Dion ngotot.
"Jadi lu mau kasih gue contekan apa enggak sih? Lu gak sayang sama gue? kemarin gue berdiri di depan kelas gara-gara gak kerjain mapel Pak Rudi, lu gak kasian?"
Aku merengek pada Dion.
Dion hanya menjawab "Sayang"
Aku melihat kemarin mukanya cemas melihatku dihukum sendiri berdiri di depan kelas karena lupa membuat PR. Aku benar-benar lupa kemarin.
"M, pulang sama gue ya gak boleh nolak kaya biasa" Dion memaksaku.
"Mel gimana?" tanyaku
"Dia lagi sakit jadi gak masuk" Jawabnya
"Yuk kita jenguk" ajakku.
"Gue sendiri aja. Kalo bawa lu tambah sakit dia ntar" Kata Dion perlahan.
"Emang gue virus?" Tanyaku.
__ADS_1
Malam ini Dion bilang tidak akan menelponku. Karena harus menjaga Keponakannya. Kakaknya pergi ada keperluan dan menitipkan anaknya kepada Dion.
Tring...tring.. Nada panggil ponselku berbunyi. Padahal tadi Dion bilang tidak akan menelpon.
Kulihat layar ponselku. Tertera nama Reza.
Aku terkejut sekaligus senang. Kuterima panggilan telepon darinya.
"Tumben kesambung, biasanya selalu sibuk tiap malam ku telepon" Reza berkata dengan heran.
"Oh iya Res kalo malem aku terima telepon dari langganan" Jawabku asal.
"Langganan apa?" Reza makin bingung.
"Langganan curhat. Kalo malem aku buka layanan curhat online" Jawabku yang membuat Reza tertawa.
"Mil, lu punya pacar gak sih?" Tanya Reza lagi.
"Enggak Res" Dalam hati aku sembari menebak apakah dia akan menanyakan Eric yang tadi saling bertatapan dengannya atau mau menyatakan perasaannya padaku. Pede banget sih.
"Terus yang tadi pagi ngeliatin kita kaya gak suka itu siapa?" tuhkan benar gumamku masih ngobrol sama diri sendiri.
"Matanya minus kali Res, makanya ngeliatnya begitu" Jawabku asal. Padahal mana mungkin Eric minus. gambar bunga yang ada di ujung danau saja dia lihat.
"Oh.. Kalo gitu kamu mau gak jadi pacar aku?"
Sumpah demi apapun hatiku girang. Prediksiku keduanya diucapkan Reza. Aku harus gimana sekarang. Bertanya dulu pada Dion atau ikuti kata hatiku?
"Mau Res" Aku menjawab tanpa persetujuan dari sahabatku. Untuk apa? Toh, bakal aku sendiri yang jalani.
__ADS_1