(Im)Perfect

(Im)Perfect
Hari Keenam (Celine)


__ADS_3

Kami sudah berkumpul untuk sarapan, kemudian tak lama seorang gadis cantik datang bertamu.


"Halo tante,om."


Sapanya ke orangtua Dion.


"Halo Celine sayang."


Mami Dion menyapanya dengan ramah.


"Ini Celine dulu pacarnya Dion. Lama ya pacarannya cuma putus karena Dion pindah kota."


Kata mami Dion memperkenalkan gadis itu.


Gadis yang diputuskan Dion karena menerima tantanganku.


"Celine sini duduk dekat Dion. Em, kamu pindah sebelah Gery."


Mami Dion mengatur kami dan aku tetap sabar mengikuti aturannya.


Ketika aku berdiri hendak berpindah tempat, Dion mencengkram keras tanganku.


"Duduk sini M. Jangan pindah."


Ucap Dion sambil menatap sinis maminya.


"Ya udah oke, Mami yang pindah ke sebelah kiri Gery. Biar Celine berhadapan dengan Dion."


Mami Dion berdiri dan berpindah tempat.


Kami makan sambil mendengarkan cerita Celine yang cukup panjang seperti dongeng, dimana ia selalu menjadi korban. Setelah makan aku merapikan meja makan dan ke dapur membantu Bu Sri.


"Sabar ya mba."


Mba Sri mengelus punggungku. Aku mulai meneteskan airmata.


"Gak apa mba. Jangan bilang Dion saya nangis ya?"


Pintaku pada Mba Sri.


"Loh kenapa mba?"


Tanyanya bingung.


"Saya gak mau Dion marah sama maminya."


Aku berusaha harus tegar, karena mengingat sikap Dion kepada siapapun yang menyakitiku, ia langsung bertindak.


Kenapa jadi lemah gini ya? masa iya gue cemburu? artinya gue udah punya perasaan sama Dion?


Gumamku pada diri sendiri.


"M, jalan-jalan yuk sama Ed."


Ajak Dion yang menemuiku di dapur. Aku segera menghapus airmataku.

__ADS_1


"Ayo M"


Dion menarik tanganku.


"Ehhh Dion kamu temenin Celine ya."


Minta maminya mencegah kami.


"Enggak, Dion mau ajak M dan Ed jalan-jalan."


Dion mengacuhkan kemauan maminya.


Seketika Celine datang merebut tangan Dion yang menggandengku.


Edward tak terima jika papa Dionnya diambil orang lain.


"Was...Awaasss..tateee.. ini papa Yon unya Ed cama mama".


Dia protes sambil memukul tangan Celine agar terlepas.


Bruaakkk


Kepala Edward terbentur lantai akibat dorongan keras dari Celine.


"Lu gila ya? harusnya lu mikir, dulu kenapa gue putusin? Lu itu egois."


Ucap Dion mencerca Celine.


"Mba Susan"


"Yon, aku pinjem kunci mobil."


Pintaku pada Dion.


"Aku aja yang anter."


Ucap Dion.


"Gak, lu selesaiin masalah lu disini. Gue sama Mba susan aja."


Jawabku sembari mengambil kunci di tangan Dion.


Aku bisa terima disakiti, tapi tidak Edward. Kami membawa Ed ke rumah sakit terdekat. Karena kepalanya mengeluarkan darah aku takut terjadi apa-apa padanya. Bersyukur menurut dokter tidak ada yang serius. Lalu kami berjalan pulang menuju rumah Dion lagi.


"Mbak, packing ya. Kita balik sekarang."


Kataku pada Mba Susan.


"Iya bu."


Jawabnya patuh.


Sesampainya dirumah Dion, aku segera ke kamar mengemasi barang-barangku.


"M, gimana Edward?"

__ADS_1


Tanya Dion panik.


"Gak apa-apa."


Jawabku ketus.


"kamu mau pulang sekarang?"


Tanya Dion yang melihatku mengemasi barang.


"Iya."


Jawabku singkat.


"Baik, Aku juga."


Ucap Dion yakin.


"Jangan, kamu nyusul aja. Urusin dulu urusanmu disini. Aku duluan cuma menghindari kekacauan lebih parah lagi".


Kataku menghalangi niatnya.


"Kamu marah M?"


Tanya Dion padaku.


"Menurutmu?"


Aku bertanya kembali.


Dion menutup pintu kamar agar pembicaraan kami tak terdengar.


"Maafin mami, M".


Mintanya.


"Gak ada yang perlu minta maaf disini. Aku yang perlu tau diri. Aku gak sesuai kriteria mamimu dari awal tapi aku masih keras kepala ngebuktiin ke kamu. Kamu emang pantesnya sama Celine, dia sempurna. Cantik, putih, tinggi, dan single."


Kataku sambil menangis.


"M, kamu cemburu?"


Tanya Gerald sambil memelukku.


"Aku seneng kamu cemburu, dari dulu aku buat kamu cemburu dengan Melisa tapi kamu selalu biasa aja. Hari ini aku ngerasain dicemburuin kamu."


Dion merespon kemarahanku dengan gembira.


"Apa sih kamu, orang lagi sedih."


Kataku sambil menyeka airmataku.


Aku pulang berpamitan dengan papi Dion yang banyak mengeluarkan permintaan maaf mewakili istrinya.


Sedangkan Mami Dion tak terlihat sejak kepulanganku dari rumah sakit tadi.

__ADS_1


__ADS_2