
"Kamu gak marah sama saya Mil?"
Tanya Gerald usai menceritakan semua.
"Enggak, memang kalo aku marah keadaan bisa balik lagi?"
Tuturku.
"Ya benar, hatimu pun tak bisa kembali lagi ke saya."
Ucapnya penuh sesal.
Gerald berpamitan setelah berbincang lama denganku.
**
Dua minggu kemudian
"Dion, hari ini kita fitting ya sehabis kamu terapi."
Ucapku pada Dion.
"Aku capek, M."
Jawabnya cuek.
"Loh kamu niat gak sih nikah sama aku?"
Aku mulai terbawa kesal melihat tingkah Dion yang makin menjadi.
"Kamu bilang kan postur tubuhku dan Gerald sama. Minta tolong dia untuk fitting baju pengantinku."
Jawabnya sambil terus melakukan terapi.
"Dion yang bener aja masa sama Gerald. Yang mau nikah kan kita."
Protesku.
"Kan cuma fitting M!! Jangan Manja!"
Bentaknya keras.
Aku berjalan keluar ruangan dan pergi mencari taksi, namun sebuah mobil hitam membunyikan klakson memanggilku.
"Mil, mau kemana?"
Gerald menurunkan kaca mobil.
"Mau Fitting gaun kak."
__ADS_1
Jawabku.
"Ayo saya antar."
Ia mempersilahkan diri dan aku bergegas masuk.
Sesampainya di butik tempatku dan Dion memesan baju pengantin, Gerald ikut turun bersamaku.
"Mba mil sini."
Panggil Om Irwan desainer baju pengantin kami.
"Mas Dion mana?"
Tanyanya.
"Dion sakit. Tapi udah pas kok ukurannya dengan yang terakhir kita kesini".
Ucapku sambil menunjuk Tuxedo milik Dion.
"Ini mas ini aja kayanya posturnya sama kaya Mas Dion."
Om Irwan menunjuk Gerald untuk mencoba pakaian milik Dion.
Gerald pun akhirnya mencoba satu set baju pernikahan Dion. Ia tampak gagah seperti saat kami menikah dulu.
Om Irwan memanggilku.
Aku mengenakan dress sederhana berwarna putih dengan brukat berwarna gold dan high heels silver.
Sebelum keluar dari fitting room aku membuka pesan dari Dion.
M, Take a Picture Please.
Dan kubalas oke.
Aku keluar dan menemui Om Irwan yang sedang berbicara dengan Gerald.
"Kamu cantik banget."
Ucap Gerald terpukau.
"Iya cantik banget Mba Mil. Pinter mas Dion milihin buat kamu."
Ucap Om Irwan membuatku tersipu.
"Om, Dion minta dikirimin foto, boleh tolong fotoin kami gak?"
Mintaku.
__ADS_1
"Oh dengan senang hati."
Jawab Om Irwan dan mengambil beberapa foto kami.
Aku mengirimnya segera ke ponsel Dion.
"Kamu emang selalu sempurna, M. Maafin aku yang gak sempurna."
Dion membalas pesanku.
"Kamu yang selalu sempurnain aku. Makasih."
Balasku dan tidak dibalas lagi olehnya.
Selesai mencoba gaun, kami lanjut ke rumah orangtuaku bertemu Edward.
"Ma, Papa yon mana?"
Tanya Edward yang kehilangan.
"Ada, tapi masih sakit. Ed doain ya."
Ucapku memberi pengertian.
"Ed, ni papa bawa es krim vanilla."
Gerald menyerahkan es krim yang tadi kami beli saat perjalanan kesini.
"Thank you papa Gerad"
Ucap Edward.
"Sama-sama."
Balas Gerald.
"Thanks ya Mil, Edward udah mulai mau sama saya."
Gerald berterimakasih karena telah memberikan jurus mendekati Edward.
"iya sama-sama."
Ucapku sembari tersenyum.
Edward mengajak Gerald bermain bersama. Ia membawa sekotak mainannya ke hadapan Gerald. Dan Gerald menyambutnya dengan sukacita.
Dulu aku memang menginginkan pemandangan ini yang terjadi. Tapi semenjak perhatian Dion hilang, aku beralih menginginkan yang biasa terjadi antara aku, Edward, dan Dion.
Memang hati orang tak bisa ditebak kapan akan berubahnya, namun aku tak pernah menyesal dengan kegagalanku.
__ADS_1