(Im)Perfect

(Im)Perfect
Eric vs Dion part 2


__ADS_3

Eric memegang dadaku dengan ganas.


"Berhenti Ric, keterlaluan kamu".


Ucapku pelan takut terdengar mba susan dan tetangga, aku akan malu karena saat ini aku seperti tak bersuami, aku tak mau dianggap jalang.


Eric makin menjadi, ia merobek bagian atas bajuku yang berkancing sampai bra ku terlihat.


Aku langsung menarik bajuku yang terpisah antara sisi kiri dan kanan lalu memegangnya dengan tanganku.


Bruaakkk


Eric terhempas jatuh setelah mendapatkan pukulan telak dari belakang.


"Lu lagi, dulu gue putus sama dia juga gara-gara elu. Sebenernya mau lu apa? Lu suka sama Emily? bilang yang jantan."


Eric mengoceh dan menantang Dion.


"Iya gue suka. Kenapa?"


Jawab Dion yang membuatku terkejut.


"Munafik lu, dari dulu lu pacaran sama siapa aja, buat kedok lu kan?"


Eric mencecar banyak pertanyaan kepada Dion.


"Iya. Semua gue lakuin buat Emily. Puas lu denger jawaban gue?"


Tanya Dion yang ikut marah.


"Seneng gue, bentar lagi Emily bakal sadar dan jijik punya sahabat munafik kaya elo"


Jawab Eric sambil berjalan keluar dari pintu rumah.


Aku masih ketakutan dengan perlakuan Eric sekaligus terkejut mendengar semua pengakuan Dion sambil memegangi kemejaku yang terbelah dua pada bagian depan.


"M, lu gak kenapa-kenapa? "

__ADS_1


Dion mendekapku.


"Thanks Yon. Gue cuma takut."


Aku memeluknya menumpahkan ketakutanku tadi.


Lalu aku mendorongnya saat ingat pengakuannya tadi.


"Lu boong kan tadi?"


Tanyaku padanya.


"Ganti baju dulu M."


Perintah Dion.


"Gue mau denger dulu, lu tadi bohong kan?"


Tanyaku menekankan.


"Gue gak bohong."


Lalu aku datang lagi menghampiri Dion di ruang tamu dan duduk dihadapannya.


"Dari kapan?"


Tanyaku dengan tatapan kosong.


"Dari pertama kali lu mau kasih gue contekan".


Jawab Dion.


"Jadi selama ini lu bohongin gue?"


Tanyaku sedih, Dion mengangguk.


"Buat apa Yon?"

__ADS_1


Tanyaku tak berhenti.


"Buat bawa lu ke depan orangtua gue Mil. Gue gak mau lu bernasib sama kaya kakak gue".


Dion melemah.


"Maksudnya?"


Aku bertanya lagi.


"Kakak gue nikah bukan dengan orang yang satu suku sama kami. Makanya dia dibuang kesini. Mereka susah dan berdiri sendiri tanpa bantuan dari keluarga gue."


Jawab Dion yang membuatku tak puas.


"Terus?"


Aku minta Dion tak berhenti bercerita.


"Istri gue sekarang adalah orang yang udah dijodohkan sama gue sejak SMA. untuk menghindari perjodohan itu, gue pacaran sama Melisa supaya orangtua gue gak memaksa kehendak mereka lagi".


Dion mengambil napas untuk melanjutkan ceritanya.


"Lalu gue mulai kerja di tempat lain, itu karena gue sibuk cari tabungan untuk kita setelah nikah. Niat gue tadinya gitu M. Karena udah pasti orangtua gue bakal cabut semua fasilitas dan tabungan gue kaya yang kakak gue alamin. Itulah sebabnya waktu itu gue minta lu yang kelola uang hasil kerja gue sebagai karyawan di tempat lain."


Dion menjeda ceritanya .


"Karena lu udah nikah dan gue gak jadi bawa calon ke hadapan orangtua gue, dengan terpaksa gue terima perjodohan ini."


Dion mengakhiri ceritanya.


"Terus sekarang lu cinta kan?"


Tanyaku dan Dion menggeleng.


"Teruuusssss?"


Aku bertanya padanya minta penjelasan.

__ADS_1


"Gue masih cinta sama lu M"


Jawab Dion yang membuatku mengambil napas panjang dan menghembuskannya dengan kuat.


__ADS_2