
Ditengah perjalanan, Olin mengalami pendarahan hebat.
Aku membawanya ke rumah sakit untuk segera ditangani.
"Siapa yang bertanggungjawab mbak?"
Tanya perawat padaku.
"Saya sus. Saya sepupunya"
Jawabku berbohong.
Aku benar-benar bingung harus memberikan kabar pada keluarga Olin atau tidak. Aku belum sempat bertanya pada Olin karena sesampainya disini, Olin langsung mendapat penanganan.
Aku berencana akan memberitahu keluarga Olin jika sampai nanti malam, Olin tak segera pulih. Aku takut hal buruk terjadi pada Olin. Akan salah jika aku tak memberitahu pihak keluarga.
Pukul 17.00 aku dipanggil dokter untuk masuk ke dalam ruangan Olin. Dokter menjelaskan Olin kehilangan banyak darah. Dokter sepertinya mengerti Olin habis menghilangkan nyawa bayinya.
"Kalau menurut saya mba, kasih tau orangtuanya"
Terang dokter padaku.
Aku sangat berat mempertimbangkannya. Bagaimana nanti nasib Olin jika keluarganya tahu. Keluarganya pun akan sangat malu dan terpukul.
"Lin, gimana? gue kabarin ke nyokap lu ya?"
Tanyaku pada Olin yang sudah membaik.
"Jangan Mil. Gue gak mau buat mereka kecewa. Lu telepon Vero aja."
Kata Olin.
"Ngapain sih lu masih mikirin gorila? Di klinik tadi aja lu ditinggal. Kalo lu tadi mati disana gue rasa dia gak bakal tanggungjawab"
__ADS_1
Kataku marah pada Olin yang tak sadar juga.
"Dia tadi izin mau nguburin janin Mil. Terus gue marah pas gue tau bukan dikubur tapi dibuang sama dia"
Olin menjelaskan padaku.
"Lu sayang anak lu? yakin? Itu pembunuh anak lu aja, masih lu sayang. Dia bukan jahat lagi. udah gak waras"
Kataku kesal.
"Iya Mil. Tapi siapa lagi yang mau nerima gue kalo bukan dia? aib ini Mil"
Lirih Olin pesimis.
"Elu!! Lu harus terima diri lu terlebih dahulu. Terus lu sayang sama diri lu sebelum lu sayang sama orang lain. Baru orang lain akan sayang sama lu"
Jawabku padanya.
Olin menangis dipelukku. Mulai mencerna segala yang terjadi. Dia sedikit tersadar harus keluar dari situasi ini.
Kubaca pesan yang dikirim Olin pada gorila.
Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku mending nyusul anak kita. Aku mau bunuh diri.
Gorila jahat itu mengancam.
"Udah pernah lu tantang omongan dia Lin?"
tanyaku pada Olin dan Dia menggeleng.
"Yaudah sekarang lu biarin dia sama mulut besarnya. Kita lihat seminggu kedepan dia pasti masih hidup dan baik-baik aja"
Ku tantang Olin untuk benar-benar meninggalkan hubungan tak sehat ini.
__ADS_1
Aku percaya kali ini Olin bisa, asal ada yang mendukungnya tiap saat.
Tugasku kali ini adalah menjadi supporter terbaiknya.
**
Aku menemaninya tidur di rumah sakit. Dia baru diperbolehkan pulang pagi ini.
Setelah mengantarnya pulang, aku langsung pergi lagi ke tempat kerjaku.
Aku tadi sempatkan mandi di rumah Olin.
Hari ini aku harus menebus janjiku ke pak Arif. aku akan pulang jam 10 malam ini.
Aku tak dapat menemani Olin hari ini. Besok saja pulang kerja aku menemaninya di rumah. Dia cuti selama seminggu untuk memulihkan keadaannya. Daripada ia bengong-bengong memikirkan gorila itu lagi, lebih baik aku menghibur dan membuatnya lupa.
"Lembur Mil?"
Tanya sisca teman kerjaku.
"Iya Sis. Lu juga?"
Tanyaku kembali
"Enggaklah..kan nanti malam gue mau date sama si Gerald"
Kata sisca membuatku menganga.
"Jadi dua hari yang lalu, tumben banget tuh dia mau gue ajak pulang bareng. Biasanya nolak mulu Mil"
Terang sisca menjelaskan.
"Terus gue pepet dong gak kasih ampun. Kemaren gue ajak istirahat bareng. Tar malem gue ajak ngedate. Dia gak nolak"
__ADS_1
Jelas Sisca bahagia.
Dasar tukang PHP . umpatku dalam hati