
Aku duduk di samping Sisca yang duduk berhadapan dengan Gerald. Sisca terus memandangi Gerald sambil tersenyum sendiri seperti berkhayal sesuatu. Sedangkan Gerald sibuk memilih menu yang ia pegang, tak sadar ada yang memperhatikannya seperti itu.
"Mba,Spicy curry ramen"
Aku memesan terlebih dahulu.
Kasihan waitress daritadi berdiri menunggu kami memilih.
"Saya, chicken miso ramen"
Gerald ikut memesan.
"Aku sama kaya bapak ini mba"
Kata Sisca sambil terus tersenyum memandangi Gerald.
"Sis, yang bener. Kan lu bilang mau yang pedes."
Kataku mengingatkan Sisca yang terlalu dalam berkhayal.
"Emang Pak Gerald mesennya gak pedes?"
Tanya Sisca yang baru kembali kedunia nyata.
"Enggak, dia kan gak suka pedes."
Kataku mengingat beberapa kali aku dan Gerald makan, dia selalu menghindari saus sambal.
"Aku Spicy chicken Miso aja mba"
Sisca mengganti pesanannya pada waitress.
"Kok lu tau Mil, Pak Gerald gak suka pedes?"
Tanya Sisca yang benar-benar sudah kembali kesadarannya.
Aku yang sedang bermain ponsel, seketika mencari jawaban yang terbaik dalam otakku.
Gerald hanya menggaruk hidung dengan telunjuknya memperhatikanku dan menahan tawa. Sama sekali tidak membantu.
"Nebak aja Sis."
Hanya itu jawaban yang kudapatkan dikepalaku.
"Nebak kok yakin banget?"
Sisca masih bertanya keheranan.
Beruntung pesanan kami tiba dengan cepat. Aku langsung melahapnya. Hingga aku melupakan bahwa ini panas.
__ADS_1
"Tiupin sis"
Aku meminta Sisca meniup makanan di dalam mulutku.
Sisca segera menuruti permintaanku.
Setelah ku telan, mereka berdua tertawa lepas melihat tingkahku.
"Makanya kalo makan baca doa dulu Mil"
Kata Sisca kepadaku.
"Iya gue lupa ini panas"
Aku berkata dengan menahan malu. Tak apalah yang terpenting Sisca jadi melupakan persoalan tadi.
"Eh,Mil lu diundang ke nikahan Bu Lea?"
Tanya Sisca padaku.
"Iya diundang, kenapa? Bareng yuk"
Ajakku pada Sisca.
"Gue udah janjian sama Pak Ger. Dasar Mili jomblo."
"Yeeeuu lu juga masih jomblo Sis, inget itu."
Aku membalas ledekan Sisca.
"Bentar lagi Mil. Doain ya"
Harap Sisca.
"Bukannya Mili punya pacar ya?"
Gerald ikut nimbrung dalam obrolan kami.
"Enggak. Mili jomblo akut pak"
Jawab Sisca.
"Beberapa hari lalu, saya lihat ada yang jemput pake mobil sedan hitam."
Gerald menjelaskan dugaannya.
"Maksud bapak, si Dion sahabatnya Mili?"
Tanya Sisca yang sudah lebih dulu banyak kucekoki cerita tentang Dion.
__ADS_1
"Sahabat? Sahabat kok pelukan?"
Tanya Gerald menyelidik yang membuatku berhenti makan karena terkejut.
"Emang sahabatan gak boleh pelukan melepas rindu?"
Tanyaku berujung protes.
"Si mily emang gak ada pacar pak. Itu sahabat terbaiknya lebih-lebihin pacar. Jadi kalo Mily sedih, tu orang bisa langsung muncul cuma buat ngehibur mily."
Gosip Sisca.
"Tau darimana gue sedih?"
Aku heran dengan omongan Sisca yang sangat tepat.
"Setoko tau kali Mil. Elu kan makhluk tergembira setoko. Kalo lu diem sedikit, kita semua ngerasain ada yang beda."
Jawab Sisca mengingat kejadian waktu itu.
"Tapi serius cowo itu cuma sahabat Mil?"
Tanya Gerald tak yakin.
"He-eh, bukan cuma sahabat. Tapi supersahabat, Pak"
Protesku membenahi kalimat Gerald.
Selesai menghabiskan makanan kami, aku pamit ke minimarket dulu. Aku biarkan mereka berdua.
Aku akan membeli banyak cemilan untuk Olin, dia pasti bosan berada di kamar seminggu ini.
Aku tak dapat menyentuh bagian atas rak. terlalu jauh dan tinggi.
Tiba-tiba seseorang yang tinggi mengambilkannya untukku.
"Ini Mil"
Aku terkejut dengan keberadaan Gerald.
"Makasih kak. Sisca mana?"
Tanyaku sembari mencari sisca.
"Gak ada. Aku tinggal."
Jawabnya singkat.
Aku segera menyelesaikan belanjaku. Tak enak jika ada yang melihat kami berdua. Aku tak ingin menyakiti Sisca.
__ADS_1