(Im)Perfect

(Im)Perfect
Perpisahan pak Arif


__ADS_3

"Lin, tolongin Emily tuh kesirem kopi panas baru mendidih"


Jero meminta tolong pada adiknya.


"Kenapa lu Mil? parah banget lukanya bang, bawa ke klinik aja."


Tanya Olin padaku yang berujung teriakannya pada Jero.


"Gak usah lebay gitu ,Oyin. Gue baik- baik aja."


Aku menenangkan Olin yang cemas.


"Itu kulit lu sampe kebuka Mil"


Olin makin panik.


"Disirem Rysa"


Kata Jero sambil menstater motornya lagi membawaku ke klinik.


"Abis ini gue langsung pulang aja. Besok gue kerja pagi"


Mintaku pada Jero dan Jero menyanggupi.


"Masih turun di gang? Yakin lu gak apa- apa?"


Tanya Jero.


"Iya yakin."


Jawabku singkat lalu berlalu.


"Besok gue jemput disini"


Jero meneriaki ku.


**


Pagi-pagi ketika keluar gang sudah ada Jero yang menungguku.


"Besok-besok gak perlu gini."


Kataku melarangnya.


"Selama tangan lu sakit Itu kewajiban gue. kan karena gue juga lu dapet luka kaya gitu."


Jawab Jero.


"Terserah lu"

__ADS_1


Jawabku singkat menyudahi obrolan.


Sesampainya di parkiran outlet, Jero membantuku turun. Tanganku belum bisa dipaksa menahan tubuhku turun dari motor setinggi ini.


"Nah gitu dong punya pacar"


Dari jauh Sisca yang keluar dari mobil Gerald meneriakki ku.


"Siapa?"


Tanya Jero.


"Sisca, temen kerja. Gak usah diladenin"


Kataku sembari berlalu


"Nanti gue jemput lagi Mil"


Kata Jero yang sabar kucueki.


Jujur aku terganggu karena luka bakar ini sangat perih. belum lagi perbannya membuat pergerakanku menjadi terbatas. Sehingga aku tak sengaja menjatuhkan tumpukkan baju dari raknya. Gerald yang lewat di depanku hanya menengok sebentar kemudian berlalu.


Aku berharap ada seseorang yang membantuku merapikan pakaian-pakaian ini.


"Emily, nanti jam sebelas hadir di ruang rapat ya."


"Ya Pak".


Jawabku.


Jam sebelas tiba, aku pergi menemui Pak Arif ke ruang rapat. Ternyata disana ada Bu Lea, Gerald, Richard dan Pak Arif menungguku.


Pak Arif menyampaikan kata-kata perpisahannya pada kami. Kemudian disusul Bu Lea memberi salam perpisahan pada Pak Arif dan Peresmianku sebagai pengawas yang baru.


Pak Arif menyalamiku dengan penuh semangat sehingga tanganku yang sakit menjadi tambah sakit.


"Aduh pak pelan-pelan"


Kataku meringis.


"Tanganmu kenapa Mil?"


Tanya Bu Lea sambil memperhatikan perbanku.


"Kesiram air panas yang baru mendidih bu."


Jawabku.


"Masa kesirem air panas disitu? di telapak iya mungkin. Itu sih disiram"

__ADS_1


Bu Lea mulai menunjukkan kemampuan detektifnya.


"Hahaha sepertinya bu"


Jawabku sambil tertawa meringis.


Richard dan Gerald juga menyalamiku. Kemudian kami bubar. Besok aku tak lagi berdiri seharian. Aku diberi ruang kantor pribadi bersebelahan dengan kantor Bu Lea dan bersebrangan dengan kantor Gerald.


Bu Lea mengumumkan kenaikan posisiku kepada seluruh staff, semua staff memberi ucapan selamat kepadaku dan ucapan selamat tinggal pada Pak Arif.


Hari sudah sore, aku menunggu Jero menjemputku.


Mobil Gerald melintas di depanku, tak lama Jero datang.


"Lama ya Mil? Sory ya tadi ada kelas tambahan"


Jero meminta maaf.


"Harusnya lu tadi kirim pesen aja ke gue. jadi kan gue bisa balik sendiri"


Kataku menasehatinya.


"Lu kenapa dingin banget sih Mil?"


Tanyanya saat motor melaju.


"Perasaan lu aja"


Kataku.


"Coba buka hati lu dikit aja buat gue Mil"


Minta Jero.


"Lu aja masih bimbang sama gue atau Rysa. Gue gak mau ambil resiko Jer"


Kataku padanya.


"Aawwww"


Aku meringis


Tiba-tiba Jero mengerem mendadak karena lampu lalu lintas sudah berwarna merah, membuat tanganku yang luka perih akibat terkena gesekan.


Jero mengambil tanganku yang sakit lalu ia elus seraya meminta maaf.


Kulihat di samping kananku, mobil Gerald sedang menunggu antrian lampu lalu lintas sama dengan kami. Dan disebelahnya ada Sisca yang sedang memeluk tangan kiri Gerald.


Aku dan Gerald saling bertatapan. Kemudian kupeluk tubuh Jero karena ia mulai memindahkan gigi kopling motornya.

__ADS_1


__ADS_2