
Sejak hari itu, aku dan Dion semakin dekat. Tentu bukan sebagai sahabat, kami mulai membuat mimpi bersama tentang masa depan bersama Edward.
Awalnya aku merasa berdosa mengkhianati Gerald dan merasa bersalah membohongi Dion. Tapi seiring berjalannya waktu, Dion meyakinkanku menjadi pengganti Gerald di hatiku dan di hidup kami.
Minggu sore Dion sedang asik bermain dengan Edward di teras rumah, Dion membawakan mainan baru lagi untuk Ed dan Ed mengajaknya bermain bersama.
"M, minggu depan kamu dan Edward ikut aku."
Kata Dion sambil memainkan pesawat milik Edward.
"Kemana?"
Tanyaku sembari meletakkan dua gelas jus untuk dua laki-laki di depanku.
"Ketemu mami papi. Tiketnya udah kupesen."
Jawabnya mengejutkanku.
"Kamu kok gak bilang dulu sih?"
Tanyaku protes
"Ya soalnya orangtua ku ada waktu cuma di hari itu."
Jawab Dion sambil menenggak segelas Jus buatanku tadi.
"Ed ayo minum, papa Dion habis tuh."
Aku membujuk Edward sambil mendengarkan Dion.
"Mau cama papa Yon"
Edward pindah ke pangkuan Dion dan segera meminum jus miliknya.
"Terus kalo kita gak dapet restu gimana?"
Tanyaku pada Dion.
"Kita belum coba, tapi kamu udah pesimis."
Jawab Dion membuatku enggan bertanya lagi.
**
__ADS_1
Satu minggu kemudian, kami pergi berempat. Aku, Dion, Edward dan Mba Susan.
Dion mengenalkanku kepada kedua orangtuanya. Ayahnya sudah sangat sepuh sedangkan ibunya juga sudah paruh baya namun sangat elegan, berkelas seperti wanita sosialita masa kini.
"Mi, Pi, Dion mau kenalin ini Emily calon istri Dion dan Edward anaknya."
Ucap Dion memulai percakapan.
"Oh iya, saya papinya Dion."
Kata Papi Dion seraya menerima uluran tanganku.
"Saya maminya Dion."
Ucap mami Dion dan menepis tanganku.
Rasanya aku ingin menangis. Tapi aku harus kuat, Dion saja mampu membahagiakan anakku, harusnya aku dapat membalasnya.
"Dion, kamu gak salah? Kamu ngelebih-lebihin kesalahan kakakmu ini. Kakak mu aja udah salah bawa pasangan yang gak masuk kriteria keluarga kita, ini malah ditambah punya anak."
Ucap mami Dion yang membuatku melihat ke arah Edward. Aku takut Edward mengerti dan sedih.
"Permisi, saya bawa Edward ke mbaknya dulu."
"Suamimu kemana?"
Tanya mami Dion padaku.
"Hilang mi, Sudah tiga tahun."
Dion menjawab pertanyaan yang ditujukan untukku.
"Tuh suami aja ilang, berarti emang gak bener."
Jawabnya asal menyimpulkan.
"Suami saya tenggelam di laut."
Kataku sambil menahan sabar yang hampir habis, semua demi Dion.
"Dia yang buat kamu dan Martha pisahkan?"
Dia bertanya dengan dugaannya sendiri.
__ADS_1
"Mami tanya Martha, kami memang gak saling cinta."
Jawab Dion yang emosinya mulai memuncak, dan ku pegang tangannya memberi kekuatan agar ia bisa bersabar.
"Ya berarti resiko mu yah, Kakakmu aja udah gak mau mami anggep. Kalian juga kalo masih nekat."
Ancamnya kepada kami.
"Mi, kita mau kehilangan berapa anak lagi kalo pikiran mami masih kolot?"
Tanya papi Dion.
"Mending mami gak punya anak dari pada gak ada yang bener begini."
Jawabnya sinis.
"Gak bener gimana mi? Kakak sama suaminya baik-baik aja sampe sekarang. Mereka bahagia, suaminya tanggung jawab. Dion yang mami pilihin jodohnya malah berantakan kan?"
Kemarahan Dion sudah sampai puncaknya.
"Ya sudah sana nikah, mami gak mau hadir."
Jawab mami meninggalkan kami.
"Kami gak akan nikah sampai dapat restu dari ibu."
Ucapku sedikit keras agar di dengar maminya Dion.
"Kamu apaan sih M? mau nunggu sampe kapan?"
Tanya Dion padaku.
"Sampe mami mu kasih restu."
Jawabku.
"Kalian menikahlah, papi merestui."
Kata papi yang sifatnya jauh berbeda dengan mami Dion.
"Enggak pak, Emily akan tunggu mami Dion merestui kami."
Jawabku bertekad.
__ADS_1