(Im)Perfect

(Im)Perfect
Kecelakaan


__ADS_3

Tubuhku terasa sakit tak dapat ku gerakkan, bahkan mataku tak dapat ku buka lebar, hanya samar-samar aku melihat Gerald di depan mataku sedang berteriak memintaku untuk bangun.


"Mil, bangun Mil. Saya mohon bangunlah Mil."


Suara Gerald begitu nyata di telingaku kali ini.


Aku membuka mataku dengan berat, ku lihat ruangan berwarna putih dan beberapa selang infus di tubuhku.


"Mil, kamu udah sadar. Makasih Tuhan."


Ucap Gerald di sampingku memegang tangaku.


"Dion mana?"


Itu hal yang pertama ku tanyakan, padahal manusia ini baru pertama kali menampakkan wajahnya setelah tiga tahun belakangan ini.


"Dion di ICU, Mil. "


Ibuku menjawab pertanyaanku.


"Gimana bu keadaannya?"


Tanyaku panik.


"Lukanya lebih parah Mil, harus dirawat intensif. Kamu fokus sama dirimu dulu ya."


Ibu memberi saran padaku.


"Mily mau liat bu, kak, tolong antar aku."


Aku bersikukuh melihat keadaannya.


Gerald membawaku menggunakan kursi roda dengan beberapa infus masih menggantung di tiangnya.


Aku sampai di ruangan dimana Dion berbaring, dia begitu lemah dan belum sadarkan diri.


"Yon, bangun. Katanya gak bakal ninggalin gue dan Ed , ayo bangun."


Tangisku pecah melihatnya tak memberi reaksi apapun.


"Mil, nanti Dion pasti bangun, kamu sehat dulu. Baru kamu bisa semangatin dia ya."


Ucap Gerald yang membuatku tersadar dia telah kembali.

__ADS_1


"Kamu darimana kak?"


Tanyaku padanya.


"Saya ada Mil, nanti saja kita obrolin. Fokus dulu sama kesehatanmu."


Katanya sembari membelokkan kursi roda mengajakku kembali ke ruang perawatanku.


"Gak, aku mau disini sama Dion. Aku mau tunggu Dion bangun."


Aku memegang tangan Dion.


"Ya sudah saya keluar ya. Nanti kalo kamu butuh saya, panggil saja, saya ada di luar kamar ini."


Pesannya sebelum menutup pintu.


Aku menciumi tangan dan kepala Dion, berharap dia bisa merasakan kehadiranku menantinya kembali.


"Maaf Ya Yon, kalo aja malem itu gue gak bertindak bodoh, pasti kita gak kenapa-kenapa."


Aku menangis di samping Dion hingga tertidur.


"Mil, ayo kita balik. Besok kesini lagi ya."


Ucap Gerald yang membangunkanku.


Gerald begitu serius mengurusku selama masa pemulihanku . Hingga hari ini aku tak pernah bertanya lagi apa yang terjadi dengannya selama ia menghilang. Aku hanya fokus dengan keselamatan Dion.


Gerald sedang menyuapiku ketika Edward datang.


"Mamaaa, Ed Yindu."


Ucapnya yang sudah seminggu ini tak bertemu denganku.


"Mama juga."


Pelukku melepas rindu.


"Edward.."


Gerald terpaku melihat Edward di dekatnya.


"Ma.. Ed takut."

__ADS_1


Ucapnya menunjuk Gerald.


"Itu papa Gerald, papanya Ed."


Kataku memberitahunya.


"NOO, papa Ed , papa Yon".


Kata Edward berteriak menolak Gerald.


"Maaf ya kak dia belum paham."


Ucapku pada Gerald.


"Iya gak apa-apa. Salah saya jadi dia gak kenal saya."


Sesal Gerald.


"Itu musibah kak. Jangan salahin diri sendiri."


Ucapku menguatkannya.


"Gak Mil, itu kemauan saya sendiri."


Tutur Gerald yang membuatku terbatuk saat menelan bubur yang ia suapi.


"Maksudnya?"


Tanyaku heran.


"Saya gak tenggelam, saya pergi dan menghindar dari kalian."


Jawabnya yang membuatku makin tak paham.


"Maaaa, Ed mau liat papa Yon ya."


Rengek Edward memotong pembicaraan kami.


Aku meminta izin pada suster penjaga yang tak mengizinkan anak kecil masuk ke ruangan Dion.


"Maaf sus, ini anaknya, dia kangen sama papanya. Saya minta tolong sekali ini aja,Sus."


Aku memohon kepada perawat.

__ADS_1


"Baik, tapi jangan lama-lama ya bu."


Ucap perawat mengizinkan.


__ADS_2