
Setelah jerih payah kami tim paskibra selama sebulan ini latihan dari siang ke malam akhirnya tim kami membawa pulang piala juara 3.
Di depan gerbang tempat kami lomba, Eric ternyata sudah menungguku. Tapi tak seperti biasanya, ia diam sepanjang jalan pulang bahkan ketika aku menceritakan kegembiraanku, ia terlihat mengacuhkanku. Akhirnya aku memutuskan untuk diam. Aku kesal dengan sikap Eric kali ini.
"Kiri bang"
aku berhentikan lamunan kami dengan suara ku yang sungguh mengejutkan.
karena aku pun terkejut hampir terlewat jauh dari gang rumahku. Aku membayar biaya perjalananku kepada supir. Lalu supir menginjakkan gas lagi, Eric pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Aku pun menyusuri jalan rumahku sambil termenung. Rasanya ini tak adil, disaat aku segembira ini Eric malah membuatku kesal.
"ting..ting" satu pesan masuk ke ponselku. Ku harap itu dari Eric.
M tadi kudengar tim paskibra sekolah kita mendapat juara 3 ya? Congrat ya. Aku percaya pasti kamu bisa.
Ternyata itu pesan dari Dion. Padahal aku berharap itu dari Eric.
Pukul 21.00 ponselku berdering, Kulihat itu panggilan dari Dion. Disaat aku membutuhkan Eric untuk berbagi kegembiraanku, justru malah Dion yang siap untuk kubagi. Kuterima panggilan itu, dan disebrang sana terdengar suara
"M, belum tidur?"
__ADS_1
"Belum nih. Ada apa Yon?"
"Gapapa, hari ini kan kita gak ketemu. karena kamu tadi langsung ke tempat lomba. Ada cerita apa hari ini?"
"Gak ada apa-apa kok. Ya tim kami cuma menang juara 3 kaya yang lu denger tadi."
"Lu kenapa M? kenapa gak sebawel biasanya? Lu ada masalah? ceritalah sama gue"
"Gak ada Yon. Gue baik-baik aja. Udah jujur aja lu mau cerita apa?"
"Gak bisa M, ini fix lu yang harus cerita duluan."
"kan udah gue bilang, lu putusin cari yang lain aja." Jawab Dion asal setelah mendengar dan menyimpulkan semua ceritaku.
"Lu sembarangan banget kalo ngasih solusi. Kalo gue suruh lu tinggalin Celine pacar kesayangan lu itu..lu mau?"
tanyaku kesal.
"oke. Tapi lu harus putusin Eric!"
__ADS_1
Jawabnya seraya memutuskan sambungan telepon kami.
Gila itu si Dion, pacaran sama celine udah selama itu mau ditinggalin cuma gara-gara gue nantangin, ah paling juga cuma akal-akalan dia aja. Gumamku dalam hati.
Aku tidur dan bangun dengan semangat. Karena tadi malam percakapanku dengan Dion sesingkat itu, jadi aku bisa tidur lebih cepat. Tapi tidak dengan Dion. Sesampainya di sekolah mukanya terlihat lelah seperti kurang tidur. Aku dan dia hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Dia hanya menyodorkan jaket cokelat kesayangannya untuk menutupi rok ku tanpa berkata. Jam istirahat pun dimulai. Aku pergi keluar menghindari Dion. Aku berjalan bersama 3 orang perempuan teman sekelasku.
"Mil, lu jadian ya sama Dion?"
Tanya Ria memulai obrolan.
"Gosip lu, gue sm dia cuma temenan."
Jawabku sewot.
"Gosipnya udah nyebar ke satu sekolah loh. Lu pacaran sm si ncek itu"
Dion memang keturunan chinesse. Matanya sipit,kulitnya putih seperti nenek moyangnya.
"Siapa yang buat gosip kaya gitu sih? gue masih sama Eric" heranku.
__ADS_1
Olin, Ria dan Grace bersama mengangkat bahu mengartikan ketidaktahuan mereka.