(Im)Perfect

(Im)Perfect
Putus


__ADS_3

Bel masuk berbunyi, artinya kami yang beristirahat harus segera menyelesaikan kegiatan bebas kami untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar dikelas.


Ruangan kelas terlihat ramai di satu sudut, tepatnya ditempat dudukku begitu ramai siswa laki laki berkerumun. Ternyata mereka mengelilingi Lana. Kulihat pipi Lana membiru.


"Lu kenapa Lan?"


tanyaku, Olin,Grace dan Ria serempak.


"Gapapa, gue cuma kepentok"


Jawab Lana meringis sambil memegang pipi.


"Itu ditonjok Eric pacar lu. Lu yang pacaran, lu juga yang punya masalah berdua tapi orang yang kena getahnya"


Jawab Olan kesal.


"Sori,seinget gue hubungan gue dan Eric sangat baik-baik aja"


Jawabku ngotot.


Tapi Olan, Lana dan Eric kan memang sahabat dari kecil, rumah mereka berdekatan. Jadi, tidak mungkin rasanya Olan salah bicara. Tapi yang tak kuhabis pikir mengapa Lana tidak membalas perbuatan Eric padanya. Secara tubuh Lana jauh lebih besar dari Eric tapi nyatanya tidak sekuat Giant di film Doraemon. Lana memang sangat rendah hati dan penyabar.

__ADS_1


Pak Rudi masuk kelas, aku berbisik dengan Lana


"Sebenarnya ada apa sih Lan? Kalian berdua berantemin apa? atau benar kata Olan ada hubungannya dengan gue?"


cecarku penuh tanya.


"Iya, Eric nitipin lu ke gue. Tapi katanya gue gagal sampe sampe lu bisa deket sm cowo lain" jawab Lana yang membuatku makin bertanya.


"Gue deket sama siapa maksudnya? kaka paskibra? anggota paskibra?"


"tuh"


jawab lana singkat sembari dagunya mengarah ke arah Dion.


"Gara-gara lu ternyata" Aku berbisik pada Dion.


"Yaudah, sekarang lu putusin. masa orang lain dijadiin pelampiasan? Gue udh putus kok sama celine. Nih lu baca aja chat gue sama Celine tadi malam"


Oh pantas pagi ini mukanya begitu kusut. Tapi pasti mereka ada alasan lain sampai putus bukan karena perkataan konyolku tadi malam. Pikirku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak ada hubungannya.


Bel pulang berbunyi, aku mengejar Eric yang jalan jauh meninggalkanku. Aku tarik Eric dan ku bicarakan baik-baik.

__ADS_1


"Kayanya sekarang udah terlambat Ric untuk aku jelasin apapun. yang kamu lakuin ke Lana itu keterlaluan. Kita udahin aja Ric, daripada nyakitin orang lain lagi kedepannya"


Kata-kata terakhirku mengakhiri hubunganku dengan Eric.


Eric hanya diam terpaku. Eric memang orang yang tidak pernah menyampaikan marahnya padaku. Eric orang yang tenang menurutku, makanya selama ini aku nyaman. Tapi aku benar- benar dibuat shock atas tindakannya kali ini. Eric bagiku adalah Angin yang selalu membuatku sejuk. Tapi kali ini berubah menjadi angin ribut yang membuat kekacauan.


Maaf seandainya kau bertanya tentang keraguanmu sebelumnya, mungkin hal ini tak akan terjadi.


tring..tring.. ponselku berdering. Tertera nama Dion di layar ponselku.


"kenapa Yon?"


"Lu dimana? udah sampe rumah?"


"Hampir sampai, baru turun angkot"


"oh,syukurlah. Gimana perasaan lu sekarang?"


"Sedihlah, cuma ya gak apalah daripada nanti ada banyak orang yang gak tau apa-apa jadi pelampiasan kemarahan dia lagi"


"Good. You will be okay, My friend. So do i" katanya meyakinkanku.

__ADS_1


Rasanya tidak tepat aku terlalu bergalau diri. Usiaku masih terlalu muda. Ini masih terlalu awal untukku merasakan sedih mendalam.


Terimakasih Eric sudah menjadi teman yang baik untukku selama beberapa bulan ini. Maafkan aku yang sudah membuat perangaimu menjadi buruk dan citramu jelek dimata teman-temanku. Semoga kau bahagia.


__ADS_2