(Im)Perfect

(Im)Perfect
Menyerah


__ADS_3

Tiga bulan semenjak ulang tahun Edward, Dion semakin akrab dengannya. Aku bahkan tak bisa membiarkan mereka terpisah sementara. Edward akan setia menunggu Dion pulang kerja dan menidurkannya. Lalu Dion pulang setelahnya.


Aku semakin membaik dengan adanya Dion.


Karena dengan Dion, Edward selalu bahagia. Aku pun bahagia jika melihat Edward tak pernah kekurangan kasih sayang.


"Ed udah tidur Yon?"


Tanyaku pada Dion yang menghampiriku duduk diatas kasur membaca novel.


"Udah. Gue pamit pulang ya"


Ucap Dion berpamitan.


"Iya sorry ya kemaleman banget Edward tidurnya."


Kataku tak enak hati karena Dion begitu mengikuti kemauan Edward.


Aku mengantarkan Dion sampai pintu. Dion begitu lama menjalankan mobilnya, dia terlihat sibuk melakukan sesuatu. Lalu dia memanggilku dari kaca mobilnya.


"Happy birthday M. Sudah 23th, semoga makin mudah segala urusan lu ya."


Dion menyalakan lilin diatas sekotak kue yang sudah ia siapkan.


Aku hendak meniup lilinnya ketika ia berkata


"Make a wish dulu dong M."

__ADS_1


Lalu kemudian aku mengucap doa yang sama dengan doa yang kuucap tiap malam di dalam hati.


"Persatukan kami dengan Gerald. Amin"


Lalu ku tiup lilin dan berterimakasih pada Dion sudah mengingat ulang tahun ku.


Dion kembali pada tujuannya untuk pulang.


Sedangkan aku duduk di teras rumah menghadap ke langit.


Aku mengingat hari ini adalah ulang tahun Gerald juga. Segera aku berinisiatif menyalakan lilin kembali dan meniupnya untuk Gerald.


Kali ini aku mengucapkan doa cukup keras agar sampai ke telinga sang pemberi kehidupan.


"Lilin Gerald, Aku mewakilkan Gerald membuat permohonan ya Tuhan.. Pertemukan aku dengan keluargaku. Amin".


Aku masuk ke kamar dan segera tidur. Aku bermimpi seperti melihat Gerald lagi dengan nyata. Aku merasa memeluknya. Ia tidur di sampingku. Aku memeluknya erat sekali.


Lalu kudapati Edward berteriak dari kamarnya.


Sontak aku berlari dan Edward berkata


"Papa mah"


"Papa Dion sudah pulang."


Jawabku menenangkannya.

__ADS_1


"Papa Rad, Papa Rad cium Ed"


Aku dan mba Susan terkejut mendengarnya.


"Papa Gerald maksudnya?"


Tanya mba Susan. Dan Edward mengangguk ketakutan.


Aku langsung berlari keluar, aku yakin tadi aku pun bukan bermimpi.


Aku melihat pintu terbuka, aku memang lupa menguncinya tadi, tapi aku yakin sudah ku tutup. Ada satu hal yang membuatku sangat yakin itu benar Gerald. Bau parfumnya di ruangan ini begitu kuat.


"Kak, aku tau kamu masih ada diantara kami. Pulang lah, apapun yang terjadi, kami menerimamu. Aku masih mencintaimu."


Aku berteriak di depan pintu berharap Gerald mendengarkanku.


Aku kembali ke kamar Edward dan melihatnya yang sudah tidur di pelukan mba Susan.


"Ini bukan baru sekali bu. Pernah waktu sore-sore saya ajak main di depan rumah, Edward sebut papa Gerald. Lalu saya ajak pulang dan menunjuk foto Pak Gerald. Edward mengangguk dan menunjuk keluar lagi."


Kata mba Susan yang membuatku teringat kejadian waktu di taman.


"Ya sudah mba kita tidur lagi."


Aku memintanya untuk istirahat.


Aku mulai mencoba membuka semua folder di laptop Gerald. Setiap malam ia selalu mengerjakan sesuatu disini, aku harap dapat menemukan titik terang mengenai Gerald.

__ADS_1


Tapi sampai pagi pun tak ku temukan. Sia-sia saja ternyata. Aku tak melanjutkan pencarianku, aku mulai lelah.


__ADS_2