
Aku akan pulang dengan Gerald untuk mengemasi bajuku. Tapi sebelum itu, kutemui Sisca terlebih dulu di kosannya untuk memastikan keadaannya.
"Sis, Gimana? enakkan?"
Tanyaku pada Sisca
"Iya Mil gue mau cepet sembuh aja. Gue gak enak sama Richard, tiap malem dia numpang tidur di pos depan sama pak udin yang jagain kosan"
Tutur Sisca membuatku tertawa.
"Ya gak apa Mil, namanya juga sayang. Mungkin dia takut lu nekat lagi"
Ungkapku melihat sisi baik seseorang.
"Iya gue bakal nekat , kalo nanti gue ditolak lagi sama Pak Gerald"
Katanya masih terobsesi.
"Lu mau coba lagi?"
Tanyaku terkejut. Ku kira ia akan luluh dengan Richard.
"Iya Mil, itu kemarin anceman buat Gerald biar gak nolak gue lagi."
Kata Sisca enteng.
"Apaan sih sis? Bukan gitu cara ambil hati orang. Cukup jadi diri lu sendiri dan kasih yang terbaik"
Aku menasehati Sisca.
"Pak Gerald gak bisa digituin kayanya."
Jawab Sisca.
Tak lama, aku pamit dengannya, aku rasa berlama-lama berbicara dengan Sisca membuatku ikutan sinting.
Didepan kulihat ada Richard sedang mengobrol dengan Gerald. Wajah Richard terlihat lesu dan kurang istirahat. Sudah sebaik itu sikap Richard tapi Sisca masih mengacuhkannya. Aku sungguh tidak tega.
Tak lama berselang, aku dan Gerald pun akhirnya berpamitan dengan Richard.
Di perjalanan menuju rumahku, aku menceritakan kembali obrolan ku dengan Sisca kepada Gerald.
__ADS_1
"Saya sudah tau Mil, saya minta gak usah bahas Sisca dulu"
Jawab Gerald dengan serius.
Entah apa yang habis ia obrolkan dengan Richard.
"Iya"
Aku diam dan patuh.
Aku segera mengemasi barang-barang keperluanku kedalam sebuah koper. Gerald membantu membawa koperku ke dalam mobilnya.
Lalu kami bergegas pulang ke rumah Gerald.
Di perjalanan, aku sempat mengingatkannya untuk mampir membeli makanan cepat saji. Tapi ia malah memberhentikan mobilnya di pasar.
"Mil, tolong buatkan saya nasi goreng seafood kaya pagi tadi ya"
Pintanya.
"Hah?"
"Iya saya mau makan malam hari ini dan sarapan besok menunya itu"
Mintanya lagi.
"Yang bener kak?"
Tanyaku bingung.
"Iya , sekarang beli bahan yang kamu perlu ya Mil, soalnya di tempat saya gak ada bumbu apapun kecuali gula dan garam"
Jelasnya padaku.
Aku membeli beberapa bahan dasar seperti cabai, bawang, dan bumbu dapur. Tidak lupa juga cumi dan udang.
Di tukang cabai saat aku memilih bumbu yang harus kubeli, Gerald mengambil banyak tomat.
"Ini gak perlu Kak"
Kataku sembari meletakkan tomat ketempat asalnya.
__ADS_1
"Ini perlu Mily"
Sahutnya lagi dan meletakkan tomat kembali ke samping belanjaan yang sudah ku pilih.
Aku mengalah padanya, malu juga bertengkar hanya karena tomat.
Selesai membeli semua, kami kembali ke dalam mobil.
Baru lima belas menit, ternyata kami sudah sampai di rumah Gerald.
Rumah minimalis yang lumayan tertata rapi dan bersih untuk ditempati dua laki-laki.
"Mil, ini kamar saya. Saya masukkin barang-barang kamu kesini ya."
Kata Gerald sambil membawakan koper dan tas ku.
Aku mengikutinya masuk, ruangan ini terlihat lebih rapi dan sempurna daripada ruangan yang lain.
"Kak aku masak dulu ya."
Aku permisi.
"Iya Mil. Kalo perlu apa-apa jangan sungkan"
Jawabnya.
Aku mulai memasak nasi terlebih dahulu di rice cooker.
Kemudian, aku tinggal untuk menyapu dan mengepel lantai yang sepertinya belum dibersihkan.
Setelah itu aku kembali ke dapur.
"Ngapain kak?"
Tanyaku pada Gerald yang sedang menghaluskan tomat.
"Buat Jus."
Jawabnya singkat.
Aku tidak terlalu memperhatikan, aku fokus membuat nasi goreng seafood pesanannya.
__ADS_1