
Selesai makan aku baru ingat harus menghubungi Mel.
Mel, ini emily.
Aku mengirim pesan pada Mel.
Iya gue udah tau.
Balas Mel.
Mel, maaf gue diminta tolong sama Dion untuk ambilin titipannya ke elu. Dia udah ngomong ke lu kan sebelumnya?
Balasku menjelaskan maksudku menghubunginya
Iya udah gak usah basa-basi. Ni alamat rumah gue. Tar jam 8 malem gue tunggu lu disini.
Balasnya ketus.
Aku pun sebenarnya tidak mau diposisi seperti ini, tapi karena Dion sahabat baikku yang meminta maka aku turuti.
Jalanan sangat macet.Pukul 20.30 Aku berada di depan alamat yang Mel kirimkan.
Aku mengetuk pintu rumah berwarna pink tersebut.
Mel keluar dengan wajah tidak suka padaku. Tapi aku masih berusaha baik , tidak ingin berpikir buruk tentang Mel.
"Mel maaf ya tadi jalanan dari tempat kerja gue macet"
Aku memulai obrolan.
"Lu ngaret gini, lu kira waktu gue cuma buat nungguin elu?"
Mel menjawab dengan nada sinis.
"Iya sori Mel. Gue kesini cuma mau ngambil pesenan Dion."
Aku tak menanggapi kalimatnya, hanya fokus pada tujuanku.
__ADS_1
"Iya gue tau. Seneng kan akhirnya gue pisah sama Dion terus hartanya lu keruk deh tuh."
Mel meracau tak karuan. Mungkin dia tertekan pikirku.
"Maksudnya apa ya Mel? Ini bukan buat gue, nanti Dion juga bakal dateng untuk ambil cuma belum sempet dalam waktu dekat"
Aku menjelaskan.
"Daridulu juga lu lebih diperhatiin Dion dari gue. Kurang ngalah apa gue sama lu?"
Mel mengungkit hal yang mungkin dipendamnya selama ini.
"Sori mel kalo soal itu, gue selalu berusaha nolak ajakan Dion."
Aku minta maaf.mencoba mengerti mungkin ini soal Dion yang mengantar jemputku dulu.
Praakkkk
Tamparan keras Mel mendarat di pipiku.
Lalu ia melemparkan 3 buah kartu kepadaku.
"Ambil tuh terus lu pergi."
Usir Mel kasar.
"Dasar Miskin."
Ia menambahkan umpatannya lagi kepadaku.
Tubuhku bergetar ada gejolak untuk memukulnya kembali. Tapi kutahan sekuat logikaku. Aku hanya menjawab perkataan terakhirnya.
"Gue emang gak sekaya lu Mel. Tapi gue beli keperluan pribadi pake keringet gue sendiri. Bukan nguras harta orang. Maling lu"
Aku akhirnya mengeluarkan isi hatiku yang daritadi kutahan.
Mel masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan keras.
__ADS_1
Aku berjalan pulang tanpa menggunakan transportasi apapun. Aku menyusuri jalan dengan kondisi sangat kacau, tak pernah aku diperlakukan seperti itu oleh siapapun. Aku juga ingin menangis tapi sebisa mungkin kutahan.
Triinngg triiinggg..
Aku mendapat panggilan telepon dari Dion. Aku menerimanya.
"M, lu abis ketemu Mel?"
Tanya Dion
"Ya"
Jawabku sebisanya. aku masih menahan tangis.
"Lu kenapa pake ngatain dia maling?"
Dion bertanya dengan nada keras.
"Maaf"
Kataku singkat. Aku masih berjalan tanpa tau tujuan.
"Telepon dan minta maaf sama Mel"
Perintah Dion padaku.
"Enggak!"
Aku berteriak kencang dan pada akhirnya menangis.
"Iya iya maafin gue M. Lu diapain?"
Dion akhirnya sadar, dia ingat kelemahanku yang akan menangis kepadanya jika ada yang menyakitiku.
Aku tutup panggilan telepon dan tak ku katakan apapun pada Dion. Aku masih tidak mau membahasnya.
Dion berusaha menelponku berkali-kali. Aku tetap tidak menggubris. Aku masih dengan lamunanku mengingat kejadian tadi.
__ADS_1