
Sudah hampir sebulan aku putus dari Eric dan Dion putus dari Celine. Kami banyak menghabiskan hari berdua. Disekolah kami berbincang berdua, Dirumah kami bisa telepon-teleponan berjam-jam lamanya. Sampai kadang ayahku marah karena aku berlama lama menggunakan ponsel. Tidak hanya bercerita, kadang di telepon kami membahas soal-soal latihan pelajaran. Dion menjelaskan secara mudah untukku. Tapi terkadang kami diam di telepon jika stok obrolan kami sudah habis, hingga Dion mematikan telepon jika tidak ada jawaban dariku yang mengisyaratkan bahwa aku ketiduran. Kadang aku seperti bermimpi rasanya Dion mengucapkan sesuatu diakhir sambungan telepon sebelum ia memencet tombol berwarna merah di ponselnya. Tapi aku tidak tau apa, karena aku baru saja tertidur, tapi kesadaranku belum sepenuhnya hilang. Seseru itu persahabatan kami.
Disekolah, Ria bertanya padaku
"Lu ngobrolin apa sih Mil sama Dion setiap hari?"
"ya apa aja Ri , semua juga bisa jadi obrolan kita. Kadang gosipin guru, kadang juga gosipin cinta kamu yang bertepuk sebelah tangan ke Felix" . candaku yang menyentil Ria untuk tidak terlalu berharap pada Felix.
Ria memang sangat kagum pada Felix, aku rasa Felix mengetahuinya tetapi dia sengaja acuh.
"Apaan sih lu Mil. Support gue kek, comblangin gue kek. Ini malah nyindir-nyindir"
Jawab Ria ngambek.
"Yaudah jodoh mah gak kemana Ri"
Jawabku menenangkan Ria.
"Iya amin ya Mil. Tapi gue masih penasaran Dion sependiem itu kok bisa banyak omong kalo sama lu?"
Ria masih meminta jawabanku.
__ADS_1
"Ya gatau Ri, nyaman kali. Namanya juga sahabat. Kalo diem-dieman musuh namanya" Jawabku asal menghentikan pertanyaan Ria.
Bukan teman saja, tetapi guru-guruku juga sering bertanya mengapa Dion seintrovert itu tetapi jika bersamaku Dion menjadi anak yang ceria.
Dion memang agak spesial di sekolah ini dimata para guru. Bukan hanya karena ia murid terpandai tapi juga karena orangtuanya adalah salah satu donatur di sekolah kami.
Siang ini Dion berbisik padaku. Ya memang itu kebiasaannya suaranya pelan sekali. Sehingga hanya aku dan Tuhan yang dapat mendengar.
"M, gue kenalan sama adek kelas namanya Meli"
"Ciye, Dion akhirnya lu nunjukkin taring lu" godaku
"Haha, bisa aja lu M. Gue tembak gimana?" tanya Dion meminta pendapatku.
Support kuberikan pada Dion.
Keesokan paginya, Dion datang lebih awal.
"Asiikk tumben lu dateng pagi banget? mau kerjain PR matematika juga?"
tanyaku sambil menggoda.
__ADS_1
"Mana ada gue kerjain PR di sekolah M. Itu mah cuma elu, Andi dan Nando"
Jawabnya sambil tersenyum sumringah.
Seketika Andi dan Lana datang
"Ciyee yang baru jadian, udah boncengan aja ke sekolah. Nginep lu depan pintu rumahnya?" Tanya Andi menggoda Dion.
Sontak aku bangun dari dudukku dan mengguncang-guncang tubuh sahabatku.
"Serius lu udah jadian sama Meli?"
Aku takjub dan sangat senang mendengar sahabatku move on. Setidaknya itu juga meyakinkan orang-orang bahwa aku tidak lebih dari sahabat dengan Dion.
Dion tersenyum malu dihadapan kami. Tak lama di muka pintu muncul sesosok wanita cantik perawakannya tinggi langsing putih bak model. Parasnya mirip artis Natasha wilona. Cantik dan chinesse itulah tipe perempuan pilihan Dion. Datang membawakan bekal untuk Dion.
"Ciyeeeee"
sorak kami bertiga menyaksikan keuwuan mereka.
Memang selera Dion sangat tinggi tapi selalu dapat ia taklukan. Semacam Celine yang tak kalah cantik dari Meli.
__ADS_1
Berita ini pun seketika sampai diseluruh siswa sekolah. Maklum sekolah kami kecil, jadi gosip sekecil apapun pasti cepat tersebar dalam waktu beberapa menit. Dan sampailah berita ini ke telinga Eric.