(Im)Perfect

(Im)Perfect
Harapan palsu


__ADS_3

Baru aja dibolehin Dion deket sama si HRD. Dia malah tukang PHP.


Aku masih mengumpat dalam hati.


Pantesan kemarin aku sapa, dia sok cool. Ternyata sekarang lagi kasih harapan ke sisca. Dasar sok ganteng.


Aku mengomel mengingat wajahnya.


Jam istirahat tiba, Aku berjalan ke luar mencari makan dan minimarket. Karena lembur, istirahat nanti sore rencananya aku mau isi perut dengan cemilan saja. Malas rasanya berjalan mencari tempat makan disini. Sudah jauh, selalu ramai pula.


Aku memutuskan untuk ke minimarket terlebih dahulu. Aku membeli sepotong roti, satu botol air mineral dan permen karet. Setelah membayar, aku bergegas lagi mencari tempat makan yang tidak terlalu ramai. Akhirnya ku temukan penjual nasi goreng bertenda. Aku duduk di kursi panjang khas penjaja makanan pinggir jalan.


Aku makan kwetiau dengan perlahan. Aku begitu menikmatinya, ini sungguh enak. Semua terasa sempurna mengisi kekosongan perutku yang dari semalam tak kuisi karena sibuk menjaga Olin, sebelum akhirnya ku dengar suara yang familiar ditelingaku


"Pak Nasi goreng seafoodnya satu ya"


Ku angkat wajahku dan benar itu suara Gerald. Aku menunduk lagi dan meneruskan makanku berharap ia tak mengenaliku.


"Mil, makan disini juga?"


Si buaya mengenali bekas mangsanya.


"Enggak, lagi berteduh"


Jawabku ketus.

__ADS_1


"Berteduh dari apa? kan gak ujan"


Tanyanya lagi.


"Berteduh dari kerasnya hantaman harapan palsu, Pak"


Kataku asal sambil buru-buru menghabiskan makanan.


Ku tinggal Gerald dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Tampaknya ia memang tak mengerti.


Para karyawan yang bekerja di shift pagi sudah mulai berkemas. Kulihat dari kejauhan Sisca berjalan dengan Gerald.


Ah bodo amat. Cari yang lain aja bener kata Dion. Kalo gue ngarep banget nanti terasa ganteng banget dia.


Aku mulai sedikit mengikhlaskannya. Jarang padahal aku mendekati laki-laki duluan. Pantang bagiku. Baru sekali ini, begini rasanya. Kapok jadinya.


**


Pagi datang kembali, kusiapkan diriku untuk bekerja dan kusiapkan mentalku juga untuk menerima kenyataan kedekatan Sisca dengan Gerald.


"Gimana semalem kencan lu sama Pak ger?"


Tanyaku pad Sisca.


"Ya gitu deh Mil, gak asik. Orangnya kaku."

__ADS_1


Jawab Sisca yang membuatku mengenang Gerald dimataku, berbeda dengan penilaian Sisca.


Aku dan Sisca bercakap banyak hal. Sisca perempuan baik yang sangat lembut. Berbeda denganku yang agak sembrono. Kulitnya sawo matang, rambut panjang yang dicurly pada bagian bawahnya dibiarkan terurai, sifatnya pemalu tapi tidak berlaku jika Gerald lewat. Keanggunannya hilang seketika.


Kadang aku terpikir menjodohkannya dengan Dion. Aku mau Dion mendapatkan perempuan sebaik ini.


Tapi pasti Dion akan menolak dengan alasan "Gak masuk kriteria orangtua gue" .


Heran jaman semodern ini masih saja ada orang yang rasis.


Sisca mengajakku istirahat dan mencari makan bersama. Kami jalan bergandengan seperti dua anak kecil. Kami berpapasan dengan Gerald. Lalu Sisca menarik tangannya dan berkata


"Bareng yuk makannya."


Rasanya aku ingin pergi dari situasi ini. Kulihat wajah Gerald memerah seperti malu.


"Gapapa kan Mil bertiga?"


Tanya Sisca padaku.


"Iya gak apa. Cuma gue kaya obat nyamuk nanti. Lu makan aja berdua."


Aku mencari cara menghindari mereka.


"Ihhh gak boleh, Kan kita tadi di dalem udah ngehayal bareng makan ramen disitu."

__ADS_1


Tolak Sisca seraya menunjuk kedai ramen yang tak jauh dari tempat kami berdiri sekarang.


__ADS_2