
Di dalam bus yang di sewa pihak sekolah, seluruh siswa bergembira merayakan kelulusan.
Ada yang sibuk berselfie, ada yang bergosip, ada pula yang tertidur setelah mengkonsumsi obat anti mabuk.
Aku hanya terdiam dalam keramaian ini. Rasanya ada yang kurang tanpa Dion.
Aku duduk di kursi yang menyediakan 3 seat. Aku duduk di tengah antara Olin dan Grace. Ria tentu saja duduk berdua dengan Felix.
Dikursi paling belakang terdengar suara lebih berisik daripada suara seat tengah dan depan. Kumpulan geng Eric bersatu dengan Andi, Firman, Lana. Yang jika disatukan terdengar suara riuh seperti kerumunan di pasar.
"Lix, gabung lah. Pacaran aja daritadi"
Geng berisik itu memanggil Felix untuk bergabung.
Olin dan Grace sibuk berbagi makanan. Aku ikut nyemil sambil melamun.
"Oi , Salah satu dari kalian kesinilah temenin gue".
Teriak Ria pada kami bertiga.
"Udah Pueweeee. Lagian lu pas ditinggal baru inget kita"
Tolak Grace yang di iyakan oleh Olin.
"Gue kesana deh. kasian Ria."
Aku berdiri dan pindah ke belakang. Memang posisi duduk Ria 2 kursi didepan tim rusuh tadi.
"Tapi gue dipojok ya Ri deket jendela."
Syaratku kepada Ria. Dan Ria menyetujuinya.
Dibelakang kami ada Olan dan Lana yang sedang ikut menanggapi lawakan gerombolan rusuh yang berada tepat dibelakangnya.
__ADS_1
Aku mengobrol banyak hal dengan Ria hingga akhirnya kami mengantuk. Mataku sudah mulai terpejam tapi tidak telingaku.
Gubraaakkk
Aku bangkit dan menengok ke kursi belakangku.
Olan berada di lantai bus. Semua orang ikut memperhatikan Olan, dan sepersekian detik kemudian kami tertawa bersama.
"Elu duduk hampir 2 kursi Lan. Dipojok lagi"
Keluh Olan kepada Lana sembari menepuk nepuk celananya yang kotor akibat jatuh.
"Ya maap.. kalo gue paling pinggir, orang-orang susah lewat"
Jawab Lana tak merasa bersalah malah ikut tertawa.
"Lu harusnya dikursi gue Lan. sini tukeran"
Eric berdiri mempersilahkan Lana duduk ditempatnya.
Aku melanjutkan niatku untuk tidur. Kusenderkan kepalaku pada jendela.
"Ngantuk?"
Suara dari belakangku membuat aku merinding.
Aku kenal betul ini suara Eric.
Aku tau ia akan duduk dikursi belakangku, tapi tak tau kalau ia akan menyapaku.
"Iya"
Aku menengok kebelakang menjawab Eric dari sekat antara kursi dengan jendela. Aku tersenyum dan segera membalikkan kepalaku ke posisi sebelumnya.
__ADS_1
Aku masih tak menyangka Eric menyapaku. Mungkin dia sudah tidak marah. Aku harus bersikap padanya sebagaimana aku bersikap kepada teman yang lain.Niatku.
Akhirnya kami sampai di villa yang sudah di booking pihak sekolah.
Kami bergiliran turun dan mengambil kunci kamar.
Kamar kami sudah ditentukan. Aku tentu sekamar dengan tiga rekan cantikku ini.
"Nanti pukul 19.00 kita makan malam ya disini, lalu pukul 21.00 kalian kumpul di taman ya. Kita akan mulai acara api unggun sekaligus pelepasan"
Suara Pak Indra memimpin acara dua hari ini.
Kami berempat mandi bergantian. Beruntungnya setiap kamar memiliki kamar mandi sendiri. Jadi tak perlu mengantri panjang.
Aku rebahan dikasur menunggu Ria selesai mandi karena habis ini giliranku. Ku buka ponsel berharap ada pesan dari Dion. Tapi tidak.
Ini awal Dion melupakanku.
Dion, lu sibuk ya?
Akhirnya aku mengirim pesan terlebih dahulu.
"Penerawangan gue, lu berdua tuh udah saling cinta deh. cuma aja gak ada yang sadar."
Ria semenjak tadi ternyata sudah berada disampingku membaca pesanku pada Dion.
"Penerawangan? Emang lu dukun? Enggaklah Ri, gue biasa emang sama dia. Jadi ada yang kurang aja rasanya."
Aku memaparkan apa yang kurasa.
"Kalo cuma sekedar temen gak akan begitu Mil galaunya. Lu itu suka sayang cinta.tapi lu takut ngakuin. Takut kalian saling ngejauh"
Ria berceloteh yakin dengan prediksinya.
__ADS_1
Aku meninggalkan Ria dengan pikirannya di kasur.
Aku membasuh diri di kamar mandi dan mulai bertanya pada diri sendiri apa benar yang Ria katakan?.