
Mil, temui saya diparkiran.
Gerald mengirimku pesan singkat.
Sisca sudah tertidur setelah tadi diberi makan siang dan obat penenang.
Aku segera turun dan mencari Gerald.
Tiiinnn. Dia memanggilku dengan membunyikan klakson mobilnya.
Aku segera masuk dan menghampirinya
"Kenapa kak?"
Tanyaku dari kaca mobil
"Masuk"
Ia menyuruhku membuka pintu.
"Gimana keadaan Sisca?"
Tanyanya.
"Ya gitu kak, masih belum stabil. Kalo lagi inget kak Ger, dia tarik selang infus ditangannya. Makanya tadi dikasih penenang sama dokter"
Jawabku sedih mengingat Sisca.
"Terus kita harus gimana?"
Tanyanya serius.
"Ya bales perasaannya kak. cuma itu."
Jawabku menunduk. Sebenarnya aku tak ikhlas.
"Saya gak bisa pura-pura suka sama Sisca, Mil. Ngaco kamu."
Jawabnya kesal.
"Besok aku harus kerja kak. Gak ada lagi yang urusi Sisca disini. Kita harus buat dia stabil, minimal sampe punya semangat hidup lagi."
__ADS_1
Paksaku pada Gerald.
"Saya mau tanya Mil, Kamu ikhlas jika saya sama Sisca? "
Tanya Gerald dan aku tak dapat menjawab.
"Saya tau dan sadar Mil perasaan saya ke kamu gak bertepuk sebelah tangan. Saya tau perasaan kita sama."
Kata Gerald menatapku tajam.
Aku tertunduk sambil berkata
"Iya kak, kamu bener, aku juga punya perasaan yang sama. Tapi aku gak mau perasaan kita sampe nyakitin oranglain terutama Sisca."
"Menurut kamu saya gak berhak bahagia Mil?"
Gerald makin kesal.
"Kamu mikirin perasaan Sisca tapi gak mikirin perasaan saya."
Gerald yang lembut dan dewasa tiba-tiba membentakku.
Aku menangis dan ketakutan dibuatnya.
Gerald memegang kedua bahuku, mata kami saling berpandang.Lalu Ia menyeka air mataku.
"Maaf Kak, jujur aku bingung harus gimana."
Kataku sembari memegang tangannya yang ada di bahuku.
"Kita cari jalan keluarnya pelan-pelan ya Mil. Tadi saya minta kamu kesini buat ambil baju ganti. Saya bawa beberapa baju untuk kamu pake."
Kata Gerald menyodorkan sebuah paperbag berisi pakaian.
"Makasih kak."
Aku berterimakasih padanya.
"Kamu udah makan?"
Tanyanya lagi dan aku menggeleng.
__ADS_1
Aku memang belum sempat makan karena Sisca mengamuk terus daritadi.
"Ini saya juga udah beliin. Kamu makan ya."
Gerald memberikanku satu buah Rice bowl dengan Jus tomat.
Aku membukanya dan langsung kumakan. Aku benar-benar lapar.
"Maaf Mil kalo saya salah, tapi beberapa kali kita makan, kamu selalu memesan jus tomat"
Kata Gerald yang memperhatikanku makan di dalam mobilnya.
"Gak salah kok. Ini memang minuman wajib untukku selain air mineral"
Jawabku sambil tersenyum senang Gerald tau hal-hal kecil tentangku.
"Nanti malam saya jemput ya Mil, gantian Richard yang cuti untuk jaga Sisca."
Kata Gerald membuatku terkejut.
"Richard tau soal ini kak?"
Tanyaku
"Iya, hanya dia. Karyawan yang lain tidak tahu mengenai ini. Richard sangat terpukul mendengar kondisi Sisca."
Jawab Gerald.
"Terus dia tau alasan nekat Sisca?"
Tanyaku lagi. Gerald mengangguk.
"Dia tau Sisca ngelakuin hal konyol gini karena Kamu kak? Tapi dia masih mau jagain Sisca?"
Aku masih tak mengerti jalan pikir orang yang jatuh cinta.
"Sama kaya saya, siap lakuin apa aja untuk kamu Mil"
Tutur Gerald menyambung pertanyaanku.
Aku senang mendengarnya tapi bersamaan dengan perasaan hatiku yang sedih mengingat Sisca.
__ADS_1
"Makasih ya kak. Aku masuk dulu"
Pamitku menghindari obrolan ini lebih lanjut. Rasanya tak tepat membahas ini mengingat kondisi kesehatan Sisca.