(Im)Perfect

(Im)Perfect
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Bus akhirnya berjalan. Selesai kami diabsen, Ria mengusir Eric. Eric dengan berat hati duduk disebelahku.


Aku tetap menggunakan earphoneku, aku tak mau terjadi obrolan seperti semalam.


"Gue satu"


Dion mencabut earphone yang berada di telinga kiriku dan meletakknya di telinga kanannya.


Aku tetap terdiam tidak menggubris.


The way she tells me I'm hers and she is mine


Open hand or closed fist would be fine


The blood is rare and sweet as cherry wine.


Lantunan Cherry wine dari Hozier mengantarkan kami kedalam tidur yang dalam.


"Aduuhh"


Aku dan Eric mengusap dahi kami. Kami terbentur karena terlalu pulas dan bus mendadak berhenti.


Matanya bertemu mataku. Kami saling memandang, seketika aku menarik wajahku dari hadapannya.


Aku menghadap keluar jendela mencoba menetralisir perasaanku. Eric memberanikan diri memegang tanganku yang menopang tubuhku untuk duduk tegak.


Perlahan aku menarik tanganku keluar. Tapi Eric menggenggamnya lebih kencang.


"Biarin begini mil"


Minta Eric dengan wajah datar.


Aku membiarkannya melakukan hal itu. Karena hari ini perpisahan bagi kami sesungguhnya.


"Mil, bisa merem sebentar?"


Tanya Eric sambil tetap menggenggam tanganku.

__ADS_1


"Kenapa?"


Tanyaku bingung.


"Udah ikutin aja"


Perintah Eric tak mau menjelaskan.


Aku menurutinya. Karena gak mungkin kan dia ngelakuin hal yang aneh di dalam bis? pikirku positif.


Aku mengintip dari sudut mataku apa yang ia lakukan. Ternyata ia juga memejamkan matanya.


Lalu dia berucap "Amin".


"Doa apa Ric?"


Keingintahuanku besar.


"Minta Tuhan temuin kita lagi di masa depan tanpa nyakitin siapapun".


Dan kami saling menggenggam tanpa bicara.


Satu jam kemudian setelah hanya diam, kami pun sampai dengan selamat di titik penjemputan. Aku memesan taksi untuk pulang ke rumah.


Aku, Grace, Ria, dan Olin bersepakat tidak mengucapkan perpisahan. Karena kami memiliki rencana akan bertemu minimal satu bulan sekali.


Aku pulang dan langsung merebahkan diri diatas kasur empukku.


Aku melihat foto-foto yang dikirimkan di grup kelas kami. Aku suka melihat semua kebersamaan ini. Aku berencana akan mencetak beberapa foto ini.


tring... Ada satu foto tertinggal yang mungkin lupa Ria kirim. Ku buka dan aku dibuat terkejut. Fotoku bersama Eric tertidur pulas di bus tadi. Kepala kami terlihat saling menopang.


Ah sudahlah, aku biarkan saja. Toh cuma foto, kalau aku marah nanti malah dikira ada apa- apa. Aku melanjutkan tidur yang tadi terputus di bus.


Alarm ku terus berbunyi. Ini hari pertama aku tak melakukan apapun.


Ku sentuh ponselku, kumatikan alarmnya.

__ADS_1


Namun terus berbunyi.


Kulihat 19 missed call dari Dion.


Kubuka pesan yang ia kirimkan.


"Lu bisa jelasin maksudnya apa?"


Ia bertanya dan mengirim kembali fotoku dan Eric di bus.


"Itu gue dikerjain anak-anak supaya duduk sama dia. Terus ketiduran. Gue juga gatau siapa yang moto"


Aku membalas pesan Dion.


"Jadi kalo gak ada yang moto , lu juga gak bakal kasih tau gue?"


Tanya Dion


"Ya enggak Yon. Gak penting juga."


Aku menjawab dengan jujur itu hal yang tidak penting.


"Gimana gak penting M, mesra kok. Earphone aja sebelah-sebelah"


Balas Dion murka. Sepertinya.


"Lu kenapa sih Yon. Udah jarang kasih kabar. Sekalinya ngubungin cuma ngomel-ngomel. On period lu?"


Aku membalasnya dengan jengkel.


"Oh iya sori gue kan bukan siapa- siapa lu."


Pesan terakhir Dion hari ini.


"Yeuuu.. teteplah sahabat gue tersayang"


Pesanku yang tak terbalas lagi

__ADS_1


__ADS_2