
Karena Kami sudah memasuki semester dua, setiap hari kami mendapat pelajaran tambahan untuk menghadapi ujian akhir nanti. Setiap hari juga aku diantar Dion pulang. Karena Mel sudah pulang sejak 3 jam sebelumnya.
Hari ini tidak ada kelas tambahan karena guru-guru menghadiri rapat di yayasan. Kami bisa pulang cepat. Tapi aku, Olin, Grace dan Ria bersepakat untuk belajar di rumah Grace.
"Dion, lu pulang sama Mel aja ya. gue mau belajar kelompok di rumah Grace sama yang lain. Lagian kan udah lama lu gak pulang bareng Mel"
Kataku memberitahu Dion.
"Iya. Lu hati-hati. jangan kemaleman"
Jawab Dion berpesan seperti bapak pada anaknya.
Sampai di rumah Grace kami memasak mie instan, setelah kenyang, kami masuk ke kamar Grace. Bukan untuk belajar tapi tidur siang. Sepertinya kami semua kelelahan setiap hari tak diberi ampun oleh kumpulan rumus dan angka.
Pukul 17.00 kami terbangun. Kami mandi satu persatu dan berbincang mengenai banyak hal. Dari mulai cerita tentang Felix yang berusaha membuat Lala mengerti namun hingga saat ini Lala masih mencoba merebut perhatiannya, Gorila rabies yang kasar dan tak beradab, Christo yang tak peka akan perasaan Grace, dan aku tak menceritakan siapapun. Aku rasa tak ada yang berkesan.
Grace mengambil piano dan memainkannya, Aku mengambil gitar yang tergantung di tembok kamar Grace dan mulai memetik senarnya bersamaan, serta Olin menabuh pinggiran kasur untuk menambah suara alat musik seadanya. Lalu Ria mulai bernyanyi.
Kami semua memang menyukai musik. Kami semua bisa bernyanyi indah. Tapi setiap ada acara kami pasti memilih Ria sebagai vokalis utamanya. Karena hanya dia yang memiliki percaya diri tinggi.
"Take me to your arms, where i heart belong together..
I will follow you, you're the reason that i breathe.."
Sepenggal lirik dari lantunan lagu yang dinyanyikan Ria.
Waktu menunjukkan pukul 19.00 tak terasa kami sudah menghilangkan penat selama 2 jam. Besok kami akan berkutat lagi dengan pelajaran sepuluh jam lamanya.
Pukul 22.00 setelah aku mandi dan membantu adikku menyelesaikan tugasnya, Aku menerima panggilan telepon dari Dion.
"M, lulus nanti lu ada rencana apa?"
tanya Dion mengawali obrolan.
"Gue mau kerja dulu terus kuliah ambil kelas karyawan."
Jawabku matang.
"Gue bakal balik ke kota gue,M. Gue bakal urus pabrik dan toko sekalian kuliah disana."
Dion mempunyai rencana yang lebih matang.
"Hmmm kok gue sedih ya Yon ngebayanginnya?"
__ADS_1
Aku merasakan hal yang belum terjadi. Aku kehilangannya sebelum terjadi.
"Iya M. Gue juga mikirin lu kalo gak ada gue gimana? lu kan sembrono."
Dion mencemaskanku.
"Lu kuliah disini aja lah Yon. Lagian gimana hubungan lu sama Mel?"
Aku meminta Dion mempertimbangkan rencananya.
"Gak bisa M, Papa gue udah tua. Anak laki-lakinya yang paling besar cuma gue. Kakak gue kan cewek. Jadi cuma gue saat ini yang harus lanjutin usahanya. Nanti mungkin kalo Gery udah bisa gantiin posisi gue, gue bisa balik kesini."
Jawaban rinci Dion membuatku lemas.
"Gery aja masih SMP. Masih lama dong baliknya?"
Aku protes.
"Iya gitu deh. oia gue mau tanya sesuatu sama lu. Tapi lu harus jawab jujur"
Minta Dion padaku.
"Iya. Apa?"
"Gimana perasaan lu ke gue?"
Dion bertanya hal ini lagi.
"Sayang Yon. kenapa sih?"
Jujur aku risih ditanya hal ini terus.
"Sayang sebagai apa?"
Tanyanya lagi.
"Sahabat"
Jawabku jujur.
"Lebih dari itu, ada?"
Pertanyaan Dion makin aneh.
__ADS_1
"Maksudnya gimana sih Yon?"
Aku heran bisa-bisanya Dion bertanya seperti itu padaku.
Apa sikapku padanya berlebihan? ah aku rasa tidak.
Justru dia yang berlebihan. Harusnya aku dong yang baper? Tanyaku pada diri sendiri.. selagi menunggu jawaban Dion.
"Maksudnya ada rasa suka gak?"
Dion menjelaskan.
"Oalah iyalah Dion. Kalo gak suka, gue gak mau temenan sama lu."
Jawabku yakin.
"Bukan, M.. Perasaan lebih dari sahabat."
Dion ragu-ragu mengatakannya.
"Kagum Yon. Gue kagum sama tanggungjawab lu ke keluarga lu, Gue kagum lu pintar tapi rendah hati. Kagum lah pokoknya. Emang lu ke gue gimana? haha apa yang dikagumin ya dari gue?"
Aku menertawakan diriku sendiri.
"Sayang M. Sayang banget. Tapi orangtua gue nuntut gue harus punya pasangan yang satu suku sama gue. Lu tau kan gue sayang banget sama orangtua gue? apapun akan gue lakuin untuk bahagiain mereka."
Dion menjawab dengan suara penuh penyesalan.
"Iya kan lu udah punya Mel. Mel sama kaya lu..masuk kriteria orangtua lu. Apaan yang buat suara lu parau gitu sih?"
Aku menanggapi kalimat Dion dengan tidak paham.
"Tapi gue bakal cari istri yang kaya lu, M. Yang ngerti semua mau gue. Yang bener-bener ngerti gue kaya elu."
Perkataan Dion yang membuatku berpikir keras.
Apakah Dion menyukaiku?
Apakah Dion memiliki perasaan lebih terhadapku?
Atau Dion hanya membuatku Ge-eR?
Malam ini aku tak bisa tidur memikirkan pengakuannya.
__ADS_1