(Im)Perfect

(Im)Perfect
UJIAN


__ADS_3

"Dua minggu lagi kita ujian."


Firman berteriak di depan kelas.


"Habis ujian kita jalan-jalan"


Andi menyauti Firman dengan berteriak juga.


"Emang si Andi suka gak ada otak. Emang yakin bakal lulus ?"


Tanya Christo yang pendiam.Tapi kali ini terpancing perkataan Andi.


"Luluslah. Kan nanti di Kanan gue elu,Chris. Di kiri gue Dion, Di depan gue Olin sama Emily. Jadi kalo gue mau nanya tinggal tengok kanan kiri atau kedipin mata ke depan"


Andi membeberkan strategi liciknya. Sayangnya semua hanya khayalan dia semata.


"Yeuu mana bisa lu pisahin Dion sama Mily, Gue duduk ditengah mereka aja ,mereka protes"


Gosip Lana sambil tertawa.


"Iya kalo lu ditengah ,Dion beneran gak bisa liat Mily. Orang ketutupan body lu"


Saut Grace melanjuti lawakan Lana.


Aku dan Dion tersenyum geli sambil beradu tatap.


"Emang kita gitu ya?"


Bisikku pada Dion.

__ADS_1


Dion mengangkat bahu sambil menggeleng kepala masih menahan tawa.


Rencananya setelah hasil ujian keluar, kami semua siswa kelas 3 akan berangkat dan beristirahat di kawasan puncak. Selain menghilangkan penat akibat belajar hampir sepuluh jam tiap harinya selama lima bulan ini, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk lepas siswa. Bukan hanya guru melepas kami, tapi kami juga akan melepas satu dengan yang lain.


"M, nanti setelah hasil ujian keluar, gue gak ikut pelepasan."


Dion berbisik padaku.


"Kenapa? sekali doang Dion. Terakhir juga."


Protesku


"Bokap udah nyuruh balik,M. Abis terima ijazah gue langsung cabut kesana"


Jelas Dion yang tak bisa kubantah karena kehendak orangtuanya.


"Berarti lu gak akan pernah ketemu gue abis ujian? Kalo gitu kita isi asal-asalan aja lembar ujian. Biar gak usah lulus kita."


"Ya gak gitu juga M. Nanti sebulan sekali gue kesini liatin lu. Gue janji"


Dion meyakinkanku dan menunjukkan jari kelingkingnya kepadaku


"Iya. Janji ya?"


Kuterima kelingkingnya kutautkan di jari kelingkingku.


Aku harap itu bukan hanya pemanis agar aku tak rewel.


Saat yang ditunggu tiba. Dari hari ini hingga lima hari kedepan kami akan mengerjakan ujian Akhir.

__ADS_1


Dion menjemputku dan mengantarku pulang selama jadwal ujian. Angkatan Mel dan angkatan dibawahnya diliburkan.


Aku dan Dion saling memberi semangat. Tak jarang Dion memberiku contekan. Aku bukan tidak bisa. tapi hitunganku agak lebih lama dari Dion. Rumus-rumus yang Dion gunakan selalu lebih singkat tetapi jawabannya akan sama dengan jawabanku. Dion memang cerdas.


"M, udah belum? Nih"


Bisik bisik iya bertanya padaku sembari memiringkan kertas jawabannya.


"Gak ah tar aja. Gue mau mikir dulu."


Tolakku halus.


"Cepet M, waktunya gak banyak. Lagi juga yang lain udah nunggu"


Dion memaksaku mengikuti jawabannya.


Memang benar semacam Andi, Nando, Firman, Felix dan Lana menunggu jawaban ujian dari Dion melalui aku.


Dion memang pandai mengisi jawaban tapi mengenai soal contek mencotek, ia tak ahli sama sekali.


Pernah waktu dikelas 2 untuk pertama dan terakhir kalinya ia memberikan jawaban ulangan pada Andi, kertas contekannya terlempar ke kaki guru pengawas.


Setelah itu ia kapok dan tak berani lagi berulah.


Memang dasarnya anak baik-baik, baru sekali nakal saja langsung apes.


Aku memberikan kode menggunakan jari-jari tanganku kepada teman-teman yang menunggu jawaban hasil kerja keras Dion. Mereka mengerti karena sudah ku briefing tadi pagi sebelum ujian dimulai.


Aku selalu membedakan dua atau tiga jawaban untuk kuberikan pada mereka. Bukan aku jahat, aku pun sama. Aku selalu membedakan beberapa jawaban dari milik Dion.

__ADS_1


Apapun harus adil. Dion yang berpikir dan belajar keras, Dion jugalah yang harus mendapat nilai lebih tinggi dari kami.


__ADS_2