
"Sayang, tolong pulang sekarang."
Aku menelpon Gerald.
"Ada apa Mil? Dia disana?"
Gerald panik.
"Dia siapa? perutku sakit Kak"
Jawabku.
"Saya segera kesana."
Gerald meminta izin kepada atasannya untuk pulang ditengah jam kerjanya.
Sepertinya Gerald mengebut, hanya butuh tiga puluh menit ia sudah sampai.
"Kamu kenapa Mil?"
Gerald panik melihat air ketubanku pecah.
"Aku mau melahirkan kak"
Jawabku mengatur napas agar tak panik, seperti yang diajarkan bidan sewaktu aku mengikuti kelas ibu hamil.
"Ayo sayang"
Gerald memgendongku kedalam mobil.
"Turunin kak. Aku kan sekarang berat"
Jawabku sambil meronta minta turun.
"Gak Mil, saya takut ini yang terakhir."
Jawab Gerald mengejutkanku.
"Maksudmu aku akan mati gitu?"
Tanyaku serius
"Haha bukan itu sayang, maksud saya menggendongmu dan anak kita sekaligus mungkin ini terakhir karena sebentar lagi dia akan ku gendong sendiri."
Jawabnya.
Aku sampai di rumah sakit tempatku biasa kontrol bulanan.
__ADS_1
"Bu Emily, ini sudah pembukaan dua ya. Ibu tenang dan terus atur napas. Pak Gerald tolong support istrinya ya"
Seorang perawat berkata padaku dan Gerald
"Baik sus"
Kata Gerald.
Pukul delapan malam, Dokter dan bidan sudah berada diruanganku,
"Bu tarik napas dan buang perlahan dan teratur ya. Matanya jangan ditutup"
Nasehat dokter perempuan yang akan menangani persalinanku.
Gerald menemaniku selama aku persalinan, ia terus mendoakanku dan memberi semangat agar aku dan anak kami selamat.
Anak ini memang pintar dan baik, aku tak perlu merasakan kesakitan berlama-lama, ia membantu persalinan ini selesai dengan mudah.
"Makasih ya sayang."
Ucap Gerald sembari mencium kepalaku sewaktu bayi ini mengeluarkan tangisan pertamanya.
Aku segera dipindahkan ke ruang perawatan.
Bayi ini benar-benar sudah berada diantara kami.
"Mau kamu kasih nama siapa?"
"Yang pasti beri dia nama depan yang sama dengan saya."
Kata Gerald
"Michael? Michael Edward"
Jawabku.
"Edward?"
Tanyanya.
"Iya singkatan dari Emily dan Gerald"
Kataku menjelaskan.
"Hahaha, maksa kamu. Sini bantu letakkan Ed ditangan saya"
Kata Gerald seraya menyiapkan tangannya menerima bayi kecil kami.
__ADS_1
"Edward, bantu papa jaga ratu kita ya sayang"
Gerald berbicara pada Edward dengan penuh kasih sayang.
"Haiii cucu omaa"
Orangtua ku dan mertuaku masuk bersamaan.
"Makasih ya Emily, mami punya cucu juga."
Mertuaku datang memberi selamat dan bingkisan.
"Selamat ya Mil"
Ibuku juga memberi selamat serta menciumku.
Kami sangat bahagia dengan kelahiran Edward. Bahkan mertua dan ibuku berebut menggendongnya.
Keesokan hari, kami diperbolehkan pulang ke rumah.
"Sayang saya titip Edward jaga dan besarkan dengan baik ya. Kamu pasti bisa"
Kata Gerald kepadaku sesampainya kami di rumah.
"Iya sayang, pasti. Aku kan ibunya"
Jawabku sambil melihat malaikat kecil kami.
Sudah seminggu Edward tumbuh di keluarga yang penuh kasih sayang. Setiap pulang kerja ada saja hadiah yang Gerald belikan untuk anaknya.
Kadang sesuatu yang belum ia butuh, seperti mainan bahkan sepeda.
"Mil, saya udah buat tabungan untuk Edward."
Kata Gerald memberikan buku tabungan ke tanganku.
"Ya ampun kak, Umur Ed baru seminggu pikiranmu matang sekali"
Kataku kagum akan kematangan rencana suamiku.
"Ini juga kamu pegang, seluruh tabungan saya ada didalam. Pakai seperlunya untuk kebutuhanmu dan Ed"
Ia memberikan satu lagi buku beserta kartunya.
"Gak usah kak, Aku cukup pegang bulanan aja. Aku takut khilaf."
Kataku sambil tertawa dan segera berhenti ketika melihat muka Gerald sedang serius.
__ADS_1
"Pegang Mil, tiap bulan juga ada pemasukan dari investasi saham saya di perusahaan mami."
Kata Gerald yang membuatku menerimanya dengan penuh tanda tanya.