(Im)Perfect

(Im)Perfect
Menghindar


__ADS_3

Aku sangat patah hati. Padahal diawal perpisahanku dan Eric aku sudah sombong kubilang terlalu awal untuk bersedih. Ini balasan untukku. Mungkin Eric pernah di posisiku waktu itu.


Ya sudahlah ini menjadi bagian cerita cintaku. Jatuh cinta pertamaku dan patah hati pertamaku.


Aku berjanji pada diriku untuk melangkah maju tapi rasanya berat, aku ingin mundur lagi kebelakang dan memberi Eric kesempatan waktu dia menungguku di danau.


Aku kacau. Aku tidak lagi mau mengangkat telepon dari Dion. Kumatikan ponselku. Aku berangkat lebih siang. Aku menghindari Dion yang bisa saja sewaktu-waktu ia bertengger di gang rumahku. Aku menukar posisi dudukku dengan Lana. Aku ingin disamping Grace yang mengerti permasalahanku saat ini. Dan yang pasti ingin menjauh dari Dion.


Sebelum Dion menyodorkan jaketnya kepadaku, aku terlebih dulu meminjam sweater milik Lana.


Aku tidak mau membuka obrolan apapun dengan Dion.


Berhari-hari aku melakukan itu. Dion pun sepertinya mulai punya teman. Christopher dan Andi jadi temannya selain aku.


Aku menghabiskan waktuku untuk ekskul dan bertukar cerita dengan 3 teman perempuanku. Tidak jarang sepulang sekolah kami bermain di rumah Grace. Aku sama sekali belum membuka hati untuk siapapun.


ting,ting Ponselku berbunyi. Aku lupa menonaktifkannya.


salah gue apa,M? kenapa lu terus hindarin gue?

__ADS_1


kalo gue ada salah tolong lu kasih tau.


tapi kalo emang lu ngerasa gue ganggu hidup lu,gue akan ngejauh


Pesan dari Dion.


Aku pun baru sadar sudah hampir sebulan aku memperlakukan Dion dengan tidak adil. Ini keputusanku dan Eric. Dion tidak salah. Dia hanya mau yang terbaik buatku, sahabatnya.


"Maaf Dion, gue kemarin emang ada masalah. and Now I'm okay. You're still my best friend" Aku membalas pesan singkat Dion. Lega rasanya hatiku saat ini. Aku sudah mulai dapat melepaskan kekecewaanku.


Seketika Dion menelponku. Dia bertanya apa yang terjadi denganku. Aku mengalihkan pembicaraan bahkan sampai berbohong. Aku tidak mau Dion tau apa yang sebenarnya terjadi dan mengecap Eric dengan kalimat yang tidak enak kudengar. Bagaimanapun Eric berarti untukku. Menjelekkannya dihadapanku sama saja membuatku sedih.


Dasar Dion si keras kepala.


Besok pagi ia menjemputku dan langsung masuk ke kelas.


Aku bertanya "Meli?"


Dia mengerti maksud pertanyaanku

__ADS_1


"Udah gue bilang hari ini gue gak jemput." Jawab Dion cuek.


Dikelas kami baru berdua. Dion menjemputku sepagi biasanya.


"Gue mau liat lu jawab pertanyaan gue. Kan kalo face to face gue bisa liat lu boong apa enggak" ucap Dion menatapku sambil meletakkan tas nya.


"Emang lu mau nanya apa lagi sih Yon?" Tanyaku sebal.


"Mau nanya lu kenapa nghindarin gue" hal yang sama dia tanyakan tadi malam.


"Lu kan udah nanya semalem dan udah gue jawab. Udah ya jangan paksa gue jawab itu. Gue keluar nih dari kelas kalo masih ditanya" Jawabku merajuk.


"oke gue gak nanya itu lagi. Gue tanya lu sayang sama gue?" pertanyaan itu lagi dia lontarkan.


"Iya Dion gue sayang." jawabku berharap dia puas.


"Kalo lu sayang, lu gak akan tega diemin gue kaya kemarin kemarin" pancingnya mencari permasalahan.


"Ah udah ah yang penting gue udah gak nghindarin lu lagi. kalo lu masih nanya, gue tukeran duduk lagi sama Lana" ancamku yang membuat dia akhirnya mengalah.

__ADS_1


__ADS_2