
"M, kamu kenapa ambil keputusan kaya gitu?"
Tanya Dion.
"Karena doa dari orangtua berpeluang besar dikabulin Tuhan. "
Jawabku.
"Buktinya Kakakku baik-baik aja."
Ucapnya.
"Iya, tapi kita jangan begitulah, segala sesuatu bisa dibicarain Yon. Jangan gara-gara ego kita, kita dihantui kesalahan seumur hidup"
Jawabku bijak.
"Bangga sama kamu, Emang aku gak pernah salah milih kamu dari pertama kita ketemu."
Ucap Dion sambil mengusap kepalaku.
"Aku juga gak pernah salah milih minta contekan PR ke kamu, bukan ke Andy atau Nando. Hehehe"
Kataku mengingat kenangan kami dulu waktu di SMA.
"Terus kita seminggu disini ngapain ya?"
Tanya Dion bingung karena kami sudah terlanjur mengambil cuti satu minggu.
"Kan aku udah bilang, aku akan dapet restu. Kita bakal pulang bawa restu dari mami mu."
Jawabku dengan percaya diri.
Aku menginap di rumahnya, tidur di kamar tamu bersama Edward. Mba susan tidur dikamar lainnya.
Pagi-pagi sekali aku ikut menyiapkan sarapan bersama Bu Sri asisten rumah tangga di rumah ini. Aku banyak bertanya tentang makanan kesukaan tiap orang di rumah ini.
"Kalo bapak sukanya gulai kemba'ang, ibu suka tempoyak, kalo mas Dion dari kecil sukanya opor ayam."
Kata Bu Sri memberitahuku kesukaan penghuni rumah ini. Bahkan aku baru tahu Dion menyukai opor ayam.
Aku membantu Bu Sri menyajikan makanan diatas meja makan.
Lalu mami, papi, Dion dan Gery adiknya berkumpul untuk sarapan.
"Duduk sini M sebelah aku."
Dion mempersilahkanku untuk ikut makan.
"Kamu ikut masak Em?"
Tanya papi Dion yang ikut memanggilku M seperti Dion.
"Cuma bantu sedikit aja, pak".
Jawabku merendah.
Mami Dion hanya diam saja. Sampai ketika Edward datang dari kamar dan mencari Dion, bukan aku.
__ADS_1
"Huuuu... Papa Yon"
Edward menangis dan meminta Dion mengangkatnya.
"Ed mau makan?"
Tanya Dion pada Edward.
"Sini mama suapin."
Kataku pada Ed.
"Tidak, Ed mau cama papa Yon".
Edward merengek agar disuapi Dion.
"Tuh liat sendiri kamu, repot kan urus anak orang? Mendingan cari yang single. Kaya gak laku aja kamu."
Mami Dion berbicara ketus.
"Dari umur tiga bulan Edward kehilangan papanya,Mi. Makanya dia deket sama Dion."
Jawab Dion.
"Nyesel mami dulu biarin kamu ikut kakakmu. Kamu ketemu perempuan ini di SMA kan?"
Tanya nya sambil menunjukku dengan garpu.
"Mami tuh kenapa sih? Di meja makan kok ribut?"
Papi Dion dengan lembut menengahi.
Ucap mami Dion sembari meninggalkan meja makan.
"Maafin maminya Dion ya Em."
Ucap papi Dion padaku.
"Saya yang minta maaf pak buat keributan disini."
Jawabku.
Aku membawa Ed kembali ke kamar, Dion mengikuti kami.
"M, kita pulang sekarang aja."
Kata Dion menahan marah.
"Gak Yon, kita harus sabar. Tunggu sampai mami mu luluh ya."
Jawabku menguatkan Dion.
"Susah banget jalanku untuk dapetin kamu. Sekarang udah dapet, mami ngehalangin."
Keluh Dion sambil merebahkan tubuhnya.
"Gak ada jalan yang mulus, Yon. Selalu ada bagian yang gak sempurna. Aku dan Gerald segala sesuatunya berjalan mulus sampai kami punya Edward, tapi dia hilang gak tau kemana. Kamu dan Martha di restui tapi gak saling mencintai. Everything is IMPERFECT."
__ADS_1
Ucapku menyemangati diri sendiri dan Dion.
Dion menoleh ke arahku dan bertanya
"Kalo Gerald balik lagi, kamu akan pilih aku atau dia?"
Tanyanya
"Aku akan tanya sama Ed."
Jawabku enggan berpikir tentang itu.
"Aaarrrghhh"
Mami berteriak dari dalam kamar.
Kami berlari melihat apa yang terjadi. Ternyata Edward mengganggunya. Ia mengacak meja rias mami Dion.
"Ed!"
Bentakku agar Edward keluar. Edward menangis mendengar aku memarahinya.
"M, stop! Ed masih kecil."
Dion membela Edward.
"Ayo minta maaf, Ed"
Perintahku sambil merapikan peralatan make up yang berserakan dan mengembalikannya ke atas meja.
"Hu..hu.. maaf Ed oma.. Ed mau main cama Oma"
Kata Edward sembari menangis.
Aku tak tega melihatnya menangis. Setelah aku dan Edward meminta maaf, kami kembali ke kamar dan mengunci pintu. Aku sedih bayi kecilku yang tak tahu apa-apa menanggung kebencian maminya Dion terhadapku.
Tok tok tok
"M, tolong buka."
Dion mengetuk pintu kamar dan aku berpura-pura tak mendengar.
Aku tak mau Dion melihatku menangis. Aku tak mau Dion bermusuhan dengan ibunya.
"Ma, Ed main ya cama papa Yon."
Ed meminta izin dariku.
"Ed bobo dulu, nanti bangun tidur main lagi sama papa Dion".
Rayuku, tak lama Edward tertidur.
M kan aku udah bilang kita pulang sekarang ya. Kamu kemasi sekarang barang-barang mu.
Pesan singkat dari Dion yang tak berhasil membuatku membuka pintu.
Tunggu lima hari lagi, Yon.
__ADS_1
Balasku.