(Im)Perfect

(Im)Perfect
31 Desember


__ADS_3

Dermaga..


Angin bertiup sangat kencang, kami menunggu kedatangan kapal cepat yang akan mengantarkan kami menyebrangi pulau.


Kulihat Gerald sangat nyaman dengan outfit yang ia kenakan. Tidak seformal biasanya. Hari ini ia mengenakan celana pendek hitam, kemeja lengan pendek berwarna merah yang tidak ia kancingkan sehingga kaos putih yang ia pakai terlihat.


Serasi dengan ku yang mengenakan hotpants bewarna biru, dengan kaos putih dan outer floral bewarna merah.


Kami sungguh tidak janjian, hanya satu selera.


"Kapalnya sudah datang pak, bapak dan istri tolong masuk ke dalam dengan hati-hati, rombongan kapal ini soalnya lumayan padat"


Salah satu petugas memberi intruksi padaku dan Gerald.


Aku cekikikan mendengar penuturannya.


"Kamu kenapa Mil?"


Tanya Gerald heran


"Katanya bapak dan istri."


Aku berbisik sambil tertawa pelan. Gerald pun tersenyum.


"Terus harusnya apa emang Mil?"


Tanya Gerald.


"Om dan ponakannya"


Kataku meledek.


"Saya cuma beda sepuluh tahun sama kamu Mil bukan dua puluh tahun."


Katanya protes.


"Iya iyaaaa"


Aku mengalah dan melangkahkan kaki kedalam kapal.


"Harusnya tadi pas bapak itu bilang, kamu melakukan hal yang saya lakukan.


Tuturnya.


"Emang Ka Ger tadi berbuat apa? aku liat cuma mengangkat tas dan koper."


Tanyaku bingung.


"Saya melakukan yang tidak manusia liat, Tapi yang Tuhan dengar yaitu mengamini dan mengimani".

__ADS_1


Katanya yang membuatku makin kagum.


Aku terpukau, sepertinya Gerald memang berniat serius denganku. Mungkin dengan usianya yang terbilang sudah matang, ia sangat fokus mencari calon istri.


Kami seketika sibuk memandangi air laut yang seperti bertengkar dengan mesin dari kapal ini.


"Kalo kapalnya bocor terus tenggelam disini, kita gimana ya kak?"


Khayalanku yang terucap begitu saja.


"Kamu takut?"


Tanya nya.


"Iya, aku gak bisa berenang."


Kataku jujur.


"Sini letakkin kepalamu di pundak saya, dan katakan semua baik-baik saja."


Katanya menenangkanku.


Kapal sudah menghentikan lajunya disebuah pulau kecil. Kami turun dan menikmati pemandangan laut yang begitu luar biasa.


"Thanks ya kak. Udah ngajak aku kesini"


Teriakku membarengi suara kapal yang dihidupkan kembali.


"Kita bawa dulu barang-barang ke kamar ya Mil"


Ajak Gerald.


"Iya Kak"


Aku menjawabnya dengan semangat.


Kami berjalan melewati jembatan kayu yang menghubungkan setiap cottage kemudian diarahkan langsung ke setiap pintu cottage. Jadi terkesan sangat privasi karena jarak cottage berjauhan.


sampai tiba ditempat yang sudah disewa oleh Gerald.


Kami membuka pintu dan langsung dihadapkan dengan dapur dan kamar mandi.


Kemudian menaiki satu anak tangga terdapat kamar dan ruang tamu yang didesain menjadi satu.


Lalu disamping kamar, ada pintu lagi yang ketika kami buka hanya ada dua buah kursi untuk bersantai menghadap laut.


"Kak ini kasurnya cuma satu?"


Tanyaku bingung.

__ADS_1


"Iya nanti saya tidur di sofa. Kamu yang di kasur"


Jelas Gerald padaku.


Tapi aku mengernyitkan dahi karena tidak ada penghalang antara sofa dan kasur.


"Kalo kamu keberatan, nanti saya sewa satu kamar lagi ya."


Kata Gerald seperti membaca pikiranku.


Aku terdiam dan berpikir lagi, kalau sendirian disini aku juga takut. Karena jarak cottage berjauhan.


"Gak usah kak. Tapi kak Ger di sofa gak apa- apa?"


Tanyaku tak enak hati, karena dia yang bayar tapi aku yang tidur di kasur.


"Gak masalah Mil. Menurut saya yang terpenting bukan dimana tapi dengan siapa."


Jawabnya bijak yang membuatku makin menyukainya.


"Mil, ini adalah rundown acara kita dari panitia selama disini".


Ia menyerahkan selembar kertas kepadaku.


"Nanti waktu makan hanya pagi, siang, dan malam di resto tempat tadi kita turun yah. Terus kalau mau cemilan di kulkas udah ada ya. Kalo perlu apa-apa bilang sama saya"


Gerald menjelaskan rinci seperti tour guide.


"Oke kak"


Jawabku mengerti.


Aku mengambil kamera dan tripod dari ranselku, kemudian aku berjalan keluar.


"Kamu mau kemana, Mil?"


Tanya Gerald sebelum aku menutup pintu.


"Oh iya objeknya lupa dibawa"


Kataku sambil menarik tangan Gerald agar ikut denganku.


"Katanya kamu mau hibernasi?"


Tanya Gerald mengingatkan tujuanku.


"Nanti kalau kita sudah menikah."


Jawabku sembarang.

__ADS_1


Gerald tersenyum terus sampai kami menemukan tempat untuk berswafoto.


__ADS_2