
"Terus kamu tau darimana aku pulang?"
Tanya Dion.
"Kak Melin."
Jawabku.
"Oh ya kakak berarti tau tentang pernikahanmu?"
Tanyanya padaku.
"Tau, tapi aku sudah memintanya untuk gak kasih tau kamu supaya kamu fokus aja dengan kesembuhanmu."
Jawabku.
"M, masih mau kah kamu menikah denganku?"
Tanya Dion padaku.
"Kamu ngelamar aku? gak romantis banget sih di pinggir jalan gini."
Ucapku sambil tertawa.
Dion membelokkan mobil ke salah satu mall. Ia berniat membeli gaun untuk pernikahanku.
"Gak Yon, gaun dan bajumu masih ada ku simpan di lemari."
ucapku.
Lalu Dion memintaku memilih satu cincin yang untuk pernikahan kami. Dan aku memilihnya dengan senang hati.
Kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumahku. Edward sudah tertidur pulas dipangkuanku.
"Mil, tapi apa keluargamu masih mau nerima aku?"
Tanya Dion lirih.
"Kenapa enggak, mereka tau kok alesan kamu pergi. Tapi besok jangan gitu lagi."
Ancamku.
Dion membuka pintu mobilku dan mengambil Edward kepelukannya. Ia masuk kedalam kamar Edward dan membaringkannya.
"M, tadi ku lihat foto-foto kalian sudah gak ada."
Ucapnya memperhatikan dinding rumah kami.
"Iya, Gerald bawa semuanya. Dia bilang dia yang akan simpan".
Jawabku.
"Gerald masih begitu mencintaimu, harusnya kamu kasih dia kesempatan."
Tuturnya menasehatiku.
"Aku pernah nunggu dia di tiga tahun pertama tapi dia melewatkan itu, lalu dia muncul saat hati aku udah milih kamu. Terus salah aku gitu?"
Aku bertanya dengan kesal.
"Iya Emily gak pernah salah."
Jawabnya sambil berdiri memelukku.
"Aku rindu kamu, Dion."
Ucapku sambil membalas pelukannya.
"Aku lebih merindukanmu, bahkan aku kira sudah kehilangan kamu."
Ucapnya sambil mencium bibirku dan kubalas sebagai tanda kerinduan yang teramat.
Hari yang ditunggu tiba, tepat diulang tahun ke empat Edward, aku menikah dengan Dion dalam prosesi yang sakral.
__ADS_1
Kami mengadakan dinner wedding party seperti yang aku impikan.
Beberapa keluarga dan teman dekat datang, begitu juga dengan Gerald.
"Please don't make mistake like i did."
Pesan Gerald pada Dion.
"As we know, i almost did."
Dion menjawab Gerald. Mereka terlihat kembar dan akrab.
Kami berbagi kebahagiaan, ku lemparkan buket bunga dan Gerald yang menangkapnya.
"Sama siapa?"
Tanya kami serempak.
"Belum tahu".
Ia terlihat malu-malu menjawabnya.
Selesai acara, kami berkemas pindah dari rumah pemberian Gerald, untuk saat ini rumah itu akan kami sewakan dan uangnya kugunakan untuk keperluan Edward.
Dion memberikan kami hunian baru yang cukup megah, ia memberikan Edward kamar dengan pintunya sendiri.
"Biar Edward gak liat kalo kita lagi ehem."
Ucapnya memberi penjelasan.
"Dasar kamu."
Jawabku sambil memeluk tubuhnya dari samping.
"Oh sekarang aja."
Ucapnya sambil menggendongku.
"Dion, kaki mu."
"Udah kuat, M."
Katanya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Kami masuk ke kamar dan melakukan kegiatan yang cukup menguras emosi dan tenaga.
"Aku capek."
Ucapku menyudahi.
"Haha, lemah kamu M."
Katanya meledek.
"Terserah."
Jawabku pasrah.
"Makasih sahabatku, idolaku, istriku."
Ucap Dion mencium dahiku.
"Hahaha iya Dionku sayang."
Ucapku membalas.
Semenjak hari itu, tiap malam Dion tak memberi ampun padaku. Ia tak sabar memberikan adik baru untuk Ed.
Sudah tiga bulan kami menikah, hari ini ulang tahunku yang ke 26 dan aku sudah menjadi nyonya Dion.
"Sayang, aku video call Gerald ya mau ucapin selamat."
Aku meminta izin pada Dion suamiku.
__ADS_1
Gerald menerima panggilan tatap muka dariku.
"Happy besdey Papa Gerad."
Ucap Edward pada papanya.
"Happy birthday kak."
Ucapku juga.
"Makasih Edward, happy birthday juga Mil."
Jawab Gerald.
"Happy birthday bro."
Dion nimbrung di obrolan kami.
"Thank you."
Jawab Gerald yang kemudian di susul wajah perempuan bule di belakangnya.
"Siapa tuh? hahaha ketauan deh."
Aku meledek Gerald.
"Ehmm.. teman."
Gerald menggaruk garuk kepalanya.
"Honey, what are you doing?"
Tanya wanita dibelakang Gerald.
"Oh mama baru Ed."
Ucapku makin meledeknya.
"Hehe doain ya."
Minta Gerald pada kami.
Kami pun mematikan sambungan telepon setelah tiga puluh menit bertukar kabar dan berkenalan dengan Precilla kekasih baru Gerald.
"Ni hadiah dariku dan Edward".
Dion memberikan sekotak hadiah yang setelah kubuka berisi tiket berlibur.
"Kok ini?"
Tanyaku bingung.
"Ya kan kita belum bulan madu, M."
Jawab Dion.
"Hmm, baiklah. Aku juga punya hadiah untuk kalian."
Ucapku yang membuat Dion dan Ed saling tatap.
Kuberikan satu buah stik alat penguji kehamilan yang tergambar dua buah garis berwarna merah.
"Thanks God."
Dion mengangkatku dan berteriak.
"Turunin ih."
Pintaku.
"Ed kamu mau punya adek."
Kata Dion sambil menciumi Edward.
__ADS_1
Edward pun tak kalah senang, ia melompat-lompat merayakan kehamilanku.