(Im)Perfect

(Im)Perfect
Ancaman kedua Sisca


__ADS_3

Aku sudah masuk kerja lagi di awal tahun. Aku sampai lebih pagi dari biasanya.


"Pagi Mil, gimana liburannya?"


Bu Lea menyapaku yang sedang membersihkan rak dari debu.


"Pagi bu, Liburannya rruuaaarr biasa bu. Ibu gimana?"


Aku menjawab sapaannya.


"Emang kamu liburan kemana? Saya liburan cuma di rumah aja Mil. Honeymoon di rumah"


Katanya sambil cekikikan.


"Saya liburan di kepulauan seribu, bu."


Jawabku masih sambil menyibukkan diri membersihkan semua debu yang menempel.


"Wait,, saya sepertinya ingat sesuatu. Bukannya Gerald juga berlibur kesana ya?"


Katanya sambil menaikkan kedua bola matanya tanda berpikir.


"hah? masa bu?"


Tanyaku pura-pura tak tahu.


"Ahhh kamu jangan pura-pura. Kamu ngabisin libur sama Gerald kan?"


Tanyanya sembari menggelitik perutku.


Aku membalas menggelitikinya. Kami sudah seperti saudara. Aku mengganggapnya seorang kakak.


"Udah, udah ampun Mil geli"


Mintanya menyudahi permainan ini.


"Hahahaa"


Kami tertawa berdua.


"Eh, tapi kamu gak nakal kan Mil?"


Tanyanya padaku menyelidik. Aku tau ia begitu memperhatikanku.


"Aman bu."

__ADS_1


Kataku membulatkan telunjuk dan jempol kananku.


Kulihat Gerald memperhatikan kami dari jauh dan ikut tersenyum.


"Mil"


Sisca yang baru datang memanggilku.


Tatapan matanya kosong.


"Hay Sis udah sehat?"


Tanyaku.


"Udah. Pak Gerald udah dateng belum Mil? Aku mau ke ruangannya"


Katanya membuatku tersentak.


"Mau ngapain pagi-pagi kesana?"


Tanyaku.


"Mau minta jawaban lagi darinya."


Jawab Sisca seperti orang kehilangan akal.


Kataku mengingatkan.


Dia tidak menggubris ucapanku, malah berlari keruangan Gerald dan aku menyusul di belakangnya takut Sisca mengamuk lagi.


Aku melewati ruangan Richard. Ku panggil juga Richard untuk menenangkan Sisca.


Kami berdua mengikutinya dari belakang. Ku lihat Sisca sudah berada di ruangan Gerald.


Kami memutuskan hanya memperhatikannya dari luar.


Sampai tiba-tiba Sisca berdiri dan mendekat pada Gerald. Aku takut ia nekat melukai Gerald. Maka kami masuk ke dalam..


"Richard, katanya kamu cinta sama saya. Suruh Gerald terima cinta saya"


Sisca menangis meminta Richard membantunya.


"Ger, terimalah Ger. Plis."


Richard membujuk sahabatnya.

__ADS_1


"Lu ketularan gak waras Chad"


Gerald meninju meja kerjanya dengan keras.


Baru kali ini kulihat ia semarah itu.


Aku berharap Gerald tak terpancing untuk mengungkapkan hubungan kami. Karena itu sudah kami sepakati kemarin sebelum pulang berlibur.


Kami mau tetap profesional jika berada di tempat kerja.


"Kamu mau aku kaya gimana sih Ger?"


Tanya Sisca makin terobsesi.


Lalu ia tiba-tiba memeluk Gerald dan mencium bibir Gerald dengan buas. Seperti hewan liar yang kelaparan.


Aku, Richard dan Gerald tentu terkejut.


Gerald mendorong kasar tubuh Sisca.


Aku tertunduk lesu, priaku dicium wanita lain.


Rasanya aku ingin menjambak wanita ini kalau ia bukan Sisca.


Jam menunjukkan pukul 09.00 tiba waktunya toko akan buka. Aku kembali ke tempatku. kubiarkan Gerald menyelesaikan masalahnya.


Sampai istirahat tiba, Sisca tidak juga kembali kesini.


Apa yang terjadi sebenarnya.


Aku menelpon Gerald tak juga diangkat, ku telepon Richard ia mengatakan bahwa mereka saat ini berada di rooftop.


Pikiranku sudah berkecamuk dengan kemungkinan yang akan Sisca lakukan.


Betapa terkejutnya aku, Sisca berada di tepi rooftop. Dua langkah lagi ia akan terjatuh.


Aku berada di belakang Gerald dan Richard yang tak mengetahui kedatanganku.


"Ger tolonglah . Tinggal lu jawab iya, semuanya baik-baik aja"


Richard memaksa Gerald.


Sisca melangkahkan kakinya sekali lagi. Aku tau Gerald lah yang akan sangat bersalah jika Sisca terjatuh dan meninggal.


"Oke Sis, Saya terima cinta kamu."

__ADS_1


Teriak Gerald membuatku terkejut.


__ADS_2