(Im)Perfect

(Im)Perfect
Dengan Gerald


__ADS_3

"Mil, pindah ke kursi depan yuk."


Gerald membangunkanku dengan lembut.


"Sisca mana kak?"


Aku terbangun sembari membersihkan mataku dari kotoran.


"Sisca barusan udah turun di depan rumahnya."


"Oh yaudah kak, aku pesen ojeg aja."


pintaku


"Jangan Mil, kamu ngantuk biar saya antar."


Ger membujukku.


Langit sudah sangat gelap dan mendung. Sepertinya akan turun hujan. Tak terasa sudah pukul sepuluh malam. Rumah Gerald jauh dari rumahku tak tega rasanya membiarkannya mengantarku.


Gerald membukakan pintu mobilnya untukku dan mempersilahkan aku masuk dan duduk di kursi depan.


"Tidur lagi aja Mil. Alamat rumah kamu ini kan?"


Tanyanya sembari memperlihatkan peta di ponselnya.


"Kok kak Gerald tau?"


Aku jadi tak mengantuk.


"Iya kan saya menyimpan semua data karyawan."


Jawab Gerald yang membuat ku mengerti.


"Berarti Kak gerald hapal semua alamat karyawan ya?"


Tanyaku yang membuatnya bingung.


"Enggak. Cuma kamu doang yang saya hapalin"


Jawabnya jujur.


"Mau makan dulu gak Mil?"


Tanya Gerald mengalihkan pembicaraan.


"Gak laper sih. emang Kak Ger laper?"


"Enggak sih."


"Tapi aku pengen makan es krim deh kak. Suka gak?"


"Ayo. dimana?"


"Dipertigaan Depan kak nanti ada toko eskrim yang rame."


Aku hapal tukang jajanan malam di sekitar kantorku ini.

__ADS_1


"Malem-malem gini masih buka?"


"Iya."


Aku memesan es krim greentea dan Gerald memesan es krim vanila. Kami menepikan mobil dan menikmati es krim di dalamnya sambil membuka jendela.


"Nih cobain punya aku".


Ku dekatkan eskrim ku ke mulutnya.


"Kenapa Kak? Jijik ya? haha yaudah gak usah."


Aku baru ingat Gerald orang yang sangat higienis.


"Sini."


Ia membuka mulutnya dan kusodorkan es krimku ke mulutnya.


"Enak gak?"


"Enak Mil. Kamu mau coba punya saya?"


Aku mengangguk dan dia menyuapiku es krim miliknya.


Aku terus mengganggunya dengan menjejalkan eskrim ku ke hidungnya sampai terkena kacamatanya.


"Eh sori kak.. Sini aku bersihin"


Ia melepaskan kacamatanya dan memberikan padaku.


Ketika aku mau kembalikan, aku terpukau akan ketampanannya.


"Kok nambah ganteng kak gak pake kacamata?"


"Masa sih? bisa aja kamu Mil"


"Sini aku buka dua kancing kemeja paling atas"


"Terus aku acak sedikit ya rambutnya"


Aku keterusan sampai tak ingat dia kepala HRD ku.


"Eh maaf Kak, aku udah kurang ajar."


Aku menyesali perbuatanku.


"Sini saya acak juga rambutmu Mil"


Dia tak marah malah melanjutkan keseruan kami.


Kami tertawa terbahak-bahak sampai lupa waktu.


"Kak udah jam 12. Aku pasti diomel"


Kataku panik.


"Iya tenang Mil, nanti saya yang akan ngomong sama orangtuamu"

__ADS_1


Jawab Gerald.


"Ih sembarangan. Aku gak pernah ajak laki-laki main ke rumah kak."


Kataku melarang.


"Kenapa gitu mil?"


"Karena nanti cowo yang pertama datang ke rumahku ya cuma calon suamiku.Itu udah jadi tekad aku."


Jelasku jujur.


"Itu bukan cuma tekad. Itu doamu Mil. Berarti kalo saya bisa anter kamu malem ini sampe rumah. Saya bagian dari ucapanmu".


Kata Gerald Padaku.


Aku sudah sampai gang, tapi jalanan ditutup karena sedang ada warga yang berduka.


"Gak ada jalan lain?"


Tanya Gerald.


"Ada.Tapi harus putar jauh."


Kataku sembari berpikir.


"oke saya antar."


"Jangan. jalan itu akan buat aku langsung turun di depan rumah. Aku coba permisi aja deh"


Kataku menolaknya.


"Gak enak Mil, gak ada empatinya banget kamu"


Tutur Gerald mengomeliku


Akupun mengalah. Kutunjukkan jalan masuk yang lain melewati perkampungan. Begitu gelap dan sepi.


Kemudian akupun turun tepat di depan rumahku. Ayahku terbangun dan Gerald keluar dari mobilnya menjelaskan pada ayah alasanku pulang telat.


Setelah berbincang dengan ayah, Gerald pamit pulang. Kuantarkan ia kembali ke mobilnya.


"Yah gak jadi deh tekadku bawa calon suamiku yang pertama kesini."


Kataku sembari tertawa.


"Jadi Mil"


Jawab Gerald padaku.


"Udah keduluan kamu, kak"


Kataku menunjuk dadanya.


"Kalo gitu, saya aja yang jadi calon suamimu."


Tutur Gerald membuatku keringat dingin.

__ADS_1


__ADS_2