(Im)Perfect

(Im)Perfect
Hari Kelima (Kedekatan Edward)


__ADS_3

"Dion, Ed mana?"


Tanyaku panik melihat Edward tidak ada di sampingku ketika aku bangun.


"Loh gimana sih M? kan tidurnya sama kamu."


Tanya Dion sambil mengucek mata kemudian bangun dari posisi tidurnya.


"Gak tau, aku cari di kamar Mba Susan gak ada juga."


Aku panik dan mulai menangis karena ini masih pukul lima pagi.


"Mi, mi.."


Dion mengetuk kamar maminya yang tertutup tapi tak ada jawaban.


"Bisa ngintip dikit gak? Soalnya Ed kan sering main disini."


Pintaku pada Dion lalu Dion menurutinya.


"Hehe, ada tuh M."


Aku melihat Ed sedang tidur berpelukan dengan mami Dion.


"Kok bisa disitu ya tuh anak?"


Tanyaku bingung.


"Tadi subuh dia nangis Em kedengeran sampe kamar kami, terus mami bangunin papi, akhirnya kami berdua ngecek kamu pules sedangkan Edward kebangun. Mami gendong trus ajak tidur lagi."


Jawab papi yang baru datang dari toilet.


"Oh gitu, maaf ya pak, jadi ganggu istirahat."


Ucapku tak enak hati.


"Loh gak apa. Udah lama dirumah ini gak ada suara anak kecil. Gery kan udah gede juga. Anaknya Melin belum pernah kesini."


Jawab papi sedih.


"Ya udah papi tidur lagi."


Dion memberi saran dan diikuti.


"Kamu mau tidur lagi?"

__ADS_1


Tanya Dion padaku.


"Enggak, aku nanti bantu Bu Sri aja."


Jawabku.


"Gak usah M, kamu istirahat aja."


Perintah Dion padaku.


Dion duduk di sofa ruang tamunya, lalu menarik tubuhku. Aku jatuh dipangkuannya. Ia memelukku erat sambil menyenderkan kepalanya di punggungku.


"Kamu kenapa? kalo masih ngantuk tidur aja."


Tanyaku padanya.


"Beberapa hari ini aku kepikiran kalau Gerald pulang, hubungan kita gimana?"


Tanyanya lemah.


"Dion, Edward pasti milih kamu."


Ucapku bingung memberi jawaban yang tepat.


"Ini bukan cuma soal Edward, tapi hati kamu M. kamu belum mantap."


"Aku cuma pengen tau kenapa dia ninggalin kami."


Jelasku padanya.


"Terus kalau alasan dia mulia, aku harus mundur ya M?"


Tanyanya makin tak yakin denganku.


"Tidak ada alasan mulia meninggalkan keluarga bertahun-tahun tanpa kabar."


Jawabanku yang sepertinya sedikit membuat lega Dion.


"Iya aku takut sebelum mami kasih restu, dia udah kembali. Aku bisa apa?"


Dia masih berkutat dengan kelemahannya.


"Gantian, aku nunggu kamu. Kamu udah lama nunggu aku, dan aku juga cukup lama nunggu Gerald."


Jawaban terakhirku disertai ciuman mesra di bibirnya.

__ADS_1


"Hachiii hacchii"


Terdengar suara bersin Bu Sri karena sesuatu yang ia masak.


"Aku bantu Bu Sri dulu".


Ucapku sembari berjalan kearah dapur, namun Dion malah menarikku ke pintu kamarku.


"Aku bawa kamu kesini bukan mau interview jadi Asisten rumah tangga, tapi jadi istri aku".


Ucapnya keberatan jika aku memasak lagi.


Ia mengunci pintu kamarku dan meneruskan adegan di sofa tadi yang terputus akibat bersin bu Sri yang mengagetkan.


"Udah ah nikahin aku dulu."


Kataku sambil mendorong wajahnya.


"Iya."


Sambil tetap mencium bibirku dan tangannya bergerak menurunkan tali piyamaku dan membuka pengait bra ku.


Ia membuat banyak tanda merah disekeliling leherku, membuatku hari ini harus menggunakan scraf.


"Buat apa sih diginiin?"


Protesku.


"Biar Gerald liat, kamu punya aku."


Jawabnya masih mengenai Gerald.


"Gerald lagi, Gerald lagi. Dia sibuk ngumpet, Dion".


Jawabku gemas.


"Aku yakin dia muncul pas kita mau nikah."


Katanya percaya diri.


"Kok gitu?"


Tanyaku.


"Perkiraanku gak pernah meleset M"

__ADS_1


Jawabannya yang membuatku berpikir benar Dion selalu tepat. Dari mulai memutuskan Eric yang tak baik sampai jangan menikah dengan Gerald.


Ah tapi kalau aku tak menikah dengan Gerald, mana mungkin aku punya Edward.


__ADS_2