(Im)Perfect

(Im)Perfect
Mak comblang


__ADS_3

Kami berkumpul jam 10.00 di rumah Olin. Kamar Olin sudah jadi basecamp kami, orangtua Olin pun begitu baik menyambut kami. Tapi kami tau diri untuk meletakkan kembali apa yang kami pakai serta membersihkan piring dan gelas sudah kami gunakan.


Bukan hanya itu, setiap datang Ria selalu langsung merapikan kamar Olin. Olin memang sangat cuek, tidak rapi seperti anak perempuan lainnya, jadi setiap kami datang ruangannya seperti kapal pecah. Buku-buku komiknya berserakan di lantai, sketsa anime buatannya berbaur dengan selimut dan bantal. Dia memang sangat tidak memperhatikan kamarnya.


Padahal diantara kami dialah yang paling cantik, perawakan tubuhnya yang tinggi dan langsing, dadanya yang besar menambah poinnya mempunyai tubuh yang diidamkan semua wanita. wajahnya sedikit oriental dan rambutnya panjang terurai. Tapi sayangnya kalau dia berjalan, langkahnya tidak ayu atau anggun seperti model. Dia berjalan seperti preman-preman di pasar, belum lagi kaus hitam kebesaran menjadi pakaian favoritnya kemanapun dia pergi. Sangat kontras dengan wajah cantiknya.


Pukul 14.00 Felix, Firman, dan Lana sampai juga di rumah Olin. Kami berenam menghabiskan waktu bercerita dan bersenda gurau. Tak jarang Ria mencuri kesempatan memandangi Felix yang selalu memberikan celotehan-celotehan konyolnya.


Hari sudah mulai malam, kami lapar. Akhirnya kami putuskan untuk Ria dan Felix membeli mie instan dan makanan ringan di mini market. Rumah Olin jauh dari mini market dan warung. Sehingga mereka berdua harus berboncengan diatas motor. Kami sengaja melakukan itu, agar mereka semakin dekat. Tampaknya Felix juga sudah mulai mencair, tidak sekaku sikapnya disekolah pada Ria.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ria dan Felix membeli makanan yang kami minta. Kulihat wajah Ria yang malu-malu tapi aku yakin didalam hatinya dia bahagia. Kulihat juga wajah Felix yang biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang berkesan untuknya.


Ini baru permulaan pikirku, nanti juga akan lebih baik.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 21.00, kami bersiap-siap untuk pulang. Aku berinisiatif membantu Ria dekat dengan Felix.


"Lix, rumah Ria kan paling jauh diantara kita. Kereta jam segini rawan loh buat cewek secantik Ria" Usahaku membujuk Felix.


"Iya tuh Lix, lu kan laki. Pulang lebih malem gak apalah" tambah Olin mendukung ideku.


"Bener Lix, Gue aja mau anter Emily pulang. Kasian kan cewe malem-malem sendirian" Bantu Lana mengipasi arang yang kubakar.


"Gak usah. Gue naik kereta aja. Udah biasa kok" Jawab Ria menolak.


"Tuh Rianya gak mau." Celetuk Felix yang tidak peka kalau Ria minta dibujuk.


"Udahlah naik Ri ke motor Felix. Ini udah kemaleman" Firman membujuk mereka agar segera pulang.

__ADS_1


Akhirnya Ria duduk dibelakang Felix. Sedangkan aku duduk di jok Lana yang hanya tersisa sedikit untukku


"Lan gue duduk mana?" tanyaku bingung


"Yaelah lu kan gak segede gue. muatlah"


Jawab Lana sambil bergeser ke depan sedikit yang tidak berarti apapun. jok itu masih penuh bokong Lana.


"Gue diri didepan aja deh Lan kalo gitu daripada gue kejengkang ke belakang" Protesku kepada Lana.


Semua teman-temanku tertawa terbahak. Aku masih memikirkan caraku duduk. Aku memang tidak besar juga tidak kecil. Tubuhku proposional. Mungkin kalau Ria yang duduk disini akan sangat muat. Karena badan Ria mungil. Tapi kalau aku, pasti mentok di besi belakang jok motor.


Akhirnya aku duduk di belakang Lana. Jangan tanya bagaimana. Polisi lalu lintas pun tidak akan melihat keberadaanku ada di jok belakang aku rasa. Tubuh Lana bukan hanya besar tapi juga tinggi.

__ADS_1


__ADS_2