(Im)Perfect

(Im)Perfect
Kedekatan Ria


__ADS_3

Aku sudah masuk sekolah. Dion menjemput Mel setelah menurunkanku di gerbang. Tadi pagi jam 05.00 dia menelponku menanyakan apakah aku sudah bisa hadir sekolah atau masih butuh istirahat. Ku jawab bahwa aku akan pergi kesekolah. Karena rasanya suntuk di rumah selama seharian. Aku belum sembuh benar, Dion memiliki perasaan yang kuat terhadapku. Dia seperti cenayang.


Dia sudah berada di depan gang rumahku tanpa memberitahu terlebih dahulu.


"Lu bisa naik sendiri? Atau gue bantu?"


Tanya Dion memastikan aku yang masih sempoyongan.


"Bisa. Gue sakit demam bukan osteoporosis".


Aku ketus karena Dion memperlakukanku seperti nenek-nenek.


"iya iya terserah. Yang penting lu aman sama gue."


Kata Dion merasa percaya diri bersamanya aku aman.


Pelajaran sudah dimulai. Dion terlambat 10 menit. Aku yakin macet sekali. Tadi saja sepagi itu kami sudah terjebak macet. Tapi ya mau dibilang apalagi? Itu pilihan Dion. Kalau dibilangin selalu lebih ngeyel. Aku tak tega melihatnya menjemputku dan Mel tiap hari. Aku sudah berusaha mencegahnya menjemputku tapi dia keras kepala.


Bu Jessie mendadak ada pertemuan antar wali kelas dengan kepala sekolah. Kami disuruh mengumpulkan latihan yang tadi sudah bu Jes berikan dalam 2 jam.


Kami mengerjakan dengan tenang. Tiba-tiba Dion mencolek tanganku dengan pulpen.


Aku yang masih lemas menjawab dengan sekedarnya


"Ha?" Tanyaku sambil bertopang dagu dan melirik ke arahnya.

__ADS_1


"Lu jangan sakit lagi ya" bisiknya pelan.


"He'eh" Aku tersenyum dan mengangguk.


Kalau aku ada tenaga sudah kujawabi Dion. Memang aku robot?. Tapi tak bisa, aku terlalu lemas.


Menjelang siang suhu badanku tinggi lagi. Benar kata ibuku sebaiknya jangan sekolah. Maaf ya bu, aku nyesel.


Pak Rendi guru olahraga menyuruh Ria membawaku ke UKS. Aku malu sebenarnya terlihat lemah seperti ini.


Di ruang UKS Ria menungguiku dengan setia. Sesekali kubuka mata ada Felix sepertinya sedang bercanda dengannya. Ah mungkin aku halusinasi karena demamku tinggi.


"Ri kamu belum makan. Nanti ikutan sakit loh. Aku beliin ya"


Sungguh itu suara Felix berbicara pada Ria.


Aku melihat Felix menyuapi Ria sepotong roti.


Aku paksakan untuk membuka mata, aku yakin masih ada tenaga tersisa untuk meledek mereka.


"Eh, gue sakit bukan mati"


Kata-kataku ternyata membuat mereka terkejut.


"Mil lu udah mendingan?"

__ADS_1


tanya Ria seraya memelukku.


"Iya, padahal gue yang lagi sakit. Kok elu yang disuapin?"


mereka sungguh terkejut, tak sadar daritadi aku memperhatikan tingkah mereka.


"Lu mau makan apa? gue pesenin ya"


Segera Felix mengalihkan pembicaraan.


Dion datang memegang dahiku dengan punggung tangannya.


"Berobat yuk. gue anter" ajakan Dion kepadaku.


"Gak ah gue udah mendingan" Jawabku masih fokus melihat wajah Ria dan Felix bergantian.


Eric pun masuk ruang UKS. Dilihatnya aku duduk di kasur, ia pun langsung keluar lagi.


Ria, Felix, Dion melihat kearahku. Aku mengangkat kedua bahu sambil berkata


"mungkin dia kecewa gue gak meninggal"


"Dia masih sayang sama lu Mil. cuma aja gengsi"


Kata Ria yang membuatku takut melihat mata Dion.

__ADS_1


Huh untuk saat ini perkataan seperti itu tak mempan untukku. Aku sedang tidak butuh ikatan. Aku lelah menghadapi tingkah aneh orang pacaran.


Dengan Dion saja rasanya kantung kasih sayangku tercukupi. Dia Dion sahabatku.


__ADS_2